MNOL-Jakarta, Perkembangan teknologi di bidang pengolahan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan semakin cepat berkembang. Namun sayangnya, seiring pertumbuhan kapitalisme, perkembangan teknologi pun harus mengikuti selera investor.
Coba bayangkan, mobil dengan teknologi power window baru muncul di pasaran pada akhir tahun 1970. Bahkan mobil hibrida elektrik yang sudah bisa kita saksikan di pameran, belum kita temukan dipasaran. Padahal kebutuhan akan hal tersebut sudah sangat mendesak seiring dengan krisis energi.
Tentu banyak orang mempertanyakan apa benar ini krisis? Jika memang benar mengapa para stakeholder di bidang ini masih tergantung pada minyak dan listrik. Bahkan di sektor kelistrikan sudah terdapat teknologi nirkabel yang tentunya lebih efisien. Namun mengapa justru para pejabat masih sibuk berdebat tentang pembangkit listrik.
Ini menunjukkan bahwa kedaulatan rakyat di listrik telah diobok obok oleh berbagai kepentingan, sehingga teknologi harus disesuaikan dengan selera investor.
Bandar Lampung (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan daya saing sekaligus penguatan infrastruktur bongkar muat, IPC…
Korido (Maritimnews) - Dalam rangka memperkuat konektivitas wilayah Terdepan, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan (3TP) dan…
Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) terus memperkuat kapasitas komunikasi korporasi di tengah tantangan…
Jakarta (Maritimnews) - Akselerasi digitalisasi untuk mewujudkan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Koperasi Karya Sejahtera…
Surabaya (Maritimnews) - PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)…
Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang semakin moncer setelah kehadiran Quay…