Published On: Sun, Mar 31st, 2019

Pembangunan Industri Pertahanan yang Mandiri, Solusi Kekuatan Indonesia di Kancah Global

Direktur Maritim Strategic Center, Muhammad Sutisna (tengah)

MN, Jakarta -Dalam Debat Pilpres ke 4 yang berlangsung di Shang-Rila Hotel Jakarta tadi malam cukup berjalan menarik, meskipun belum mencapai substansi khususnya dalam perspektif keamanan dan pertahanan.

Terlihat dalam penyampaian dari masing masing paslon belum menemukan formula yang tepat dalam menghadapi permasalahan pertahanan dan keamanan Indonesia saat ini, khususnya di bidang alutsista dan kesejahteraan prajurit.

Paslon nomor 02, Prabowo Subianto hanya menyebutkan bahwa pertahanan Indonesia saat ini lemah, terutama dalam urusan alokasi anggaran, masih kalah jauh dengan Singapura dan Malaysia yang sudah di atas 2 persen dari total Gross Domeestic Product (GDP).

Sementara Paslon 01, Joko Widodo hanya menyampaikan capaian-capaian keberhasilan selama 4 tahun lebih di bidang pertahanan, seperti meningkatnya alokasi anggaran di bidang Pertahanan meskipun belum mencapai 2 persen dari total GDP. Tapi sudah mengalami kemajuan sebesar 1 persen dengan target 1,5 persen. Bila berkaca dari Dalam APBN 2019, anggaran Kementerian Pertahanan Rp 108,36 triliun atau sebesar 4,4 persen dari total anggaran belanja pemerintah sebesar Rp 2.461,1 triliun. Anggaran Kementerian Pertahanan tersebut merupakan terbesar kedua setelah anggaran Kementerian PUPR senilai Rp 110,7 triliun.

Hal tersebut menjadi perhatian, Direktur Maritim Strategic Center, Muhammad Sutisna di sela-sela diskusi yang diselenggarakan oleh Himapol Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Minggu (31/3),  dengan tema ‘Tantangan Ideologi Pancasila sebagai Ketahanan Nasional di Era Revolusi Industri 4.0’.

Sutisna menyerukan sudah saatnya Indonesia memiliki kemandirian dalam membangun industri pertahanan, guna memodernisasi alutsista yang sudah berumur. Menurut alumni FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, anggaran pertahanan yang telah disebutkan oleh capres petahana anggaran sangat kecil bila melihat begitu luasnya wilayah Indonesia. Belum lagi anggaran tersebut dialokasikan lagi dengan anggaran belanja pegawai dan memenuhi kesejahteraan prajurit serta operasional dalam menjaga kedaulatan, seperti patroli di perbatasan dll.

“Oleh karena itu di sinilah pentingnya membangun industri pertahanan dalam negeri. Memang tidak mudah bagi Indonesia untuk membangun Industri pertahanan yang berstandar internasional. Namun hal itu bisa saja terealisasikan asal pemerintah benar benar serius dalam mengelola industri pertahanan. Karena industri pertahanan saat ini selain bisa memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri, juga bisa menjadi penopang ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Sutisna.

Ia juga tidak sepakat apa yang dikatakan oleh Capres 02, yang menyatakan bahwa TNI kita lemah. Karena itu sama saja meragukan kekuatan militer yang dimiliki bangsa ini. Bila melihat dinamika global, meskipun masih banyak kekurangan, Indonesia berhasil masuk 15 besar kekuatan militer yang ada di dunia, berdasarkan data yang dihimpun oleh Global Firepower Index (GFI).

Sutisna juga menambahkan meskipun saat ini dalam situasi damai, dan Melihat Indonesia menganut sistem politik bebas aktif yang tidak memiliki permasalahan dengan negara manapun, di mana kebijakan yang dibutuhkan adalah bagaimana negara ini mampu mengatasi ancaman militer maupun nirmiliter. Dalam sudut pandang teori pertahanan, bagaimana suatu negara memiliki strategi untuk mengatasi ancaman dari luar yang sewaktu-waktu bisa menganggu stabilitas keamanan negara.

“Khususnya kondisi ancaman faktual yang dihadapi oleh bangsa saat ini di era global, dimana batas batas negara terlihat samar. Menyebabkan setiap negara memerlukan suatu pertahanan negara yang kuat, maka dari itu untuk memenuhi kebutuhan pertahanan negara, dibutuhkan suatu armada yang memadai,” bebernya.

“Oleh karena itu selain membangun industri pertahanan, negara juga harus memperhatikan kesejahteraan prajurit supaya meningkatkan daya juang untuk menjaga kedaulatan negara,” pungkas Sutisna.

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

alterntif text
alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google