Sampah Laut, Ironi Negara Maritim

 

Oleh: N.P. Purba (NOAA)*

Sampah laut, permasalahan krusial negara maritim
Sampah laut, permasalahan krusial negara maritim

MNOL – Ada yang lebih penting dari bahasan tentang poros maritim saat ini, yaitu sampah di laut. Dalam beberapa literatur, sangat sulit untuk menemukan kajian yang komprehensif tentang permasalahan ini terutama untuk Indonesia. Permasalahan sampah ini rumit sekaligus kompleks karena melibatkan karakteristik manusia, peradaban, dan kebijakan suatu negara. Sampah di laut ibarat lautan itu sendiri, tidak mengenal batas negara, tidak mengenal sistem politik, dan tanpa mengenal waktu.

Sampah yang berada di laut telah menjadi isu global. Pertemuan penting yang mengangkat tentang sampah dan kesehatan laut adalah pada konferensi Rio de Jeneiro tahun 2012 yang menyatakan dalam satu poinnya bahwa sampah mempunyai dampak negatif terhadap ekosistem dan biodiversitas dan penekanan pada isu ini akan melibatkan banyak stakeholder dari berbagi negara.

Sejalan dengan hal tersebut, pada tahun 2014, PBB telah mengkonfirmasi bahwa paling tidak ada 270.000 ton sampah plastik berada di laut. Selanjutnya, IUC Network menemukan bahwa Jenis sampah yang paling banyak ditemui di perairan adalah puntung rokok, plastik, botol dan tutup botol, sedotan, minuman kaleng. Sampah sampah ini termasuk pada jenis yang sangat sulit terurai di lautan dan bahkan dapat sampai pada rantai makanan pada level atas (manusia). Sampah sampah ini termasuk mega-size, namun pada proses perjalanannya sampah juga dapat berubah menjadi nano size dan micro-size.

Pada tahun 2010, penelitian yang mengkaji tentang micro-size dan termasuk di dalamnya microplastik tidak lebih dari 50 kajian di dunia (Sarah Gill, Plymouth). Sampah di laut terutama untuk jenis microplastik menjadi alasan yang sangat penting untuk dikhawatirkan. Microplastik ini merupakan pecahan-pecahan plastik dengan ukuran 1-5 mm. Dalam rantai makanan, terutama biota laut akan menyerap banyak microplastik dan tertimbun dalam tubuhnya.

Di Indonesia sendiri, sampah menjadi tantangan tersendiri karena belum banyak kajian yang menekankan pada aspek tersebut. Status Indonesia saat ini belum berubah yakni nomor 2 terbesar penyumbang sampah di dunia. Hasil studi Noir P. Purba dkk di beberapa lokasi seperti Pulau Biawak, Kepulauan Seribu, Banten dan beberapa pulau lainnya menyimpulkan bahwa pada daerah yang tidak berpenghuni pun di Indonesia, akan ditemui sampah.  Di beberapa pulau kecil ditemukan paling banyak adalah jaring nelayan dan tali rafiah.

Kondisi perairan Indonesia yang sangat kompleks akibat adanya massa air yang masuk dari setiap celah, memungkinkan untuk membawa sampah ini ke berbagai arah. Hal ini dikarenakan karena sampah-sampah ini akan terbawa oleh arus. Kita mungkin mengenal “Pasific Garbage” dikarenakan adanya kumpulan sampah sepanjang 200 km yang diakibatkan oleh adanya arus gyre.

Kompleks masalah ini, karena sampah sampah ini dapat berasal dari mana saja di wilayah Indonesia. Identifikasi produk/merek hasil investigasi sampah tersebut tidak dapat membuktikan asal sampah (tracer). Kita tahu bahwa masyarakat yang tinggal di pesisir, di pinggir sungai Indonesia hampir 70 % dan hampir semua masyarakat ini mempunyai produk yang hampir sama untuk kebutuhan hidupnya. Artinya, akan sangat susah untuk meminta pihak yang bertanggung jawab atas sampah di laut.

Sejalan dengan hal tersebut, bahwa kita tahu bahwa konsep “waterfront city” yang dikembangkan pada tahun 2000-an untuk menjadikan perairan bukan sebagai tempat sampah, tampaknya tidak berjalan sesuai rencana. Akibatnya, masyarakat tetap menjadi orang yang sama dengan kebiasaan yang lama.

 Sebenarnya, peran penting kita adalah bukanlah mengelola lautan itu sendiri, tetapi bagaimana mengelola manusia yang mengelola alam. Saat ini, teknologi “ocean garbage trapping” sudah diterapkan dengan metode yang berbeda. Namun, jika metode ini tidak disertai dengan kesadaran manusia, akan menjadi masalah yang tiada henti. Kita bisa yakin suatu saat poros maritim akan sukses, tapi kita tidak yakin bahwa suatu saat kondisi sampah ini akan lebih baik. Tidak lucu rasanya jika kita adalah sebuah negara maritim, tetapi pada saat yang sama disebut juga negara sampah.

Seorang jurnalis Amerika pernah berkata “Alam mempunyai cara sendiri untuk menyeimbangkan dirinya”. Kalimat ini muncul terkait dengan hancurnya semua perusahaan yang berada di tepi sungai akibat banjir di Amerika. Belakangan diketahui bahwa perusahaan tersebut membuang limbahnya ke sungai. Apakah kita menunggu sampai alam berbuat sesuatu kepada kita?

 

*Penulis adalah Researcher in Hidro-Oceanography Lab.

Researcher in KOMITMEN Research Group

Fisheries and Marine Science

Padjadjaran University

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *