
MNOL, Jakarta – Perihal pembangunan Terusan Kra di Thailand cukup mencengangkan dunia pelayaran internasional. Pasalnya, terusan yang memotong Thailand Selatan tersebut akan menghubungkan antara Laut Andaman dan Laut China Selatan, tanpa melewati Selat Malaka lagi.
Terusan ini memiliki panjang sekitar 102 km, lebar 400 meter dengan kedalaman lebih dari 20 meter. Pengerjaan kanal tersebut membutuhkan waktu 8-10 dengan estimasi biaya sekitar USD 28 milyar. China disebut-sebut pula sebagai negara yang akan membiayai proyek tersebut.
Tidak ketinggalan, berbagai asumsi di dalam negeri pun turut mewarnai hiruk pikuk pembangunan proyek tersebut. Tinjauannya seputar bagaimana dampaknya terhadap Indonesia dengan visi Poros Maritim Dunia-nya saat ini. Mereka mengkhawatirkan bukan hanya Singapura dan Malaysia yang mati jika terusan ini dibangun, tetapi Indonesia juga.
Pengamat intelijen dan pertahanan, Susaningtyas NH Kertopati yang kini juga ‘concern’ terhadap isu kemaritiman dan geopolitik Indonesia turut angkat bicara terkait hal ini. Ia menyatakan pembangunan ini sulit terlaksana mengingat daerah Thailand Selatan kini sedang bersitegang dengan pemerintahannya.
“Di Selatan Thailand ada separatis Patani Melayu Muslim, dalam kondisi tidak ada pemisah fisik saja mereka mau merdeka apalagi diberi pemisah fisik. Menurut saya ini menjadi pertimbangan Thailand juga,” kata Nuning biasa akrab disapa saat dikonfirmasi di Jakarta, (19/3).
Lebih lanjut, mantan Anggota Komisi I DPR RI ini mengungkapkan dalam sisi pelayaran, memang pembangunan Terusan Kra ini sangat bagus. Selain akan mempersingkat perjalanan sekitar 1.200 km antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dan juga bisa mempersingkat waktu pengiriman antara dua hingga lima hari dan menghemat sekitar 350 ribu dolar AS bahan bakar.
“Untuk jalur kapal langsung yang ke China, kan bagus saja. Berarti kita bebas externalities. Kapal jurusan Tanjung Priok ya bisa langsung bablas ke pelabuhan tanpa harus singgah lagi,” selorohnya.

Wanita yang kini aktif mengajar di berbagai Perguruan Tinggi tersebut mengaku kalau Terusan Kra dibangun yang jelas merugi adalah Singapura dan Malaysia. Indonesia memiliki banyak alternatif dalam menyiasati itu.
Nuning juga menyatakan soal kelestarian lingkungan terkait ramainya kapal di Selat Malaka yang berkurang juga menjadi dampak positif dibangunnya terusan ini.
“Karena berkurangnya jumlah kapal juga berarti mengurangi polusi laut di perairan Indonesia (Selat Malaka-red),” pungkasnya.
Potensi lain bagi Indonesia jika terusan ini dibangun ialah hidupnya Pelabuhan Sabang yang terletak di pintu masuk Terusan Kra dari Laut Andaman. Di mana saat ini pemerintah kurang memperhatikan Sabang sebagai zona strategis di Indonesia.
(Adit/MN)






