Implementasi Nawacita, KKP Sasar Perbatasan Budidayakan Lele Biofolk

Tebar perdana bersama Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto dan Bupati Belu Willybrodus Lay, di Kecamatan Tasifeto Timur, Belu.

MN, Belu –  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali memperkenalkan program unggulannya, yaitu budidaya lele bioflok ke berbagai daerah. Jika sebelumnya pemerintah berhasil mengembangkan lele bioflok untuk pemberdayaan umat pada berbagai pondok pesantren di Indonesia, kali ini KKP menyasar daerah perbatasan sebagai objek pemberdayaan ekonomi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk mendorong pemerataan ekonomi dan ketahanan pangan di kawasan perbatasan.

Menurutnya, penting memperkuat wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan. Ia menilai kawasan perbatasan sebenarnya memiliki sumberdaya alam yang tinggi, namun minimnya informasi teknologi menyebabkan nilai ekonomi SDA tersebut belum dapat dirasakan.

Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya membangun daerah perbatasan melalui penciptaan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi budidaya.

“Inovasi teknologi lele bioflok yang diperkenalkan diharapkan akan mampu meningkatkan nilai SDA yang ada. Dengan demikian akan memicu ruang pemberdayaan masyarakat yang lebih luas dan sudah barang tentu akan menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya di sela-sela kunjunganya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (30/9)

Lebih lanjut, Slamet juga berharap program ini dapat memicu daerah lainnya untuk mengadopsinya. “Budidaya lele bioflok di Kabupaten Belu ini menajadi yang pertama di NTT, ke depan diharapkan akan menjadi pemicu untuk diadopsi di daerah lain,” lanjutnya saat melakukan tebar perdana bersama Bupati Belu Willybrodus Lay, di Kecamatan Tasifeto Timur, Belu.

Slamet juga menekankan pesan Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran menjadi pertimbangan utama agar program–program prioritas perikanan budidaya ini bisa menyasar ke daerah-daerah perbatasan.

Di sisi lain, program lele bioflok diharapkan akan mampu mensuplai kebutuhan gizi masyarakat dari sumber protein ikan. Kebutuhan gizi menjadi masalah yang kerap dihadapi masyarakat di daerah perbatasan, padahal ketercukupan gizi menjadi indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

“Jika dilihat masih ada ketimpangan IPM masyarakat di daerah perbatasan. Saya rasa program ini menjadi sangat strategis untuk meningkatkan IPM melalui pemenuhan gizi masyarakat, apalagi komoditas lele saat ini mulai digemari masyarakat luas. Bu Menteri sangat konsen untuk mendorong masyarakat agar mulai gemar makan ikan,” imbuhnya.

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Semester I/2026, Throughput IPC TPK Meningkat 7 Persen

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional yang solid…

4 days ago

Mengawal Meritokrasi BUMN; Mengapa JOB BIDDING Jangan Menjadi Alat Menghukum Pengalaman

Oleh: Djusman H Umar Praktisi Ketenagakerjaan & Ketua Harian Federasi BUMN Bersatu (FSP BUMN Bersatu)…

4 days ago

Setetes Harapan di Hari Jadi IPC TPK, Himpun 128 Kantong Darah

Jakarta (Maritimnews) – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK)…

6 days ago

Pelindo Terminal Petikemas Terima Dua Penghargaan Ajang GSPI ASRI 2026

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelindo Terminal Petikemas meraih penghargaan dalam ajang Green and Smart Port…

6 days ago

PMT Tanjung Intan Raih Green and Smart Port 2025 Predikat Bintang 3

Gresik (Maritimnews) - Komitmen PT Pelindo Multi Terminal (PMT) Branch Tanjung Intan memperkuat upaya keberlanjutan…

6 days ago

Menuju Danantara 2030: Cetak Biru Transformasi BUMN sebagai Pilar Kedaulatan Ekonomi dan Mesin Pertumbuhan Indonesia

Oleh : Arief Poyuono Komisaris PT Pelindo (Persero) Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui…

1 week ago