Categories: TNI AL

Fregat Kelas Ahmad Yani, Pengabdian Tak Lekang Waktu (2)

Fregat Kelas Ahmad Yani

Maritimnews, Jakarta – Dalam sejarah kemiliteran Indonesia, nama fregat  kelas Ahmad Yani tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Meski sudah berusia lanjut namun kemampuan kapal–kapal perang jenis fregat dari kelas ini masih terus dipercaya dan sudah ditingkatkan kemampuannya. Secara teknis kapal permukaan memang bisa berusia sangat panjang. Tetapi hal ini tergantung pada perawatan dan peningkatan sistem maupun alat kerja yang terkandung di dalamnya, seperti propulsi, sistem sensor, manajemen tempur, atau pun kemampuan senjata.

Pada awal penggunaannya, saat masih digunakan oleh Angkatan Laut Kerajaan Belanda, fregat jenis ini menggunakan penggerak sepasang mesin turbin uap yang mampu menyemburkan daya hingga 30.000 shp. Dengan daya sebesar itu, fregat jenis ini mampu melaju hingga 28 knots atau 52 km/jam.

Sisi kecepatan merupakan poin penting yang pada harus dimiliki oleh fregat jenis ini pada awal pembuatannya. Hal ini dikarenakan fregat jenis ini di masa perang dingin dahulu berfungsi sebagai pemburu kapal selam. Karakteristik mesin turbin uap sendiri cenderung berat, relatif boros bahan bakar, memerlukan ruang yang relatif besar dalam penempatan mesin dan sistem pendukungnya, serta terdapat kecenderungan sulit dalam perawatannya.

Pada tahun 2003 yang lalu, TNI AL mulai melakukan pembaharuan pada seluruh kapal perang jenis fregat kelas Ahmad Yani ini yang dimulai dengan mengganti sistem propulsi. Dimulai dengan KRI Karet Satsuit Tubun 356 yang diganti mesinnya dengan mesin Diesel Caterpillar CAT DITA. Lalu disusul setelahnya dalam rentang waktu tahun 2007 hingga 2008 ke seluruh kapal jenis fregat dalam kelas Ahmad Yani ini juga diganti mesinnya dengan mesin tersebut, terkecuali KRI Oswald Siahaan 354 yang menggunakan mesin SEMT Pielstick.

Dengan pembaharuan ini, kemampuan fregat kelas Ahmad Yani yang dimiliki oleh TNI AL mengalami peningkatan. Daya jelajah menjadi lebih jauh karena bahan bakar yang jauh lebih irit, akselerasi maupun kelincahan kapal juga menjadi lebih baik akibat respon semburan tenaga mesin diesel lebih cepat dibanding mesin turbin uap. Meskipun, dari sisi kecepatan menurun sehingga hanya menjadi 24 knots atau 45 km/jam. (AC)

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

PMT Port Visit melalui Onboarding Budaya Perusahaan

Belawan (Maritimnews) - PT Pelindo Multi Terminal atau PMT memberikan pengalaman awal dunia kerja kepada…

35 minutes ago

Kebakaran Kontainer di NPCT1 Cepat Dipadamkan, Tidak Ada Korban

Jakarta (Maritimnews) - New Priok Container Terminal One (NPCT1) berhasil menangani kebakaran yang terjadi pada…

1 day ago

Breakfast With Leader Pelindo 4 Hadapi Perubahan Pelabuhan dan Streamlining

Makassar (Maritimnews) – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 memperkuat komunikasi internal dan keterlibatan pegawai…

2 days ago

IPC TPK Raih Dua Penghargaan TOP GRC Awards 2026

Jakarta (Maritimnnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menerima dua penghargaan dalam ajang TOP GRC…

2 days ago

Kinerja Positif IPC TPK Hingga Agustus 2026, Tumbuh 8,37 Persen

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) kembali mencatatkan tren kinerja operasional yang positif…

2 days ago

TPS Perkuat Komitmen ESG Melalui Konversi Kendaraan Operasional Berbasis Listrik

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus memperkuat komitmennya terhadap operasional pelabuhan yang…

4 days ago