oleh: Dr Dayan Hakim NS, Dosen Tetap Program MM Universitas Jayabaya
Dry port (atau pelabuhan daratan) adalah terminal logistik di darat yang terhubung langsung dengan pelabuhan laut. Berfungsi sebagai perpanjangan tangan pelabuhan utama, fasilitas ini memungkinkan pengurusan dokumen, pemeriksaan pabean, hingga penyimpanan kargo dilakukan di area industri terdekat tanpa harus menumpuk di pelabuhan laut.
Terdapat beberapa fungsi utama Dry Port, pertama sebagai Pusat Konsolidasi & Distribusi yakni tempat pengumpulan dan pembongkaran muatan peti kemas sebelum dikirim ke tujuan akhir atau pelabuhan. Fungsi kedua untuk mengurangi Kemacetan dengan memindahkan sebagian beban penumpukan kontainer dari pelabuhan utama ke area pedalaman. Fungsi ketia sebagai Layanan Kepabeanan Terpadu yakni memproses dokumen ekspor-impor secara langsung di wilayah industri.
Manfaat pertama adanya Dry Port adalah Efisiensi Waktu, yakni dengan memangkas waktu tunggu (dwell time) di pelabuhan utama karena proses administrasi selesai di kawasan terdekat. Manfaat kedua adalah terciptanya Integrasi Moda Transportasi yakni terhubung langsung dengan jalur kereta api atau jalan tol khusus, memungkinkan pergerakan kargo multimoda lebih cepat. Manfaat ketiga adalah penurunan biaya logistik dengan menurunkan biaya operasional dan logistik secara keseluruhan bagi pelaku usaha rantai pasok.
Hubungan utama antara dry port dan instansi pemerintah mencakup beberapa fungsi penting antara lain yang pertama adalah Pemeriksaan Bea Cukai. Petugas Bea Cukai hadir langsung di dry port. Mereka memeriksa barang ekspor dan impor serta mengurus pembayaran pajak/bea masuk. Instansi berikutnya adalah Kantor Karantina. Instansi seperti Karantina Pertanian dan Karantina Ikan memeriksa hewan, tumbuhan, dan makanan yang masuk atau keluar. Hal ini untuk memastikan barang aman dan bebas penyakit. Dari sisi perizinan dan Regulasi maka Kementerian Perhubungan mengeluarkan izin operasi dan mengatur standar keselamatan.
Disamping itu Pemerintah Daerah memastikan pemakaian kelayakan jalan dan tata ruang wilayah. Dari aspek Sistem Logistik Nasional maka Dry port adalah bagian dari program National Logistics Ecosystem (NLE). Instansi pemerintah bekerja sama dengan pengelola dry port untuk menghubungkan data digital. Hal ini membuat biaya logistik lebih murah dan antrean di pelabuhan laut berkurang
Salah satu dry port publik terbesar di Indonesia saat ini adalah Cikarang Dry Port di kawasan industri Kota Jababeka, Bekasi. Fasilitas ini dilengkapi dengan kode pelabuhan internasional (kode UN/LOCODE: IDJBK), sehingga importir dan eksportir dapat melakukan pengiriman kargo langsung dari dan ke seluruh dunia melalui lokasi ini.
Arah pengembangan dry port (pelabuhan daratan) di Indonesia bergeser dari sekadar membangun fasilitas fisik ke integrasi rantai pasok nasional. Strategi ini fokus pada konektivitas moda transportasi massal, efisiensi biaya logistik, dan pemerataan ekonomi di luar pulau Jawa.
Saat ini di provinsi Jawa Tengah terdapat sekaligus dua proyek Dry Port yang sedang direncanakan atau dibangun untuk mendukung kawasan industry. Yang pertama adalah WELPort (Weleri) yang terintegrasi dengan Kawasan Industri Kendal (KIK) Jababeka. Proyek Dry Port atau pelabuhan darat di Weleri rencananya berlokasi di wilayah Desa Penaruban, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah yang akan terintegrasi dengan Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah. Pelabuhan darat ini dibangun atas kerja sama antara PT Jababeka Tbk dan pemerintah setempat untuk mendukung kelancaran distribusi logistik.
