
MN, Jakarta – Pelabuhan dalam aktivitasnya mempunyai peran penting dan strategis untuk pertumbuhan industri dan perdagangan. Pelabuhan juga merupakan segmen usaha yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional seiring dengan visi Poros Maritim Dunia dan Tol Laut.
Hal ini tentunya membawa konsekuensi terhadap pengelolaan segmen usaha pelabuhan tersebut agar pengoperasiannya dapat dilakukan secara efektif, efisien dan profesional.
Persaingan dunia global saat ini menuntut kita untuk menjadi negara yang memiliki kemampuan lebih untuk bersaing. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dan kompetensi yang memenuhi berbagai standar internasional di bidang kepelabuhanan.
Assosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) dengan program Indonesia Maritime Learning Center (IMLC) menyelenggarakan Pelatihan di bidang Kemaritiman bekerjasama dengan Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Laut (BP2TL), Kementerian Perhubungan. Penyelenggaraan kegiatan Pendidikaan dan Pelatihan itu bertema “Manajemen Operator Terminal dan Badan Usaha Pelabuhan” Angkatan ke III yang berlangsung pada tanggal 4 – 8 September 2017.
Pendidikan dan Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Laut, Capt. Arifin Soenardjo, M.Hum. Dalam pidatonya ia menyampaikan dukungannya terhadap pelatihan ini guna menciptakan pelabuhan Indonesia yang baik dan disinggahi banyak kapal-kapal niaga internasional.
“Pelabuhan yang baik itu harus dikerjakan dengan system teknologi yang tinggi dan oleh SDM yang berkualitas. Saya meminta kepada seluruh peserta Pendidikan ini untuk berpacu dalam penguasaan teknologi,” tandas Capt. Arifin kepada seluruh peserta.
Senada dengan Capt. Arifin, Sekjen ABUPI Liana Trisnawati menyampaikan pentingnya anggota ABUPI untuk mengikuti pelatihan ini dalam rangka meningkatkan profesionalitas dalam mengelola pelabuhan.
“Kami sangat mendukung dan menekankan kepada member ABUPI untuk selalu meningkatkan kualitas SDM yang profesional sebagai pengelola pelabuhan yang berdaya saing tinggi, salah satunya yaitu melalui diklat seperti ini,” tegas Liana.
Hal itu karena ABUPI menyadari persaingan yang semakin ketat dan tuntutan kualitas SDM yang siap pakai guna mengoperasionalkan pelabuhan dengan spesifikasi internasional.
Liana menambahkan, bahwa penyelenggaraan diklat kali ini tidak saja diikuti oleh anggota ABUPI tetapi juga perusahaan yang belum menjadi anggota ABUPI dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain dari Aceh, Riau, Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jakarta.
“Dengan adanya pelatihan berbasis kompetensi ini diharapkan anggota ABUPI mampu memenuhi tuntutan tersebut,” pungkasnya.
Selain diklat di bidang pengelolaan pelabuhan, IMLC juga menyelenggarakan diklat untuk manajemen logistik dan shipping serta lainnya yang berhubungan dengan kemaritiman.






