
MNOL, Jakarta – Sejarah merupakan kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan dari berbagai peristiwa. Dalam perjalanan sebuah bangsa tentunya sejarah memiliki arti yang sangat penting.
Tidak terlepas dalam pembangunan maritim Indonesia, bangsa ini juga haru berangkat dari sejarah. Hal itu ditegaskan oleh Sekjen Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakhri kepada maritimnews saat memperingati Hari Maritim Nasional yang jatuh pada hari ini 23 September 2016.
“Dari sejarahlah kita akan mengetahui berbagai peristiwa masa lampau yang telah terjadi. Dengan mengetahui sejarah tentunya kita akan memiliki pijakan untuk dapat melakukan sebuah pembangunan maritim,” ungkap Ahlan.
Dia menyayangkan bila ada yang memperingati Hari Maritim tanggal 21 Agustus, karena menurutnya hal itu merupakan peringatan cacat sejarah yang akan membahayakan generasi bangsa Indonesia ke depannya dalam membangun bidang maritimnya.
“Munculnya tanggal 21 Agustus sebagai Hari Maritim merupakan kesesatan yang muncul dipublik tanpa bukti otentik yang bisa dipertangung jawabkan,” tambah dia.
Lebih lanjut, lulusan Perkapalan UNDIP ini menjelaskan bahwa dengan berfondasikan sejarah, bangsa ini akan memiliki arah dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang. Mengutip pernyataan Bung Karno, ‘Jas Merah’, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, Ahlan mengingatkan pentingnya menggali lebih dalam tentang sejarah kemaritiman Indonesia.
“Dalam membangun maritim Indonesia, sejarah memiliki andil penting dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi. Polemik agenda Hari Maritim Indonesia menjadi salah satu agenda yang cukup santer dibicarakan,” ulasnya.
Sambungnya, jika kita mempelajari sejarah maritim nasional secara benar maka kita membuka kembali Surat Keputusan No 249 tahun 1964. Surat itu berisi bahwa Presiden Soekarno menetapkan 23 September menjadi Hari Maritim Nasional.
Hal ini menjadi sahih karena saat itulah Musyawarah Maritim pertama kali yang digelar di sekitar Tugu Tani saat ini.
Tentunya ini menjadi sebuah polemik di era maritim. Beber Ahlan, perlu banyak ahli-ahli sejarah mengeluarkan statement mengenai Hari Maritim Nasional.
“Dengan kesesatan sejarah yang ada menandakan dalam pembangunan maritim Indonesia saat ini tidak berpijak pada sejarah yang ada. Para sejarawan harus berkomentar karena ini penting agar bangsa ini tidak tersesat,” selorohnya.
“Hari ini sebagai Hari Maritim Nasional perlu banyak dipublikasi dan diperingati dengan massif agar masyarakat luas tahu yang sebenarnya mengenai Hari Maritim Nasional,” tandas Ahlan.
Masih kata dia, bagaimana ingin membangun maritim jika sejarah musyawarah maritim pertama kita lupakan. “Ini menjadi evaluasi sekaligus koreksi bagi seluruh elemen bangsa,” tegasnya.
Harapannya dengan masifnya berbagai publikasi mengenai Hari Maritim Nasional, menjadikan bangsa ini lebih kenal dengan sejarah maritimnya.
“Selamat Hari Maritim Nasional ke-53, 23 September 1963 – 23 September 2016. Jayalah Maritim Indonesia,” tutup Ahlan. (Tan)






