KM Tampomas II yang terbakar di Perairan Masalembo
MN, Jakarta – 27 Januari 1981 atau 36 tahun silam, bangsa Indonesia berduka setelah mendengar kecelakaan kapal KM Tampomas II di Perairan Masalembo, Jawa Timur. Salah satu kecelakaan yang bersifat katastropik atau terbesar ini merengut korban jiwa hingga 431 orang (143 ditemukan dan 288 orang hilang bersama kapal).
Awan gelap melanda dunia pelayaran nasional kala itu. Kapal PT Pelni yang bertolak dari Dermaga Tanjung Priok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB itu memiliki tujuan Ujungpandang via Surabaya. Perjalanan seyogyanya memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB akan tiba.
Kapal membawa puluhan Kendaraan Bermotor termasuk Mesin Giling SAKAI, Skuter Vespa, dll yang diletakkan di Cardeck. Berdasarkan data Manifest Kapal menyebutkan, terdapat 191 Mobil dan 200 Motor di atas kapal. Dalam pelayaran tersebut, sebanyak 1055 Penumpang Terdaftar dan 82 Awak Kapal berada di atas kapal. Estimasi total penumpang adalah 1442 termasuk penumpang gelap.
Pada 24 Januari malam, tidak terjadi apa-apa. Yang terlihat hanyalah awan senja yang memukau dan pemandangan Laut Jawa yang datar. Namun diakui ombak Januari memang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan lain.
Pada 25 Januari Malam, sekitar Pukul 20.00 WITA, dalam kondisi badai laut yang hebat, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, dan puntung rokok yang berasal dari ventilasi menyebabkan percikan api. Para kru melihat dan mencoba memadamkannya menggunakan tabung pemadam portabel, namun gagal.
Api semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. Akibatnya selama 2 jam tenaga utama mati, dan generator darurat pun gagal (Failure) dan usaha pemadaman pun dihentikan karena sudah tidak memungkinkan.
Ditambah dengan bahan bakar yang ternyata masih terdapat di setiap kendaraan, menyebabkan api merambat dan membakar semua dek dengan cepat. 30 menit setelah api muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung menaiki sekoci.
Namun hal ini berlangsung lambat, karena hanya ada 1 pintu menuju dek atas. Begitu berada di dek atas, para ABK dan Mualim Kapal tidak ada yang memberitahu arah dan lokasi sekoci.
Tanggal 26 Januari pagi, Laut Jawa dilanda hujan yang sangat deras. Api mulai menjalar ke ruang mesin di mana terdapat bahan bakar yang tidak terisolasi. Akibatnya pagi hari tanggal 27 Januari, terjadi ledakan di ruang mesin dan membuatnya penuh oleh air laut. Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, yang mengakibatkan Kapal miring 45 derajat.
Akhirnya pada siang hari tanggal 27 Januari 1981 pukul 12.45 WIB atau pukul 13.45 WITA (sekitar 30 jam setelah percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.
Kapten Abdul Rivai termasuk yang terakhir meninggalkan kapal, sebelumnya ia sempat mengirimkan pesan kepada nakhoda KM Sangihe “Tolong kirimi saya air dan makanan, karena saya akan tetap berada di kapal sampai detik terakhir”. Kapten Abdul Rivai sendiri meninggal bersama kapal naas tersebut.
Praktis kejadian ini meninggalkan tanda Tanya besar bagi sebuah kalangan. Lambatnya tim penolong setelah KMP Tampomas II mengirimi pesan minta bantuan menjadi hujatan berbagai media massa saat itu.
Memang diakui bahwa medan di sekitar perairan Masalembo terbilang sulit. Area ini pun sering disebut sebagai kawasan Segitiga Bermuda Indonesia karena tempat pertemuan arus. Ditambah cuaca juga sangat buruk waktu itu.
Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam penjelasan persnya di kantor Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal yang abnormal di ruang mesin. Kelainan terjadi pada ruang geladak kendaraan, khususnya pada kendaraan roda dua yang terletak di sebelah belakang. Namun tetap alasan ini tidak dapat diterima publik.
Karena guncangan gelombang laut yang cukup kuat memungkinkan untuk timbul percikan api dan menyebar. Sementara itu, Masinis III Tampomas II Wishardi Hamzah mengatakan bahwa Tampomas II tidak memiliki sistem pendeteksi asap.
Salah satu musisi legendaris Indonesia Iwan Fals pada Album Sumbang (1982) merilis lagu ‘Celoteh Camar Tolol’ yang isinya kritikan terhadap tragedi Tampomas II. Dalam lirik lagu tersebut, jelas bagaimana sejarah KMP Tampomas II yang merupakan kapal bekas dan lambatnya pertolongan tim penyelamat.
Lagu bikinan musisi yang bernama Vigiawan Listanto ini dianggap mewakili kekecewaan publik terhadap peristiwa tragis itu. Berikut lirik lagu ‘Celoteh Camar Tolol’ karya Iwan Fals:
Api menjalar dari sebuah kapal
Jerit ketakutan
Keras melebihi gemuruh gelombang
Yang datang
Sejuta lumba lumba mengawasi cemas
Risau camar membawa kabar
Tampomas terbakar
Risau camar memberi salam
Tampomas Dua tenggelam
Asap kematian
Dan bau daging terbakar
Terus menggelepar dalam ingatan
Hatiku rasa
Bukan takdir tuhan
Karena aku yakin itu tak mungkin
Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia
Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia
Bukan bukan itu
Aku rasa kita pun tahu
Petaka terjadi
Karena salah kita sendiri
Datangnya pertolongan
Yang sangat diharapkan
Bagai rindukan bulan
Lamban engkau pahlawan
Celoteh sang camar
Bermacam alasan
Tak mau kami dengar
Di pelupuk mata hanya terlihat
Jilat api dan jerit penumpang kapal
Tampomas sebuah kapal bekas
Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas tuh penumpang terjun bebas
Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas
Tampomas kasus ini wajib tuntas
Tampomas koran koran seperti amblas
Tampomas pahlawanmu kurang tangkas
Tampomas cukup tamat bilang naas
Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…
Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…
Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…
Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…
Ditulis oleh: Arief Poyuono Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang berada di kisaran 5 %…