Pelabuhan Kijang
MN, Tanjung Pinang – Pelabuhan Kijang sebagai main port di provinsi Kepri akan fokus pada pengelolaan Terminal Petikemas. Saat ini pertumbuhan throughput petikemas di pelabuhan Sei Kolak Kijang mencapai 20-30% pertahun dengan pelayaran ocean going dan domestik.
Menurut GM Pelindo 1 Tanjung Pinang, Arif Indra Perdana didampingi Manager Bisnis Khoiruddin Lubis, pertumbuhan tersebut didukung fasilitas Fix cargo crane asal Jerman kapasitas 150 ton dan dermaga sepanjang 320 m2, serta area container yard (lapangan penumpukan) seluas 7.200 m2.
“Throughput petikemas di pelabuhan Kijang pada tahun 2018 sebesar 20.374 TEUs meningkat dibanding tahun 2017 yang 15.723 TEUs,” jelas Arif Indra kepada Maritimnews di pelabuhan Sei Kolak Kijang, Tanjung Pinang, baru-baru ini.
Sedangkan untuk tahun 2019, sampai dengan triwulan I capaian throughput petikemas mencapai 6.000 TEUs. “Target throughput petikemas pelabuhan Kijang sebanyak 25.000 TEUs di tahun ini,” ujarnya.
Beberapa perusahaan pelayaran, terang Arif, melakukan kegiatan di pelabuhan Kijang yakni Meratus tujuan pelabuhan Tanjung Priok, Sindo Damai (ocean going) ke Singapura dengan muatan 70 boks petikemas komoditi karet per-call, Aleksindo, BMA dari Sunda Kelapa, dan PELNI.
Seperti diketahui, pelabuhan Sei Kolak Kijang merupakan pintu masuk consumer goods ke wilayah pulau Bintan, Tanjungpinang dan pulau-pulau lainnya di provinsi Kepri. Sementara muatan balik didominasi oleh komoditi Karet dan CPO untuk ekspor maupun domestik.
(Bayu/MN)
Oleh : Dr. Dayan Hakim NS* Perusahaan pelayaran saat ini tengah menghadapi kewajiban untuk menyusun…
Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…
Pontianak (Maritimnews) - Dukungan perusahaan IPC Terminal Petikemas terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia…
Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Teluk Bayur bersama PT Pelabuhan Tanjung…
Jambi (Maritimnews) - Indonesia adalah produsen dan eksportir utama kayu manis global, menguasai sekitar 41%…
Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…