Suasana Rakornas GMNI 2016 di Kuningan, (12/11)
Suasana Rakornas GMNI 2016 di Kuningan, (12/11)

MNOL, Kuningan – Indonesia terletak pada persimpangan dua samudera dan dua benua. Posisi tersebut menjadikan Indonesia memeliki peranan yang penting jika dilihat dari segi geopolitik dan geostrategi dunia. Hal tersebut menjadi bahasan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) 2016 di Kuningan, Jawa Barat (12/11).

Menurut Ketua Komite Politik dan Pertahanan Presidium GMNI, Fariz Rifqi Ihsan, pembahasan kemaritiman menjadi hal yang strategis dalam Rakornas GMNI 2016 dikarenakan laut Indonesia memiliki potensi sumber daya energi, pangan, transportasi, dan lainnya.

“Perkembangan maritim Indonesia di tengah-tengah dua ide besar dunia,yaitu tentang Sea Line Of Communication dan New silk Road. Oleh karena itu, Indonesia harus memiliki konsepsi tersendiri untuk poros maritim dunia,” ujarnya.

Sambungnya, berdasarkan pemikiran Bung Karno selaku founding parents NKRI, Indonesia butuh sebuah konsepsi pengelolan laut dalam negeri dan membuat konsepsi tentang peranan maritim ke luar negeri yang berdasarkan TRISAKTI (Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi dan Berkepribadian kebudayaan-red) dan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif Indonesia.

“Jangan sampai poros maritim Indonesia hanya menjadi sub-ordinasi dari pada dua ide besar dunia di atas yang hanya berorientasi pada keuntungan negara lain dan adanya indikasi yang dapat merugikan rakyat Indonesia,” imbuh fariz.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Presidium GMNI, Chrisman Damanik menambahkan bahwa Indonesia juga harus bisa menjaga identitas dan kedaulatan maritim dalam mewujudkan poros maritim dunia. Menurutnya, rakyat Indonesia harus dapat mengakses sumber daya kelautan Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial.

Di sisi lain, Chrisman juga mengkritisi pengembangan poros maritim Indonesia yang hanya mementingkan pembangunan fisik.

“Kami melihat poros naritim hari ini hanya berfokus pada pembangunan fisik saja. Indonesia hari ini juga membutuhkan identitas nasional tentang budaya bahari untuk memperkuat identitas bangsa Indonesia sebagai negara maritim.

Selanjutnya, Ketua Organisasi Mahasiswa yang berlandaskan Marhaenisme ini menyerukan konsepsi baru guna mempertegas visi presiden poros maritim dunia berdasar keoriginalan bangsa Indonesia, yang sejatinya merupakan bangsa maritim sejak dulu.

“Kami akan membuat konsepsi untuk mempertegas poros maritim dunia untuk Indonesia seperti mengusulkan jalur rempah dunia baru. Jalasveva jayamahe,” pungkasnya.

Jalur rempah merupakan jalur pelayaran yang mementang dari Selat Malaka selaku pasar rempah hingga Maluku selaku produsen rempah yang juga menghubungkan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Bahkan jalur ini pun membentang hingga ke jalur pelayaran internasional menuju India, Timur Tengah, Madagaskar dan Eropa. (Tan/MN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *