
MNOL, Jakarta – Polemik gugatan kerusakan terumbu karang Raja Ampat oleh kapal pesiar mewah MV Caledonian Sky dapat diulas juga berdasarkan kondisi Under Keel Clearance (UKC) dan squat pada kapal tersebut. Manajer Senior pada Divisi Aset PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) Sjaifuddin Thahir mengemukakan hal itu berdasarkan bidangnya yakni teknologi perkapalan.
Lulusan Perkapalan ITS ini mencoba menganalisa dari salah satu sudut pandang yaitu UKC dan squat. Karena hal itu merupakan sarat kapal maksimum dan aman untuk dapat melakukan navigasi di daerah yang dangkal, misalnya di perairan Raja Ampat.
“Kapal itu (MV Caledonian Sky-red) seharusnya menentukan perbedaan antara kedalaman laut tempat terumbu karang Raja Ampat dan UKC kapal yang diizinkan,” ujar Thahir biasa akrab disapa di Jakarta, (22/3).
Kedalaman laut Raja Ampat dapat diperkirakan pada kedalaman yang tertera dalam peta laut atau peta navigasi yang resmi dan up to date saat kejadian. Thahir yang sempat mengenyam pendidikan di Newcastle University ini menyatakan peta laut dan peta navigasi tentunya harus dikoreksi terlebih dahulu setiap saat.
“Harus dikoreksi dalam periode tertentu, katakan seminggu sekali, kalau bisa, sesuai dengan prosedur koreksi peta. Angka koreksinya ditentukan sesuai dengan perhitungan pasang dan surut air laut di perairan Raja Ampat. Apakah perairan Raja Ampat pasang surutnya relatif besar? atau perubahan Mean Sea Level kecil pasang surutnya? Tentunya harus diteliti terlebih dahulu,” ulas Thahir.
Untuk membantu para investigator, diduga kejadian kandasnya Caledonian Sky dapat disoroti dari sudut pandang petunjuk UKC kapal Caledonian Sky. UKC dapat diperkirakan oleh kapten kapal berdasarkan pada beberapa faktor.
“Karakteristik olah-gerak kapal Caledonian Sky. Apakah terdapat manouvering booklet yang tersedia di atas kapal? karena diduga kapal melakukan gerakan-gerakan yang berdampak kandas,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia mempertanyakan apakah kapten kapal Caledonian Sky secara akurat menentukan sarat kapalnya saat itu. Termasuk pengaruh adanya kepadatan air di Raja Ampat dan pengaruh kapal yang mengalami hogging atau sagging. “Tentunya kita juga harus punya data air laut di Raja Ampat,” tambahnya.
Kemudian pria asal Surabaya itu juga menanyakan apakah kapal Caledonian Sky mengalami squat, dimana squat ini disebabkan oleh karena kecepatan kapal. Fenomena kapal yang mengalami squat adalah suatu fenomena hidrodinamik dimana kapal bergerak cepat ke dalam air yang dangkal dan menciptakan daerah tekanan turun dan kapal menjadi lebih dekat ke dasar laut.
Fenomena ini terjadi bila air yang biasanya harus mengalir di bawah lambung menemui hambatan karena dekat dari lambung ke dasar laut. Hukum Leonardo mengatakan air bergerak lebih cepat di permukaan air. Sedangkan menurut teorema Bernoulli, kecepatan yang meningkat menentukan daerah tekanan rendah sehingga kapal yang ditarik ke bawah.
“Kapal mengalami squat adalah hasil dari kombinasi sinkage vertikal dan perubahan trim yang dapat menyebabkan kapal untuk mencelupkan ke arah buritan atau menuju haluan,” terangnya.
Thahir yang pernah menjadi ketua PPI Inggris di era 1980-an ini juga mempertanyakan apakah kapal Caledonian Sky mengalami peningkatan sarat karena trim. “Kondisi itu harus kita cek pada Voyage data recorder,” telisiknya.
Lebih dari itu, keadaan kapal Caledonian Sky apakah mengalami peningkatan sarat karena rolling, peningkatan sarat karena pitching, dan peningkatan sarat karena heaving juga harus dipertanyakan.
“Apakah kapten kapal secara akurat memperkirakan tingginya air pasang atau Mean Sea Level, tentunya hal ini harus tertera dalam VDR juga. Dan asumsi kapten kapal soal kedalaman laut juga harus sesuai yang dinyatakan dalam peta,” tandasnya.
Terakhir, pertanyaan kepada kapten kapal, sambung Thahir adalah apakah ia telah menghitung selisih pendangkalan perairan sejak survei kedalaman laut terakhir dilakukan. “Bila hal ini dipertanyakan maka Indonesia harus mempersiapkan semua data-data tersebut dengan valid dan up to date,” imbuh dia.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas UKC Caledonian Sky dapat ditentukan hasil penjumlahan clearance navigasi minimal ditambah koreksi karena kondisi laut dan koreksi karena kapal squat. Selain itu juga, koreksi karena kapal heave dan koreksi karena kapal trim serta koreksi karena kapal pitch kemudian koreksi karena kapal roll dan sebagainya harus menjadi sebuah investigasi yang holistic
“Pertanyaan-pertanyaan ini wajib dilakukan oleh tim investigasi untuk membantu proses gugatan ganti rugi kepada pihak MV Caledonian Sky,” pungkas Thahir.
Tentunya, pertanyaan itu juga akan menjawab fenomena ini apakah ada unsur kesengajaan atau tidak. Karena banyak kalangan di dalam negeri yang meyakini kandasnya MV Caledonian Sky itu adalah bagian dari sabotase pihak asing untuk mematikan pariwisata Indonesia.
(Adit/MN)






