Categories: HLSejarahTerbaru

Kisah Shodanco Supriyadi di Tepi Laut Selatan

Ilustrasi – Supriyadi dan Nyi Roro Kidul (Gambar: Ahmad Rahanyamtel/MN)

MN – Pada 14 Februari 1945, beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, di Blitar terjadi peristiwa penting dalam perjalanan sejarah kemiliteran nasional. Di hari itu, meletus perlawanan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) Blitar di bawah pimpinan Shodanco Muradi dan Shodanco Supriyadi.

Kedua Perwira jebolan Pendidikan Komandan Peleton PETA di Bogor itu merupakan inisiator sekaligus penggalang pasukan PETA dan rakyat Blitar untuk melawan Jepang. Penyebabnya, karena sudah tidak tahan melihat penderitaan rakyat akibat kekejaman tentara Jepang.

Dalam tempo kurang dari 3 hari, tentara Jepang berhasil melumpuhkan pasukan yang baru mengenyam pendidikan militer itu. Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Blitar ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili di Jakarta.

Enam orang salah satunya Shodanco Muradi divonis hukuman mati di Ancol pada 16 Mei 1945, enam orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai tingkat kesalahan.

Namun sosok Shodanco Supriyadi hilang secara misterius pasca peristiwa tersebut. Silang pendapat di antara beberapa sumber soal nasib Supriyadi menjadi daya tarik tersendiri. Terutama saat kemunculan Andaryoko, sosok yang mengaku sebagai Supriyadi pada tahun 2008 silam.

Beberapa sumber menyebutkan, Supriyadi merupakan pemuda yang sering melakukan laku prihatin dan banyak tirakat dalam hidupnya. Sehingga menurut kepercayaan Jawa, Supriyadi adalah orang sakti yang moksa (menghilang) saat menemui ajalnya.

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku ‘Api Sejarah, sebelum melakukan perlawanan, Supriyadi memohon restu pada Kiai Ngabdullah Chatib dan Kiai Mohammad Cholil (dua ulama ternama di Blitar). Dari dua kiai inilah dibacakan doa untuk keselamatan dirinya menjelang perlawanan terhadap Jepang.

Bung Karno berdasarkan buku ‘Penyambung Lidah Rakyat’, yang ditulis Cindy Adams juga menjelaskan bahwa Supriyadi sudah merencanakan perlawanan sejak tahun 1944, di kala Bung Karno sekeluarga mudik ke Blitar. Namun Bung Karno hanya diam, tidak menyetujui juga tidak melarang.

Harjosemiarso, Kepala Desa Sumberagung pada zaman penjajahan Jepang, beberapa saat setelah pecahnya pemberontakan PETA Blitar mengaku pernah menyembunyikan Supriyadi di rumahnya selama beberapa hari.

Dari dia pula diperoleh informasi bahwa Supriyadi kerap mengunjungi Pantai Selatan di sekitar Blitar. Lagi-lagi, berdasarkan kepercayaan orang Jawa, Pantai Selatan merupakan tempat ngelmu, mencari kesaktian dan ilmu kanuragan yang ampuh.

Karena di pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini dipercaya bersemayam Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul. Konon, siapa saja yang sering menjalankan tapa brata di pantai ini, dipercaya akan selamat dalam setiap gejolak.

Pasca menghilang, Bung Karno dianggap tahu keberadaan Supriyadi. Sehingga ketika Republik Indonesia berdiri, Supriyadi diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat oleh Sang Proklamator. Namun karena tak kunjung muncul, akhirnya jabatan itu dipegang oleh Imam Muhammad Sulyoadikusumo.

Perwira Intelijen

Terlepas dari aura mistis dibalik kisah menghilangnya Supriyadi, beberapa kawan-kawannya di PETA mengakui bahwa Supriyadi adalah salah satu lulusan terbaik. Sebelum mengikuti Pendidikan PETA di Bogor, ia bersama Dzulkifli Loebis, Daan Mogot, dan Kemal Idris adalah lulusan Seinen Dojo, barisan pemuda Indonesia yang dididik ilmu intelijen oleh Nakajima.

Konon, ketika dinyatakan hilang, Supriyadi termasuk orang yang mendirikan Badan Istimewa (sekarang BIN) bersama Dzulkifli Loebis. Badan inilah yang bekerja secara rahasia dalam menyerap informasi Sekutu dan Belanda pasca Indonesia merdeka.

Herman Sarens Soediro dalam wawancaranya di sebuah televisi swasta pada tahun 2008 pernah menyebutkan, Supriyadi yang kerap menyepi ke Pantai Selatan bukan karena ingin bertapa. Tetapi di Pantai Selatan Jawa Timur itulah tempat intelijen Sekutu menyusup dari Australia untuk menghancurkan Jepang.

Supriyadi yang memiliki kemampuan intelijen mampu membaca situasi itu. Sehingga ia berkeyakinan hanya Sekutu yang bisa menyelamatkan dirinya dari ancaman Jepang. Namun Herman Sarens Soediro meyakini bila Supriyadi sudah mati oleh Kanpetai (Polisi Rahasia Jepang) pasca peristiwa Blitar.

Bahkan beberapa teman PETA lainnya menyebut Supriyadi sebagai pengecut yang lari dari pasukannya saat dihukum mati oleh Jepang.

Apa pun asumsi soal misteri Supriyadi, pemerintah telah menetapkan dirinya sebagai Pahlawan Nasional  pada 9 Agustus 1975 berdasarkan Keputusan Presiden No. 063/TK/1975. Kisah perjuangan Supriyadi bersama PETA Blitar tetap terkenang sepanjang masa.

Peristiwa itu turut memicu berdirinya Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai tindak lanjut janji kemerdekaan Kaisar Jepang. (An/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Petikemas Domestik Melonjak, Jakarta – Kijing Jadi Rute Primadona Baru

Pontianak (Maritimnews) - Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat sebagai pelabuhan hub internasional terbesar…

1 hour ago

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI, Tiongkok, dan Thailand

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) secara resmi menyambut kehadiran layanan rute baru…

8 hours ago

Memperkuat Stabilitas Fiskal Domestik dan Ketahanan Eksternal di tengah Dinamika Ekonomi Regional

Oleh: Arief Poyuono, SE, M.Kom (Komisaris Pelindo) Dinamika perekonomian global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan…

1 day ago

Budi Hartono Kembali jadi Ketum Kopkar TPK Koja Periode 2026 – 2029

Jakarta (Maritimnews) - Koperasi Karyawan (Kopkar) TPK Koja menggelar pemilihan Ketua Umum periode tahun 2026…

2 days ago

Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas

Makassar (Maritimnews) - PT Pelindo Regional 4 mendukung pengembangan wawasan generasi muda melalui pertukaran pengetahuan…

4 days ago

September 2026, Throughput TPS Solid Capai 120.725 TEUs

Surabaya (Maritimnews) - PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) kembali mencatat kinerja operasional yang positif periode…

5 days ago