Published On: Tue, Mar 29th, 2016

Berikut Catatan tentang Kejayaan Maritim Kerajaan Nusantara

Oleh: Sahat Martin Philip Sinurat*

Peta Kerajaan Sriwijaya masa Raja Balaputradewa

Peta Kerajaan Sriwijaya masa Raja Balaputradewa

MNOL – Pada zaman kerajaan–kerajaan di Nusantara dan zaman sebelumnya, kehidupan masyarakat pada dasarnya bertumpu pada pertanian dan kegiatan yang bersifat agraris. Beberapa komoditas yang dihasilkan di Nusantara antara lain kapur barus, merica, pala, cengkeh, nila, mur, borax, kesturi, dan emas. Produksi komoditas ini tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Maluku dan Papua (Nugroho, 2010). Masyarakat Indonesia pada masa itu kemudian memanfaatkan laut untuk mengangkut berbagai hasil bumi ini ke wilayah Nusantara lainnya ataupun ke India, Afrika, dan Cina.

Beberapa penemuan di beberapa negara di Asia dan Afrika menunjukkan adanya peninggalan dari masyarakat Nusantara yang diperkirakan sudah berumur ribuan tahun. Peninggalan arkeologi ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia saat itu sudah memiliki ilmu dan teknologi perkapalan serta navigasi yang baik sehingga mampu menyeberangi Samudera Hindia hingga ke Semenanjung India bahkan sampai ke Timur Tengah dan Afrika. Hal ini menunjukkan masyarakat Nusantara saat itu sudah mampu mengintegrasikan pengelolaan wilayah darat, pesisir, dan laut sehingga aktivitas di ketiga wilayah dapat saling mendukung satu sama lainnya.

Beberapa kerajaan Nusantara dengan kultur peradaban maritim antara lain Kerajaan Kutai (abad ke-4), Sriwijaya (tahun 600an-1000an), Majapahit (1293-1500), Ternate (1257-sekarang), Samudera Pasai (1267-1521), dan Demak (1475-1548). Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit tercatat sebagai kerajaan-kerajaan Nusantara yang pada zaman keemasannya menjadi adidaya karena karakter kemaritiman yang tertanam pada masyarakat.

Pada kuartal ketiga abad ke-12, seorang penulis Cina mengatakan, “Dari semua kerajaan asing yang kaya raya sekaligus memiliki simpanan barang-barang berharga dan banyak macamnya, tidak ada yang melebihi bangsa Ta-Shih (Arab). Posisi kedua ditempati oleh She-p’o (Jawa/Majapahit), sementara San-fo-chi (Sriwijaya) di tempat ketiga. Marco Polo, seorang pedagang dan penjelajah Italia juga menyatakan tentang Nusantara, “Jumlah emas yang dikumpulkan di sana lebih banyak daripada yang dapat dihitung dan hampir tak dapat dipercaya. Kemudian, dari tempat itulah para pedagang dari Zai-tun (Hangzhou, Cina) dan Manji mengimpor logam mulia, yang menurut ukuran impor masa kini, jumlahnya sangat besar.” (Nugroho,2010).

Sejak Kerajaan Kutai, masyarakat Indonesia sudah memanfaatkan laut untuk aktivitas perdagangan dan pelayaran. Dengan teknologi yang ada saat itu, para penduduk melakukan kegiatan niaga antar pulau, kerajaan, bahkan berlayar hingga pulau yang jauh seperti Sri Lanka dan Madagaskar. Kultur bahari dan maritim ini kemudian terlihat juga dalam aktivitas kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya. Kerajaan Sriwijaya di zaman keemasannya memiliki pelabuhan internasional yang besar dan menguasai perdagangan dan pelayaran di wilayah barat Indonesia hingga Semenanjung Malaya.

Berbeda dengan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sunda di wilayah Jawa Barat dan Banten saat itu tidak memiliki kultur bahari dan maritim yang kuat. Masyarakat di kerajaan ini umumnya melakukan aktivitas pertanian sebagai mata pencahariannya. Hal ini dikarenakan kuatnya armada maritim Kerajaan Sriwijaya saat itu yang kemudian secara berangsur-angsur diambil-alih oleh kekuatan maritim Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit menjadi pusat kerajaan maritim Nusantara yang berperan melindungi jalur perdagangan laut sebagai jalur utama perdagangan dan menghilangkan ancaman jalur laut di sepanjang wilayah laut Nusantara hingga kawasan di sekitarnya. Armada laut Majapahit sangat besar di masa itu. C.R. Boxer, profesor sejarah dari Inggris mencatat total jumlah kapal yang dimiliki VOC pada tahun 1650, 1674, dan 1704 sebanyak 74 kapal, 124 kapal, dan 81 kapal. Kapal ini dibutuhkan untuk memonopoli komoditas internasional di Nusantara.

Kerajaan Ternate yang terdapat di wilayah Maluku Utara saat ini memiliki sumber daya rempah-rempah yang dikenal mancanegara hingga ke Benua Eropa. Untuk mendukung aktivitas perdagangan rempah-rempahnya, Kerajaan Ternate membangun pelabuhan dan galangan kapal di beberapa pulau utamanya. Terdapat juga pelabuhan pendukung di beberapa pulau kecil yang bertujuan untuk membawa hasil bumi dari pulau-pulau kecil ini ke pelabuhan utama.

Aktivitas perdagangan dan pelayaran Kerajaan Ternate serta kerajaan-kerajaan lain di Nusantara pada abad 11 hingga abad 14 terintegrasi dengan aktivitas maritim Kerajaan Majapahit. Terjalin hubungan yang baik dan perjanjian di antara kerajaan-kerajaan ini dimana Kerajaan Majapahit dipercaya untuk melindungi dan mengontrol jalur perdagangan dan pelayaran yang ada di wilayah Nusantara.

Besarnya armada Majapahit memudahkan untuk mengontrol pelabuhan-pelabuhan yang mengganggu aktivitas bisnisnya. Majapahit membutuhkan armada agar mampu untuk membeli dan menjual komoditas utama perdagangan dunia dalam partai besar, melarang negara lain membuat armada besar, mengatur seluruh perdagangan laut dalam kontrol Majapahit, dan menjaga mitranya agar tidak langsung berhubungan dengan produsen.

Kerajaan Samudera Pasai yang berada di ujung barat Nusantara memiliki peranan yang penting sebagai bandar pelabuhan kapal-kapal yang hendak menuju Nusantara ataupun sebaliknya. Peranan penting ini terutama terjadi karena menurunnya kekuatan maritim Kerajaan Sriwijaya yang juga terdapat di wilayah Sumatera. Namun aktivitas maritim Kerajaan Samudera Pasai masih berada di bayang-bayang Kerajaan Majapahit yang saat itu merupakan kerajaan maritim Nusantara terbesar. Sejak merosotnya kekuatan Kerajaan Majapahit karena konflik internal dan eksternal, Kerajaan Samudera Pasai membuat kebijakan maritim sendiri dan tidak lagi bergantung kepada Kerajaan Majapahit. Kerajaan Samudera Pasai menguasai aktivitas perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka hingga tahun 1521.

Kerajaan Majapahit tidak memonopoli sendiri penguasaan pelabuhan yang ada di setiap daerah Nusantara. Pelabuhan yang ada di setiap daerah Nusantara dikelola oleh kerajaan masing-masing dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung untuk memperlancar perdagangan antar kerajaan dan daerah. Setiap kerajaan saling bekerjasama dalam melakukan aktivitas perdagangan dan pelayaran. Kerjasama ini juga dilakukan ketika terdapat ancaman dari luar Nusantara yang hendak menyerang salah satu kerajaan di Nusantara. Kerjasama yang baik di antara kerajaan-kerajaan ini yang membuat aktivitas perdagangan dan pelayaran masyarakat Nusantara saat itu bisa kuat dan disegani mancanegara.

 

*Penulis adalah Peneliti di Centre for People Studies and Advocation (CePSA)

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha