Categories: HLOpini

Selat Malaka, Terusan Kra dan Ancaman Gagalnya Poros Maritim Dunia

 

Oleh: Rayla Prajnariswari B.K,*

Peta Selat Malaka dan Terusan Kra

MNOL – Selat Malaka menghubungkan Samudera Hindia dengan Laut China Selatan, dengan panjang 550 mil dan menyinggung tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia , dan Singapura. Secara hukum selat Malaka di bawah kontrol tiga negara tersebut dan merupakan selat tersibuk di dunia.Gerak ekspor impor lewat laut menjadi aktivitas yang penting di selat ini, terutama bagi Indonesia yang memiliki sebagian besar wilayah selat Malaka.

Selat Malaka merupakan jalur pelayaran dan jalur perdagangan internasional paling sibuk kedua di dunia setelah Selat Hormuz dengan 40 persen pelayaran dari perdagangan dunia melewati selat ini. Dengan posisi tersebut, Indonesia banyak disebut sebagai jantung maritim di Asia. Untuk itu, seluruh aktivitas Indonesia menjadi salah satu bagian dari sorotan dunia.

Letak Indonesia yang terletak ditengah jalur perlintasan dan memiliki selat Malaka sebagai jalur perdagangan tersibuk kedua di dunia menunjukan banyak bukti bahwa Indonesia memiliki posisi menentukan kelangsungan sistem maritim dunia atau sebagai negara yang sangat berpotensi menjadi poros maritim dunia. Mengetahui bahwa pelayaran dan perdagangan adalah pokok utama dari sistem maritim dunia yang semakin terintegrasi, dengan pelayaran sebagai pokok instrumennya, bagaimana jika ada sebuah jalur alternatif yang lebih efisien?

Adalah Terusan Kra sebagai alternatif yang sangat memungkinkan. Sedikit tentang Terusan Kra atau “Kra isthmus in Thailand” bukanlah hal yang baru. Terusan Kra merupakan sebuah proposal proyek yang telah diinisiasi sejak tahun 1677 di Siam, Thailand. Proyek tersebut gagal dikarenakan beberapa faktor yaitu kurangnya dana dan kemampuan teknologi, permasalahan politik dalam negeri di Thailand, dan pertimbangan intervensi negara-negara besar pada saat ini.

Dalam letak jalurnya, Terusan Kra menghubungkan Laut China Selatan dengan Samudera Hindia untuk memberikan jalur yang lebih pendek dan cost jalur navigasi yang lebih efisien. Jika Proyek ini berhasil, tanpa perlu melalui Selat Malaka, maka Terusan Kra dapat memperpendek jalur transportasi yang biasanya melalui selat Malaka .

Terusan Kra

Implikasi dari terusan kra tidak hanya bagi Malaysia dan Singapura, bagi Indonesia dari sisi geopolitik adalah bahwa ada kemungkinan Terusan Kra akan menjadi navigasi, perdagangan dan permainan pergeseran geopolitk maritim di Asia di mana sebelumnya posisi tersebut dipegang oleh Indonesia. Terusan Kra akan menawarkan jalur laut alternatif antara asia dengan timur tengah dan Eropa tanpa melewati Selat Malaka sebagai poros jalur maritim di Asia untuk perdagangan dunia. sedangkan Selat Malaka merupakan jantung maritim dan daya tawar Indonesia mewujudkan poros maritim dunia.

Potensi Terusan Kra

Melihat banyaknya potensi Terusan Kra terutama dalam penggunaan rute yang lebih efisien dalam pertimbangan banyak hal seperti cost dan jalur yang lebih pendek dalam menggunakan sebagai rute jalur pelayaran yang berdampak pada kinerja perdagangan negara, urgensi dan keinginan yang lebih kemudian memungkinkan negara-negara berkepentingan terutama negara-negara besar berlomba untuk mendukung dan mengamankan jalur tersebut.

Beberapa negara tersebut adalah misalkan China. Negeri Tirai Bambu itu telah mengupayakan Terusan Kra menjadi bagian dari inisiatif Maritime Silk Road China. Tahun 2015, China dan Thailand bahkan telah melaksanakan MoU di Guangzhou, China dengan bantuan dana yang ditawarkannya senilai US$28 miliar dan diperkirakan proyek tersebut diselesaikan dalam estimasi waktu 8 hingga 10 tahun.

Upaya China ini bertujuan untuk memiliki jalur baru yang dapat menghubungkan rute perdagangan langsung yang lebih efisien dengan mitra perdagangan ke Eropa. Bagi Thailand sendiri, ini merupakan kesempatan yang baik untuk menjadi regional maritim terkemuka untuk dapat melebihi Malaysia , Singapura atau bahkan Indonesia. Adapun Vietnam, yang akan mendukung Terusan Kra yang akan mengembangkan pelabuhan air pendukung bernama pelabuhan Hon Khoai berjarak 17 km di lepas Pantai Ca Mau di bagian selatan Vietnam.

Skenario yang memungkinkan Terusan Kra akan mendapat dukungan internasional adalah banyaknya kasus pembajakan dan perompakan yang terjadi di selat Malaka . Tingginya tingkat kejahatan di laut seperti pembajakan dan perompakan akan menjadi alasan peralihan jalur maritim tersebut, terlebih Indonesia merupakan sumber terbesar munculnya kejahatan laut di Selat Malaka .

Lalu menjadi pertanyaan adalah bagaimana mewujudkan poros maritim dunia yang berdimensi jangka panjang? Sebagaimana yang disampaikan Presiden RI bahwa visi prioritas Indonesia adalah menjadi negara poros maritim dunia yang dituangkan dalam target Indonesia ke depan. Keinginan politis yang kuat untuk membawa Indonesia ikut menjadi negara kunci dalam dinamika hubungan internasional dunia.

Dalam artian bahwa di perairan Indonesia (dalam hal ini selat Malaka ), adanya Terusan Kra tidak hanya mengancam secara ekonomi yang berkaitan dengan industri maritim, ancaman politik adanya Terusan Kra dapat mengancam bergaining position Indonesia sebagai gerbang utama “Center of Gravity” masuknya jantung ekonomi politik maritim Asia.

Di sisi lain, ini merupakan pekerjaan rumah yang perlu diteruskan sebagai bahan pertimbangan untuk merumuskan bagaimana strategi dan kebijakan maritim bagi Indonesia ke depan. Implikasi dari Terusan Kra harus menjadi aspek penting yang perlu dilihat sebagai ancaman langsung akan gagalnya agenda prioritas visi poros maritim dunia Presiden RI ke depannya.

Maka strategi untuk mewujudkan poros maritim dunia perlu dirumuskan dalam bingkai isu kemaritiman sebagai perwujudan visi nasional yang berdimensi global.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Bidang Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair).

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Uji Emisi di Tanjung Priok, Pelindo Ajak Ekosistem Pelabuhan Jaga Lingkungan

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mendorong kolaborasi pengendalian emisi kendaraan di…

4 hours ago

Sosialisasi Perkuat Ekosistem Vendor Pelindo Regional 4

Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memperkuat ekosistem vendor di wilayah Regional…

5 hours ago

Semester I 2026, Arus Barang PMT Tumbuh 10,85 persen

Medan (Maritimnews) – PT Pelindo Multi Terminal (PMT), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang…

16 hours ago

FSP BUMN Bersatu Dukung RUU Ketenagakerjaan, Adaptif Dengan Perubahan Ekosistem Berusaha

Jakarta (Maritimnews) – Dalam rangka pemenuhan keputusan MK soal pembentukan RUU Ketenagakerjaan, para Pimpinan DPR…

23 hours ago

Aksi Damai Aliansi Pekerja Tanjung Perak di depan Pengadilan Tipikor Surabaya

Surabaya (Maritimnews) - Aliansi Serikat Pekerja Tanjung Perak menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan terhadap…

1 day ago

FSP BUMN Bersatu Memohon Putusan Bebas Murni Bagi 6 Karyawan PT APBS Pelindo

Jakarta (Maritimnews) – Enam terdakwa perkara dugaan korupsi proyek pengerukan alur pelayaran yang berkaitan dengan…

2 days ago