Diantara kesibukan aparat keamanan mulai dari Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres), Polisi serta panitia penyelenggara acara puncak Sail Selat Karimata di Pantai Pulau Datok, ada puluhan pelajar yang memunguti sampah di sekitar lokasi tersebut. Mereka adalah komunitas eksplorer Kayong yang digandeng oleh tim Satgas gerakan Budaya Bersih dan Senyum (GBBS) untuk melakukan pembersihan di sekitar area puncak kegiatan Sail Selat Karimata 2016. Pada kesempatan yang sama, Ketua Satgas GBBS Musyarafah mengatakan pihaknya sengaja menggalang dukungan dari para relawan yang berjumlah sekitar 450 orang tersebut untuk menjaga kebersihan di kawasan Pantai Pulau Datok. “Mereka bekerja bergantian selama semingguan ini untuk membersihkan lokasi acara puncak Sail,” tambahnya. Ara mengakui pentingnya tugas para relawan tersebut dalam membentuk citra Indonesia sebagai negara yang memiliki spot pariwisata yang indah. “Kita jangan hanya bisa membangun lokasi ini menjadi indah, yang terpenting justru bagaimana menjaga kebersihan tempat ini sehingga pengunjung bisa merasa betah dan nyaman berada di tempat ini,” ujarnya. Diapun lantas menceritakan keluh kesah para yachter (pelayar) mancanegara yang bertemu dengan Satgas GBBS pada hari Kamis (13/10). “Mereka memuji keindahan pantai Indonesia, makanannya yang enak, penduduknya yang ramah namun yang mereka sesalkan adalah pengalaman tidak mengenakkan ketika telah jauh-jauh berlayar selama tiga bulan, justru sampah yang mereka dapatkan saat memancing,” tutur Ara, panggilan akrab Musyarafah, menceritakan keluhan salah seorang yachter saat berdialog dengannya sehari sebelumnya. Ara berharap dengan melakukan kegiatan sosialisasi dan ajakan kepada para pemuda untuk menjaga kebersihan lingkungannya pada event nasional dapat meningkatkan reputasi Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata unggul. “Selain untuk kepentingan kita, kelangsungan hidup anak cucu kita, lingkungan yang bersih dapat meningkatkan reputasi wisata negara kita karena para yachter yang berkunjung dapat menceritakan keindahan dan kebersihan tempat kita pada kolega mereka diluar negeri,” lanjut wanita berkerudung ini. Selain bekerjasama dengan komunitas eksplorer Kayong, tim GBBS Kemenko Kemaritiman juga bekerjasama dengan sukarelawan Pemuda Bahari yang merupakan binaan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan). Ramlin, ketua relawan Pemuda Bahari mengaku pihaknya menyambut baik upaya bersama tersebut untuk bekerjasama. “Fokus kami adalah melakukan pembersihan pantai sehingga pengunjung merasa nyaman berada di pantai ini,” katanya pada kesempatan yang sama. Agar program kebersihan ini tidak berhenti hanya menjelang acara puncak Sail Selat Karimata saja, Ketua Satgas GBBS Musyarafah mengatakan bahwa pihaknya dan ketua Dharma Wanita Kemenko Kemaritiman Devi Pandjaitan sore ini (14/10) akan mengundang sekitar 250 orang untuk berdialog di lokasi puncak Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok. “Mereka adalah para anggota PKK se-Kabupaten Kayong Utara, relawan Pemuda Bahari, dan komunitas eksplorer Kayong,” tukasnya. Tujuan dialog tersebut adalah agar para relawan tetap semangat untuk melakukan upaya kebersihan dan melakukan kampanye untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap kebersihan
Diantara kesibukan aparat keamanan mulai dari Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres), Polisi serta panitia penyelenggara acara puncak Sail Selat Karimata di Pantai Pulau Datok, ada puluhan pelajar yang memunguti sampah di sekitar lokasi tersebut. Mereka adalah komunitas eksplorer Kayong yang digandeng oleh tim Satgas gerakan Budaya Bersih dan Senyum (GBBS) untuk melakukan pembersihan di sekitar area puncak kegiatan Sail Selat Karimata 2016. Pada kesempatan yang sama, Ketua Satgas GBBS Musyarafah mengatakan pihaknya sengaja menggalang dukungan dari para relawan yang berjumlah sekitar 450 orang tersebut untuk menjaga kebersihan di kawasan Pantai Pulau Datok. “Mereka bekerja bergantian selama semingguan ini untuk membersihkan lokasi acara puncak Sail,” tambahnya. Ara mengakui pentingnya tugas para relawan tersebut dalam membentuk citra Indonesia sebagai negara yang memiliki spot pariwisata yang indah. “Kita jangan hanya bisa membangun lokasi ini menjadi indah, yang terpenting justru bagaimana menjaga kebersihan tempat ini sehingga pengunjung bisa merasa betah dan nyaman berada di tempat ini,” ujarnya. Diapun lantas menceritakan keluh kesah para yachter (pelayar) mancanegara yang bertemu dengan Satgas GBBS pada hari Kamis (13/10). “Mereka memuji keindahan pantai Indonesia, makanannya yang enak, penduduknya yang ramah namun yang mereka sesalkan adalah pengalaman tidak mengenakkan ketika telah jauh-jauh berlayar selama tiga bulan, justru sampah yang mereka dapatkan saat memancing,” tutur Ara, panggilan akrab Musyarafah, menceritakan keluhan salah seorang yachter saat berdialog dengannya sehari sebelumnya. Ara berharap dengan melakukan kegiatan sosialisasi dan ajakan kepada para pemuda untuk menjaga kebersihan lingkungannya pada event nasional dapat meningkatkan reputasi Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata unggul. “Selain untuk kepentingan kita, kelangsungan hidup anak cucu kita, lingkungan yang bersih dapat meningkatkan reputasi wisata negara kita karena para yachter yang berkunjung dapat menceritakan keindahan dan kebersihan tempat kita pada kolega mereka diluar negeri,” lanjut wanita berkerudung ini. Selain bekerjasama dengan komunitas eksplorer Kayong, tim GBBS Kemenko Kemaritiman juga bekerjasama dengan sukarelawan Pemuda Bahari yang merupakan binaan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan). Ramlin, ketua relawan Pemuda Bahari mengaku pihaknya menyambut baik upaya bersama tersebut untuk bekerjasama. “Fokus kami adalah melakukan pembersihan pantai sehingga pengunjung merasa nyaman berada di pantai ini,” katanya pada kesempatan yang sama. Agar program kebersihan ini tidak berhenti hanya menjelang acara puncak Sail Selat Karimata saja, Ketua Satgas GBBS Musyarafah mengatakan bahwa pihaknya dan ketua Dharma Wanita Kemenko Kemaritiman Devi Pandjaitan sore ini (14/10) akan mengundang sekitar 250 orang untuk berdialog di lokasi puncak Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok. “Mereka adalah para anggota PKK se-Kabupaten Kayong Utara, relawan Pemuda Bahari, dan komunitas eksplorer Kayong,” tukasnya. Tujuan dialog tersebut adalah agar para relawan tetap semangat untuk melakukan upaya kebersihan dan melakukan kampanye untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap kebersihan
Kantor Kemenko Kemaritiman.

