Masalah Papua Tidak Perlu Campur Tangan Asing
Keterlibatan Luar Negeri tentu akan menjadi boomerang bagi penyelesaian masalah di Papua, karena mereka belum tentu memahami permasalahan Papua secara menyeluruh.
Keterlibatan Luar Negeri tentu akan menjadi boomerang bagi penyelesaian masalah di Papua, karena mereka belum tentu memahami permasalahan Papua secara menyeluruh.
Perbedaan suku maupun warna kulit tentu tak bisa menjadi alasan untuk tidak bersatu, ucapan dari ‘Sabang sampai Merauke’ yang dengan tegas menunjukkan kedaulatan NKRI jangan sampai berubah. Artinya dengan kita menjaga orang Papua, maka kita juga telah menjaga orang Indonesia.
Pelaku rasisme dan provokator kerusuhan harus bersiap untuk mempertanggungajawabkan segala tindakannya. Selain menimbulkan gejolak masyarakat dan menimbulkan kebencian, aksi tersebut dapat meningkatkan sentimen SARA yang dapat menimbulkan disnitegrasi bangsa.
61 Tokoh Papua dan Papua Barat bertandang ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 10 September 2019. Adapun ke–61 tokoh tersebut terdiri dari tokoh adat, agama, kepala suku, aktifis hingga akademisi. Pertemuan ini adalah upaya konkret Pemerintah dalam menyerap apirasi masyarakat dan mewujudkan perdamaian pasca kerusuhan di Papua.
Dalam upaya mengakomodasi aspirasi masyarakat Propinsi Papua dan Papua Barat, Presiden Joko Widodo telah menugaskan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Tito Karnavian dan Kepala BIN Budi Gunawan untuk membuka seluruh ruang dialog di Papua. Pertemuan ini diharapkan menjadi gerbang baru dalam menyelesaikan persoalan Papua.
Berdasarkan Pepera, Papua resmi menjadi bagian NKRI sah dan final. Yang mana tak ada yang bisa mengganggu gugat keputusan ini. Mengingat keabsahanya telah diakui masyarakat Internasional juga negara-negara sahabat.
Aparat keamanan tetap bersinergi dengan seluruh komponen terkait, Bahara mengatakan bahwa masyarakat jangan sampai terpengaruh dengan selebaran, isu–isu dan berita hoax, aktifitas masyarakat di Papua juga telah berjalan dengan baik dan lancar tanpa gangguan yang berarti.
Kemerdekaan Papua hanya menjanjikan kebahagiaan semu, sehingga tak ada jaminan kesejahteraan sedikitpun bagi warga Papua yang memilih untuk menjadi simpatisan kelompok separatis di Papua.
Sekali lagi, mereka yang terus-menerus meneriakkan kemerdekaan Papua lewat referendum tidak punya niat baik. Pisah dari NKRI bukanlah solusi. Mayoritas masyarakat Indonesia masih menyayangi Papua begitu sebaliknya.
Tidak benar jika ada anggapan bahwa Papua adalah anak tiri dari NKRI.