Bangun Poros Maritim dengan Sinergi Konsep Kereta Cepat Jakarta – Surabaya dengan Dry Port

Cikarang Dry Port

MNOL, Jakarta – Terkait Pelabuhan kering (dry port) dengan pembangunan kereta cepat Jakarta – Surabaya, Menteri Luhut mengatakan bahwa jalur kereta semi cepat ini bukan hanya akan digunakan untuk angkutan penumpang, tetapi juga akan mengintegrasikan jalur tersebut dengan beberapa lokasi pelabuhan kering untuk mengangkut pengiriman barang dari Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya.

Sejatinya hal itu diperuntukan dalam perwujudan visi luhur poros maritim dunia yang digagas Presiden Jokowi, di mana infrastruktur maritim menjadi pilar utama dalam pencapaian visi tersebut.

Menjawab pertanyaan tentang konsep pelabuhan kering, Menko Maritim mengatakan bahwa pihaknya berniat menjadikan pelabuhan kering Cikarang sebagai percontohan dalam skema bongkar muat barang. “Nanti pembangunannya kami serahkan ke swasta saja,” ungkap Luhut.

Dry port yang di Cikarang itu jadi model karena (mereka) bagus,” ujarnya sambil mengakui pembangunan pelabuhan kering di Indonesia terlambat.

Menurutnya, seharusnya ada beberapa lokasi yang diperuntukkan bagi pembangunan pelabuhan kering di Jakarta, seperti di wilayah Cempaka Putih. Namun sayangnya, di lokasi tersebut saat ini malah digunakan untuk lahan properti.

Menko Luhut mengatakan jika skema bongkar muat barang di Cikarang berjalan baik hingga enam bulan sejak dimulainya pada tanggal 1 Desember nanti, maka pemerintah akan menyusun rencana pembangunan pelabuhan kering di sejumlah lokasi.

“Rencananya akan dibangun di daerah barat di Tangerang dan di Bogor untuk daerah selatan,” katanya, seraya mengatakan pemerintah sekarang masih menyusun standar pelayanan dan harga.

Larangan Ekspor Biji Nikel dan Bauksit

Pada kesempatan tersebut Menko Luhut juga menegaskan pemerintah melarang ekspor biji nikel dan bauksit mulai tahun depan. “Revisi PP No.1/2014 tentang minerba kita kaji benar. Saya minta angkanya dilihat, tapi kita temukan dua hal bahwa nikel dan bauksit tidak perlu diekspor,” ujar Menko Luhut.

Tutup Luhut, dia mengatakan cadangan yang jumlahnya sangat besar di Indonesia akan dimanfaatkan di dalam negeri untuk memproduksi produk turunannya seperti stainless steel atau karbon.

“Dampaknya, nantinya alat elektronik yang kita pakai tidak perlu lagi impor, kita sudah bisa produksi sendiri,” pungkas Menko Luhut. (Tan)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Pangkas Entitas, Model Pengelolaan jadi Active Management

Jakarta (Maritimnews) - Badan Pengaturan (BP) BUMN dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memutuskan…

3 hours ago

TPS dan PSL Hadirkan Dua Unit Container Scanner

Surabaya (Maritimnews) - Komitmen PT Pelindo Sinergi Lokaseva (PSL) dan PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS)…

1 day ago

Sambut Pelindo Day, Makassar Gelar Turnamen Padel

Makassar (Maritimnews) - Dalam rangka menyambut Pelindo Day, yang diperingati setiap 1 Oktober, PT Pelindo…

2 days ago

Survey IDM: 89,3% Pengguna Puas, Layanan Pelindo Dinilai Cepat, Andal, dan Berorientasi Pelanggan

Selamat Hari PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) tanggal 1 Oktober 2026 untuk usia kelima tahun. Terus…

2 days ago

TPS Tingkatkan Kepedulian terhadap Pengemudi Truk

Surabaya (Maritimnews) - PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kepada seluruh…

2 days ago

Hingga Agustus 2026, Throughput Petikemas dan Kargo Tumbuh di Pelindo Regional 2

Jakarta (Maritimnews) - Aktivitas kepelabuhanan di wilayah kerja Pelindo Regional 2 mengalami pertumbuhan hingga Agustus…

3 days ago