Jakarta (Maritimnews) – Dalam rangka meningkatkan konektivitas pelayaran dan efisiensi biaya logistik, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo telah resmi meluncurkan terobosan baru bernama Pelindo Indonesia Network Pendulum (PINP) yang ditandai dengan penandatanganan Heads of Agreement (HoA) bersama perusahaan pelayaran nasional, baru-baru ini.

Apa itu PINP ?

Jika dulu dikenal konsep Pendulum Nusantara pada 2012, di mana kapal besar berjalan seperti bandul jam dari Belawan – Jakarta – Surabaya – Makassar – Sorong, maka PINP adalah versi penyempurnaan setelah Pelindo merger menjadi satu perusahaan.

Bedanya, (sebelum bersatu) Pelindo I, II, III, IV mengelola pelabuhan sendiri-sendiri, kini 94 pelabuhan dikelola sebagai satu jaringan logistik terintegrasi.

Menurut Buku Saku Manajemen PINP yang diperoleh, terdapat 10 (sepuluh) pointer utama dan ada 2 (dua) poin yang paling krusial;

PERTAMA, mengelola pelabuhan sebagai satu jaringan, bukan unit terpisah. Kinerja tidak hanya diukur dari cepatnya bongkar di dermaga, tapi dari kelancaran seluruh rantai: dari kapal sandar, bongkar di terminal, penumpukan di lapangan, keluar gerbang, diangkut truk, hingga ke depo peti kemas.

KEDUA, identifikasi hambatan sebelum tambah alat. Penambahan fasilitas Crane atau RTG tidak akan menyelesaikan masalah, jika hambatan ada di gerbang atau angkutan darat. Jelas harus dipetakan dulu bottleneck-nya.

Terminal Kijing Jadi Simpul Barat

General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Dewa Cipta Hadi mengatakan kepada Maritimnews, bahwa capaian positif throughput petikemas yang mulai beroperasi pada Juni 2026 di Terminal Kijing mencatat arus sebesar 2.221 TEU’s hingga Triwulan III 2026.

Dibandingkan periode yang sama tahun 2025, kunjungan kapal ikut meningkat 43,1% dari 534 menjadi 764 unit, sementara volume kapal naik 61,5%. Arus bongkar muat tumbuh di berbagai komoditas; general cargo meningkat 316,2%, curah cair 72,1%, bag cargo 13,9%, dan curah kering 100,5%.

Maka pelabuhan Kijing Kalimantan Barat dapat menjadi simpul strategis PINP bersama Tanjung Priok dan Tanjung Perak di barat. Dimana target Pelindo, sejalan dengan kinerja Kijing yang terus tumbuh hingga September 2026. Bahkan pada bulan Juli lalu, Kijing masuk dalam rotasi kapal-kapal berkapasitas minimum 3.000 TEUs.

Dampak Positif bagi Kalbar

Biasanya 69% dari biaya angkut barang di kapal (freight) kesedot oleh tarif kepelabuhanan, karena kapal berlayar tidak efisien dan sering kosong satu arah. Kedepan dengan PINP, freight diangka Rp 5-6 juta/TEUs akan ditekan menjadi Rp 3 juta/TEUs.

Bukan tidak mungkin harga beras, pupuk, dan barang konsumsi masuk ke wilayah Kalbar menjadi lebih murah, sementara CPO, Alumina, dan Karet yang keluar dari provinsi Kalimantan Barat bisa lebih kompetitif dikarenakan distribusi barang efektif dan efisien.

(Bayu Jagadsea/MN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *