Categories: HLOpiniTerbaru

Masalah Papua, Indonesia Tolak Campur Tangan Asing

Ilustrasi Sidang Umum PBB terkait masalah Papua. Foto: ANTARA.

Oleh : Sabby Kosay)*

Pernyataan Gubernur Lukas Enembe disayangkan beberapa warga Papua, ia mengatakan  perlunya melibatkan pihak asing dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di bumi cenderawasih, tujuannya adalah agar provinsi paling timur Indonesia tersebut kembali kondusif.

Hal tersebut tentu akan memunculkan pertanyaan, benarkan Gubernur Lukas Enembe menginginkan agar orang–orang asing diundang untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tentunya kita harus memahami bahwa salah satu prinsip dalam hubungan internasional adalah dilarang mencampuri atau mengintervensi urusan negara lain. Sehingga apabila Indonesia mengundang negara lain untuk ikut menyelesaikan masalah di Papua, artinya kita telah memberikan celah intervensi dari pihak luar untuk Indonesia, lantas bagaimana jika negara tersebut memaksakan kehendaknya.

Menurut Mahasiswa asal Papua Edward Krey, Rakyat Papua perlu menyadari bahwa tugas utama mereka adalah membangun Papua dan Papua Barat. Edward pun secara sadar meyakini bahwa kedua provinsi paling timur Indonesia tersebut sama sekali bukan “anak tiri” bagi NKRI.

Dirinya meyakini bahwa semua 34 provinsi di Tanah Air adalah anak emas alias kesayangan pemerintah yang ada di Ibu Kota NKRI. Sehingga tidak benar jika ada anggapan bahwa Papua adalah anak tiri dari NKRI.

Mari kita tengok pemerintah era Jokowi dalam 5 tahun pemerintahannya, tanah Papua telah banyak mengalami beragam perubahan dengan adanya berbagai proyek dan program untuk memperbaiki dan meningkatkan derajat hidup masyarakat Papua khususnya di sektor ekonomi dan pembangunan.

Kita telah mengetahui pemerintahan periode Jokowi–Jusuf Kalla, harga BBM menjadi 1 harga dari sabang sampai merauke, setidaknya hal tersebut telah mengurangi permasalahan yang ada di sana.

Hal tersebut tentu menjadi tanda optimisme bahwa Indonesia mampu menyelesaikan permasalahan Papua sebagai negara yang berdaulat. Intervensi dari negara asing tentu akan semakin memperkeruh suasana yang ada di Papua.

Dalam upaya menangani permasalahan baik di Papua maupun Papua Barat, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pemerintah akan mengedepankan upaya dialogis dalam penyelesaian masalah yang ada di bumi Cenderawasih. Pendekatan dialogis itu akan dilakukan dalam koridor otonomi khusus (otsus).

Mantan Walikota Surakarta tersebut menegaskan, pemerintah tak semata–mata membangun infrastruktur d Papua. Pembangunan infrastruktur bertujuan untuk membuka akses demi penanganan berbagai masalah, salah satunya adalah gizi buruk.

Selain itu Pemerintah juga telah menyampaikan sejumlah upaya yang dilakukan untuk meredam situasi di Papua kepada PBB. Termasuk diantaranya penegakkan hukum dan upaya untuk dialog dan persuasi.

Dengan adanya penjelasan tersebut, pemerintah Indonesia dianggap mampu mengatasi masalah di Papua secara mandiri. Sehingga tak perlu membawanya ke Majelis Umum PBB.

Pengamat hubungan internasonal Universitas Indonesia (UI), Shofwan Al Banna, mengatakan pemerintah Indonesia tak perlu membawa masalah kerusuhan di Papua ke Majelis Umum PBB. Sebab, saat ini sikap Indonesia sudah jelas.

Masalah tentang Papua sudah menjadi perhatian internasional. Posisi Indonesia sudah baik, sehingga negara–negara lain bisa memahami sampai di titik mana Indonesia bisa menerima respons dari negara lain. Dengan hal ini, Indonesia tentu bisa dengan tegas mengatakan tidak menerima intervensi.

Menurutnya, masalah Papua baru bisa diangkat ke Majelis Umum PBB jika terjadi masalah yang besar hingga berpengaruh besar pada dunia internasional.

Shofwan juga mendorong pemerintah Indonesia untuk terus menjalin komunikasi dan pendekatan terkait masalah Papua. Sehingga, dunia internasional percaya dan tidak ikut mengintervensi.

Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (KTHAM) PBB, Michelle Bachelet, merasa khawatir atas jatuhnya korban, baik warga sipil maupun aparat keamanan dalam kerusuhan di Papua. Meski demikian, ia juga menyambut baik himbauan dari Presiden Joko Widodo untuk melawan rasisme dan diskriminasi, serta ajakan untuk berdialog dari pemerintah Indonesia di Papua.

Hasan Kleb yang merupakan wakil tetap Indonesia untuk PBB di Jenewa, telah menjelaskan bahwa situasi di Papua hingga upaya yang telah dilakukan untuk meredam kericuhan dan kerusuhan ke Dewan HAM PBB. Dirinya mengatakan bahwa aparat keamanan telah bertindak secara profesional dan menghindari penggunaan kekerasan dalam menghadapi massa.

Apa yang dilakukan oleh Pemerintah menunjukkan optimisme bangsa Indonesia dalam menyelesaikan masalah dalam negeri, khususnya terkait dengan Papua.

 

)* Penulis adalah mahasiwa Papua tinggal di Jakarta

               

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Kewajiban Perusahaan Pelayaran dalam Pelaporan ESG 2025

Oleh : Dr. Dayan Hakim NS* Perusahaan pelayaran saat ini tengah menghadapi kewajiban untuk menyusun…

3 days ago

Program Jejak Pelabuhan, Mahasiswa/i UI Kunjungi IPC TPK

Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…

6 days ago

IPC TPK Gelar Pelatihan Keterampilan Bagi Perempuan Penyandang Disabilitas di Pontianak

Pontianak (Maritimnews) - Dukungan perusahaan IPC Terminal Petikemas terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia…

6 days ago

Sinergi Operasional IPC TPK dan PTP di Teluk Bayur

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Teluk Bayur bersama PT Pelabuhan Tanjung…

7 days ago

IPC TPK Jambi Dukung Kelancaran Ekspor Kayu Manis ke Mancanegara

Jambi (Maritimnews) - Indonesia adalah produsen dan eksportir utama kayu manis global, menguasai sekitar 41%…

1 week ago

Barang Kami Tertahan, Bisnis Kami Pun Ikut Berhenti

Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…

1 week ago