MN, Jayapura- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat FGD “Review Strategi Akselerasi Pengembangan Pelabuhan Depapre dan Infrastruktur Jalan Sentani Depapre Menuju Kebangkitan Ekonomi Masyarakat” secara daring, Selasa (11/1) menyatakan, bahwa Pelabuhan Depapre bakal menjadi Hub Port, termasuk Bandara Sentani yang dikembangkan sebagai Bandara internasional dalam rangka menggeliatkan ekonomi di Kabupaten Jayapura dan sekitarnya.
Kegiatan FGD (Focus Group Discussion) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura bersama Analisis Papua Strategis diikuti narasumber, Menteri Perhubungan, Bupati Jayapura, Ketua Tim Dukungan Kebijakan dan Evaluasi Pelaksanaan Percepatan Pembangunan Kesejahteraan Papua dan Papua Barat Setwapres, Direktur Jenderal Bina Marga dan Kepala BPIW Kementerian PUPR, Direktur Tata Ruang Kementerian ATR/BPN, Direktur Sarana Distribusi dan Logistik Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Kepala Kanwil ATR/BPN Provinsi Papua, Asisten II Provinsi Papua bersama SKPD/OPD Teknis Provinsi, serta para peserta dari Kementerian Lembaga lainnya seperti Bappenas dan KPK.
Turut hadir Akademisi sebagai penanggap ahli, Profesor Bambang Shergi Laksmono Guru Besar Universitas Indonesia, Tenaga Ahli Madya Kedeputian V Kantor Staf Presiden Teofransus Litaay, Plh Direktur Regional III Bappenas Ika Retna Wulandary, Herlina Monim Ketua Komisi IV DPR Papua, Buyung Lalana Staf Khusus Menteri Perhubungan serta Tim Teknis Penyusun Rencana Induk Pengembangan Pelabuhan KSOP Jayapura Semuel Yabez Yermia dan Jan Imbiri.
Menurut Bupati Jayapura, Mathius Awaitouw, berdasarkan materi sejarah singkat infographic pelabuhan Depapre saat pertama kali beroperasi pada tahun 1944 oleh tentara sekutu saat perang dunia II untuk menaklukkan tentara Jepang di Filipina, kemudian sampai pada tahun 2021 dengan melayani perdana Tol Laut lintas Papua KM Logistik Nusantara 2. Sampailah Pelabuhan Depapre pada awal Tahun Baru 2022, yang melayani 2 kapal perintis (KM Sabuk Nusantara 81 dan KM Sabuk Nusantara 29).
Mathius Awaitouw menjelaskan, upaya terkait pengembangan sumberdaya ekonomi strategis, skenario jalur logistik pelabuhan hub internasional, koordinasi kurun 5 (lima) tahun terakhir yang terus berjalan sampai pada perkembangan ruas jalan Kemiri – Depapre. Hal itu masih dalam kondisi belum dibangun dan langkah koordinasi tetap terus dilakukan Pemerintah Kabupaten serta identifikasi permasalahannya.
Ketua Analisis Papua Strategis Laus D.C Rumayom yang turut hadir dan juga sebagai moderator sangat mengapresiasi Kementerian Perhubungan dibawah kepemimpinan Budi Karya Sumadi, dimana Kemenhub mulai membangun Pelabuhan Depapre baik pada sisi darat maupun laut pada semenjak tahun 2015 – 2020, dengan total investasi sekitar Rp175 Milyar menggunakan APBN.
Pembebasan lahan telah dilakukan secara bertahap sejak tahun 2007 – 2013 dengan luas lahan 24,83 hektare dari total 74 hektar lahan yang dibutuhkan. Untuk pekerjaan reklamasi dikerjakan dengan luasan sekitar 15,67 hektare.
Diharapkan D.C Rumayom, dengan realisasi pembangunan pelabuhan yang terus berjalan maka harus diikuti pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan oleh Kementerian PUPR dan Dinas PUPR Provinsi Papua. Mengingat status jalan merupakan jalan provinsi dan pelabuhan Depapre masuk dalam RPJMN, bahkan masuk Program Strategis Nasional Pemerintahan Bapak Presiden Joko Widodo.
Sedangkan dari Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga, dalam hal ini Direktur Sistem dan Strategi Penyelengaraan Jalan dan Jembatan/DSSPJJ dan Kepala Pusat Wilayah III BPIW, Mangas Rudy Siahaan menegaskan, bahw pembangunan jalan Depapre – Kemiri/Sentani akan dikerjakan dan dapat direalisasikan di tahun 2022.
Sementara pihak KSOP Kelas II Jayapura melalui Kasi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan, Willem Thobias Fofid menambahkan, bahwa sesuai dengan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIP) Depapre akan terus dikembangkan, antara lain pembangunan dermaga multipurpose seluas 150x25m, lapangan multipurpose III seluas 9900m², jalan kompleks 12m, drainase dan gorong-gorong, pos pemadam kebakaran 12x12m, reklamasi dan revetment area curah cair dan Ro-ro, pos keamanan III, gerbang, pagar pengaman, dermaga curah kering, gudang dan kantor operasional serta fasilitas penunjang lainnya.
Pelabuhan Depapre sendiri memang memiliki letak yang strategis, yaitu berada di Teluk Tanah Merah yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik sehingga dapat menjadi gerbang perdagangan internasional, terutama di wilayah Asia Pasifik.
(Bayu/MN)
Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…
Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…
Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…
Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…
Ditulis oleh: Arief Poyuono Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang berada di kisaran 5 %…