MNOL – Jakarta, Sehari sebelum dibuka oleh Presiden Joko Widodo, Menko Luhut meninjau beberapa fasilitas yang dibangun dalam rangka menunjang kegiatan Sail Selat Karimata di Kabupaten Kayong Utara, Jumat (14/10). Fasilitas tersebut antara lain Sentra Informasi Nelayan yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan stand pameran produk unggulan daerah.

Kegiatan Sail tahunan diadakan oleh Pemerintah untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah. Oleh karena itu, Menko Luhut, berharap masyarakat ikut berperan serta mencapai tujuan itu. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. “ Kalau pemandangan di negara kita ini sih ngga usahlah ditanya, tapi sayang kalau tentang kebersihan”, katanya mengeluh.

Mengenai masalah sampah tersebut, Menko Maritim meminta masyarakat untuk membantu upaya pemerintah. “Semua harus kerja, tidak mungkin masalah kebersihan ditangani oleh bapak bupati sendirian,”tambah Luhut. Menurutnya kondisi alam dan lingkungan yang bersih serta penduduk yang ramah dapat menciptakan reputasi yang baik bagi Kemenko Kemaritiman.
Ditambah lagi, kata Luhut, pemerintah Indonesia menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wiswan) naik hingga 20 juta. Karenanya, keramahtamahan dan kebersihan lingkungannya , lanjutnya, merupakan modal penting untuk membangun di Kayong Utara di sektor kebersihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *