Categories: Budaya MaritimTerbaru

Trilogi Pembangunan Maritim, Pesan Luhur dari Tidore

Kolonel Laut (P) Salim

MN, Tidore – Jika dulu Presiden Soeharto terkenal dengan Trilogi Pembangunan yang berisi stabilitas keamanan, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan, maka dalam mewujudkan visi Poros Maritim Dunia juga memerlukan Trilogi Pembangunan. Trilogi Pembangunan era Presiden Soeharto yang lebih erat dengan konsep negara agraris sejatinya perlu disempurnakan saat ini.

Dalam sebuah seminar bertajuk  ‘Perwujudan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia’ di Universitas Sultan Nuku, Tidore, Maluku Utara, (23/11), Kolonel Laut (P) Salim mengupas Trilogi Pembangunan Maritim di hadapan mahasiswa. Seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (IMTSI) itu dihadiri oleh seluruh perwakilan cabang IMTSI se-Indonesia.

“Saya menemukan istilah ini selama berada di Tidore. Setelah banyak mendengar nasihat dari Sultan Tidore, Pak Husain Syah soal sejarah Kesultanan Tidore dan kehebatan Sultan Nuku, saya coba merangkai bahan seminar ini,” ujar Salim.

Pamen TNI AL yang sehari-hari menjabat sebagai  Kasubdis Strategi Taktik Operasi, Mabes TNI AL itu menuturkan Trilogi Pembangunan Maritim Indonesia terdiri dari budaya sebagai identity, ekonomi sebagai activity, dan pertahanan sebagai military.

Hal itu dijabarkannya dalam bentuk piramida di mana budaya maritim menjadi fondasi dari ekonomi maritim dan pertahanan maritim. Namun budaya tersebut juga harus mengacu pada Pancasila dan UUD 1945.

“Konsep ini sebenarnya sudah diterapkan oleh Kesultanan Tidore dalam membangun kejayaannya. Dengan memanfaatkan geografisnya, Kesultanan Tidore telah menempatkan budaya yang sarat dengan nilai luhur dan ketuhanan dalam membangun ekonomi dan pertahanan maritimnya,” tegasnya.

Berdasarkan info yang diperoleh dari Sultan Tidore, alkisah, saat terkepung oleh armada Belanda di perairan dekat Pulau Moti, Sultan Nuku berdoa kepada Allah Swt untuk memohon pertolongan. Tidak lama kemudian turun hujan disertai badai yang lebat di sekitar perairan tersebut.

Satu per satu kapal Belanda akhirnya mundur meninggalkan kapal Sultan Nuku yang sudah terkepung. Selanjutnya kapal Sultan Nuku tidak diketahui keberadaannya. Beberapa hari kemudian, diperoleh berita bahwa kapal Sultan Nuku tengah berada di perairan Papua.

Kisah ini terus diceritakan secara turun temurun di kalangan sultan dan masyarakat Tidore. Kendati dianggap sangat tidak masuk akal cerita ini, namun semua kejadian dikembalikan kepada kekuasaan Tuhan YME, di mana semuanya bisa terjadi atas Izin dan Kehendak-Nya.

Hingga kini, mereka berkeyakinan dalam membangun apapun harus disertai dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi terhadap Tuhan YME. Termasuk dalam membangun sebuah tatanan bangsa dan negara.

“Dalam membangun negara maritim yang paling utama adalah niat kita yang ikhlas. Kalau di fikiran kita masih memikirkan bagaimana mencari materi dan kedudukan, saya yakin cita-cita apapun tak akan pernah sampai,” ungkap Salim.

Ia juga menyatakan bahwa konsep Trilogi Pembangunan Maritim itu akan memperkuat visi Poros Maritim Dunia yang dituangkan dalam Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI), yang kini terbagi menjadi 7 pilar.

“Kebijakan maritim harus dibangun berdasarkan strategi dan doktrin yang sesuai agar perjalanannya tetap sinkron,” tegasnya lagi.

Lebih lanjut, lulusan AAL tahun 1995 yang pernah berdinas di KRI Sultan Nuku-373 ini menyatakan bahwa Tidore penuh dengan inspirasi. Baik bentang alam mapun sejarahnya, seharusnya dapat melahirkan banyak gagasan maritim yang berciri kearifan lokal.

‘Saya yakin setiap daerah pasti memiliki kearifan lokal dan adat istiadat yang luhur. Seharusnya ini yang dipertahankan oleh negara dalam membangun budaya maritim sebagai pilar dari Poros Maritim Dunia,” bebernya.

Kemudian bicara soal ekonomi maritim sebagai aktivitas masyarakat sudah didukung oleh kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tinggal pengelolaannya saja yang terus ditingkatkan.

Sedangkan untuk pertahanan maritim, ia optimis jika pertumbuhan ekonomi naik maka akan diiringi oleh pemutakhiran alutsista dan pengembangan TNI AL.Ia pun miris ketika banyak uang yang dikorupsi hanya untuk kepentingan individu, sementara pembangunan pertahanan terbengkalai.

Di akhir penjelasannya, Salim menyampaikan bahwa Tidore merupakan The Light from East, atau cahaya dari timur Indonesia dalam membangun peradaban maritim yang besar. Para mahasiswa yang terhimpun dalam IMTSI harus bisa mengambil hikmah selama berada di Tidore.

“Kalian harus memiliki semangat maritim yang diselaraskan dengan bidang kalian. Kembangkan terus IPTEK supaya SDA kita tidak dikelola oleh asing,” pungkasnya.

 

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Jalan di Balik Dermaga: Menuntaskan Hinterland yang Terlupakan

Investasi besar pada terminal pelabuhan tanpa membenahi konektivitas di belakangnya ibarat membangun mulut tanpa tenggorokan.…

22 hours ago

Geliat IPC TPK Panjang Dukung Ekspor Provinsi Lampung

Bandar Lampung (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) area Panjang semakin memperkuat perannya…

5 days ago

Sasar Generasi Muda Jakarta Utara, IPC TPK Kenalkan Industri Peti Kemas

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menyelenggarakan program tanggung jawab sosial perusahaan bertajuk…

7 days ago

Laba Bersih Kopkar TPK Koja Tahun Buku 2025 Meningkat 132%

Jakarta (Maritimnews) - Koperasi Karyawan (Kopkar) TPK Koja menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku…

7 days ago

INSA Jaya Gelar RAC Ke XVIII, Andi Patonangi Ketua Masa Bakti 2026 – 2031

Jakarta (Maritimnews) - Setelah menjabat pengurus antar waktu (PAW), Andi S Patonangi ditetapkan secara aklamasi…

1 week ago

RUPST Pelindo 2025: Kontribusi ke Negara Rp7,81 Triliun

Jakarta (Maritimnews) – Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Pelabuhan…

2 weeks ago