Dryport berikutnya adalah Pembangunan dry port (pelabuhan darat) berbasis rel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang (Kawasan Industri Terpadu Batang / KITB), Jawa Tengah, tengah dikebut melalui kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan mitra strategis. Proyek di atas lahan sekitar 30 hektare ini diproyeksikan memiliki kapasitas awal 600.000 hingga 650.000 TEUs per tahun untuk memperkuat efisiensi logistik ekspor-impor.
Perbedaannya adalah dwelling time ekspor-impor pabrik lokal secara instan. Sedangkan Welport berada di luar kawasan (Kendal barat) dan bertindak sebagai simpul penangkap barang dari beberapa wilayah sekitarnya seperti Kawasan Industri Kendal. Dry Port Batang didesain dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) industri. Sedangkan Welport mengoptimalkan keunggulan geografis Stasiun Weleri dan jalur rel eksisting kereta api logistic sebagai penghubung dengan Kawasan Industri Kendal.
Perbedaan utama anggaran biaya antara Dry Port Batang (Kawasan Industri Terpadu Batang/KITB) dan WELPort (Weleri Dry Port) terletak pada nilai investasi awal dan skala pengembangannya. Dibangun diatas lahan seluas 50 hektar dialokasikan untuk menyerap potensi logistik masif dari puluhan pabrik baru di dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, proyek Dry Port KITB Batang membutuhkan investasi awal sekitar Rp2,4 triliun untuk membangun container yard dan infrastruktur rel. Pendanaan ini mencakup integrasi penuh dengan Pelindo dan PT KAI untuk terminal intermodal.
Sementara itu, WELPort merupakan proyek terpisah berbasis rel di koridor logistik Weleri yang diusulkan menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN), namun rincian total pagu anggarannya belum dipublikasikan secara masif sebesar hub utama KITB. Alokasi anggaran untuk WELPort di Weleri lebih diarahkan pada penguatan rantai pasok distribusi kargo umum serta sektor pertanian di sepanjang pulau Jawa.
Hubungan kerjanya dikembangkan bersama tim ekosistem logistik kereta api guna mempercepat efisiensi biaya angkut regional. Saat ini proses pembebasan lahan untuk pembangunan WELPort di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, masih terkendala berakar dari statusnya yang belum memiliki penetapan lokasi resmi karena masih dalam tahap pengkajian intensif dan penyelarasan perizinan. Proyek pelabuhan darat hasil inisiasi Cikarang Dry Port dan PT KAI ini dirancang untuk menopang logistik Kawasan Industri Kendal (KIK).
Hingga kini, proyek WELPort belum menerbitkan Surat Keputusan Penetapan Lokasi resmi dari pemerintah daerah.Tanpa adanya Penlok, Badan Pertanahan Nasional (BPN) belum dapat melakukan pengukuran kadastral maupun inventarisasi yuridis terhadap lahan-lahan warga yang akan terdampak. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kendal bersama pengembang masih melakukan mediasi dengan kepala desa setempat untuk merampungkan masalah perizinan. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) harus diselesaikan terlebih dahulu untuk memetakan dampak tata ruang, risiko banjir, serta kepadatan lalu lintas di jalur Pantura sebelum lahan resmi dibebaskan.
Kendala administratif sering muncul dalam menyelaraskan batas tanah milik negara (aset KAI) dengan lahan milik warga setempat atau tanah kas desa, yang memerlukan payung hukum kuat agar tidak terjadi tumpang tindih kepemilikan. Seperti pola umum pada pengadaan tanah fasilitas publik di Indonesia, potensi ketidaksepakatan nilai ganti untung (apraisal) dari tim independen sering kali membayangi proses pembebasan begitu lokasi mulai dipatok. Kekhawatiran warga sekitar mengenai dampak operasional peti kemas (seperti polusi dan kemacetan) memicu perlunya pendekatan sosial yang lebih persuasif sebelum transaksi lahan dimulai.
