Jepang dan Amerika di Laut China Selatan, Picu ADIZ China

Oleh: Rayla Prajnariswari B.K,*

Jepang tidak naif dalam menyadari realitas-realitas potensi konflik internasional yang membahayakan kemanan dan kepentingan nasionalnya kedepan dan kemudian mengambil langkah untuk bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dalam patroli Laut China Selatan. Pernyataan menteri pertahanan Jepang Tomomi Inada dalam kunjungannya bertemu dengan kepala pertahanan AS Ash Carter di Washington beberapa hari lalu membahas isu mengenai Laut China Selatan dan Laut China Timur. Pihak Jepang yang diwakili oleh Inada mengatakan dengan tegas dan terang bahwa Jepang akan meningkatkan keterlibatan di Laut China Selatan melalui latihan militer “maritime self defence force” bersama AS termasuk Jepang akan membantu negara-negara yang memiliki jalur maritim tersibuk.

Merespon pernyataan tersebut, sejak lama China telah berulang kali mengecam campur tangan Amerika Serikat dan sekutunya Jepang di Laut China Selatan. Demikian, campur tangan lebih Jepang di Laut China Selatan dapat memancing nyali China untuk semakin akan bertindak memperkuat penyebaran militer di Laut China Selatan terkhusus di wilayah yang menjadi sengketa dan akhirnya akan ada kemungkinan bahwa China akan mendeklarasikan ADIZ (Air defence Identification Zone ). Asumsinya, jika operasi gabungan yang mengintesifkan atau melibatkan campur tangan negara lain terlebih negara besar dalam satu wilayah konflik kepentingan yang berhadapan dengan China, akan memungkinkan China mendklarasi ADIZ di Laut China Selatan sebagaimana yang telah dilakukan China di Laut China Timur yang terkait dengan pengamanan sengketa pulau senkaku. Sasarannya adalah kapal laut Jepang yang akan menjadi target utama dari China. Pesawat tempur dalam sistem ADIZ China akan dapat dengan mudah mengambil tindakan seperti terbang lintas dengan ketinggian rendah terhadap kapal-kapal Jepang yang beroprasi dalam patroli gabungan dengan amerika serikat di Laut China Selatan.

Hemat penulis, ADIZ merupakan perpanjangan wilayah udara suatu negara yang melebihi teritorial daratan ataupun perairan negara. Dalam praktek ADIZ, negara berhak melakukan interograsi bahkan jika perlu, berhak untuk mencegah kapal atau pesawat perang. Tujuan ADIZ diperuntukan sebagai zona pertahanan udara untuk meningkatkan keamanan, dengan menerapkan ADIZ maka negara memiliki kewenangan untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan batas-batas teritorial negara.

Namun terkait hal tersebut, ada beberpa hal yang harus dipahami terlebih dahulu. Pertama bahwa, jika ADIZ dideklrasikan, China harus dengan tegas mulai mengerahkan militer di wilayah perluasan seperti di pulau Spratly (pulau Nansha) untuk menyeimbangkan kekuatan dan ancaman. Kedua, China sebaiknya memberitahu negara-negara ASEAN terlebih dahulu agar dunia internasional mengetahui penyebabnya.

Gunboat diplomasi abad 21

Lepas dari kondisi diatas, Secara umum kebijakan latihan patroli gabungan Jepang dengan As di Laut China Selatan merupakan sebuah diplomasi kapal perang “Gunboat diplomacy” abad 21 Asia-pasifik. Untuk langkah Patroli gabungan Jepang bersama AS tersebut bisa jadi kebijakan kapal perang “gunboat policy” untuk memagari atau menyerang China. Langkah Jepang bukan tanpa sebab, tindakan Jepang untuk turut ikut campur di Laut China Selatan adalah bagian dari kekahwatiran Jepang terhadap China jika suatu saat China akan membangun kontrol de facto atas Laut China Selatan yang dapat berpengaruh keamanan nasional berdasarkan pengalaman masa lalu konflik teritorial yang terjadi di Laut China Timur. Misalkan, dalam beberapa kasus diLaut China Selatan, China mungkin bisa secara langsung berhadapan dengan operasi AS di Laut China Selatan tapi jika berhadapan dengan Jepang akan berbeda yang telah terbukti dalam beberpa kasus sengketa China dengan Jepang di Laut China Timur.

Semakin intensifnya Jepang mengambil peran di Laut China Selatan, akan memungkinkan skenario konflik di Laut China Selatan semakin berkepanjangan seperti pertama, indikasi akan terjadi konflik langsung antara angkatan laut China dan Angkatan laut Jepang. Kedua, skenario-skenario konflik yang memungkinkan tidak dapat mengesampingkan bahwa kapal China bisa saja memblok kapal Jepang atau China akan menghalangi perjalanan kapal Jepang.

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Bidang Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Perkuat Sinergitas Optimalisasi Terminal Kijing, Akses Jalan jadi Prioritas

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) memperkuat sinergitas optimalisasi Terminal Kijing Mempawah Kalimantan Barat…

2 days ago

Maret 2026, IPC TPK Jambi Tumbuh 22,5%

Jambi (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Jambi mencatatkan pertumbuhan signifikan pada Maret…

2 days ago

IPC TPK Gandeng Mitra Pelayaran Perkuat Konservasi Laut dan Ekosistem Pelabuhan Berkelanjutan

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat komitmen keberlanjutan dengan menggelar aksi…

2 days ago

Tingkatkan Kapasitas SDM Kelautan dan Perikanan, KIOTEC Kunjungi Korsel

KIOTEC kembali mengadakan program kunjungan ke Korea Selatan. Kunjungan ini didedikasikan untuk memperkuat keahlian teknis…

2 days ago

IPC TPK Bangun Fasilitas Air Bersih di Muaro Jambi

Jambi (Maritimnews) - IPC TPK membangun sumur bor lengkap dengan instalasi pendukung sebagai sumber air…

3 days ago

IPC TPK Panjang Kedatangan 1.772 Empty Container

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang kedatangan container vessel MV MSC…

3 days ago