Pilihan antara Dry Port Batang dan WELPort (Weleri Dry Port) sangat bergantung pada lokasi basis industri Anda dan skala volume pengapalan yang dibutuhkan. Keduanya merupakan infrastruktur logistik darat berbasis rel yang strategis di Jawa Tengah, namun dirancang untuk melayani ekosistem yang berbeda. Dryport Batang dikhususkan untuk melayani tenant di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang. Dryport Batang berada di dalam KEK sehingga memberikan banyak keuntungan insentif pajak/fiskal.
Dryport Batang sangat ideal untuk komoditas manufaktur besar (seperti panel surya, kaca, pipa) yang membutuhkan integrasi kepabeanan satu atap langsung ke pelabuhan laut utama. Infrastruktur ini siap menampung hingga 30 rangkaian kereta kontainer sekaligus sebagai layanan terpadu untuk Kawasan Industri Batang.
Welport diharapkan dapat menjadi penopang utama logistik Kawasan Industri Kendal (KIK) dan distribusi agrikultur. Saat ini baru akan diusulkan menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk distribusi logistik & pertanian. Welport terintegrasi erat dengan jaringan logistik PT KAI untuk distribusi darat lintas Jawa. WELPort dirancang khusus sebagai hub distribusi produk pertanian dan pangan di sepanjang koridor Jawa. Sangat efektif untuk perusahaan yang mengandalkan moda kereta api logistik lintas pulau Jawa secara berkelanjutan.
Secara umum, Dry Port Batang lebih unggul dalam hal kapasitas makro dan fasilitas fiskal KEK untuk industri manufaktur berat yang berorientasi ekspor. Sementara WELPort menjadi pilihan terbaik jika efisiensi operasional Anda berpusat di wilayah Kendal serta membutuhkan fleksibilitas distribusi komoditas pangan atau domestic. Dalam peta logistik nasional dan regional Jawa Tengah, Dry Port Batang dinilai jauh lebih utama dan konkret dibanding Welport (Weleri Port/Terminal Logistik Weleri) karena telah masuk dalam proyek strategis di Kawasan Industri Terpadu Batang dengan investasi masif dan integrasi rel, sementara Welport masih dalam tahap kajian atau usulan awal.
Dari uraian diatas maka penulis menyarankan agar pemerintah fokus untuk menyelesaikan pembangunan Dryport Batang terlebih dahulu dan menunda pembangunan Welport Kendal. Hal ini disebabkan beberapa hal yakni Dry Port Batang sudah berjalan pada tahap pembangunan fisik dan peletakan batu pertama, didukung langsung oleh ekosistem KEK Batang. Sedangkan Welport Kendal baru sebatas konsep. Kapasitas Dryport Batang jauh lebih besar.
Dryport Batang sudah menjadi Proyek Strategis Nasional untuk menunjang kawasan industri terpadu langsung di pusat produksi dan diproyeksikan mampu menampung ratusan ribu TEUs kargo industri di kawasan Pantura, menjadikannya simpul utama rantai pasok ekspor-impor. Sedangkan Welport Kendal baru dalam proses usulan Proyek Strategis Nasional dengan kapasitas yang jauh lebih kecil dibandingkan Dryport Batang.
Dengan diselesaikannya pembangunan Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang diharapkan dapat memangkas biaya logistik nasional secara signifikan, mempercepat waktu distribusi barang, dan meningkatkan daya tarik investasi global di Jawa Tengah. Dampak multiplier efeknya adalah mendorong target realisasi investasi kawasan hingga Rp60 triliun serta meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal secara masif dalam beberapa tahun ke depan. ***
Surabaya (Maritimnews) - Tidak ada bukti selama persidangan adanya aliran Dana ke enam Karyawan PT…
Bandar Lampung (Maritimnews) - Peran pelabuhan laut sebagai pintu gerbang perdagangan dan perekonomian, membutuhkan keberadaan…
Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) untuk tidak hanya unggul dalam…
Bandar Lampung (Maritimnews) - Kehadiran Quay Container Crane (QCC) tipe Post Panamax di IPC TPK…
Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional yang solid…
Oleh: Djusman H Umar Praktisi Ketenagakerjaan & Ketua Harian Federasi BUMN Bersatu (FSP BUMN Bersatu)…