
MNOL, Jakarta – Dalam Rapat Pimpinan TNI AL sebagai tindak lanjut dari Rapat Pimpinan TNI kemarin, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi menyatakan urgensi Armada Ketiga tetap dalam fokus pembahasan perencanaan TNI AL memasuki tahun 2017 ini.
“Ke depan kita akan ada 3 armada. Jadi tidak 2 armada seperti saat ini. Sebenarnya dari tahun 1967 kita sudah mengkonsepkan 3 armada, yakni ada Armada Siaga, Nusantara, dan Samudra. Nah kemudian pada tahun 1970 hanya satu yang disepakati dan pada tahun 1987 jadi dua komando armaa kawasan barat dan timur,” terang Kasal kepada wartawan, di Auditorium Mabes TNI AL, Jumat (20/1).
Hal itu ia sampaikan mengingat kebutuhan mendasar TNI AL saat ini di tengah semakin dinamisnya ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan di perairan yurisdiksi nasional. Selain itu juga untuk efisiensi dan efektifitas operasi pengamanan laut.
Saat ini area cakupan tugas Koarmatim meliputi periaran Tegal hingga Papua. Hal ini yang mengakibatkan sulitnya optimalisasi pengamanan laut NKRI khususnya di wilayah timur Indonesia.
Kemudian saat ditanya letak armada baru TNI AL, jebolan AAL tahun 1983 ini hanya memberikan isyarat di Papua. Namun lebih khusus lagi antara Sorong dan Manokwari.
“Kebutuhan suatu armada itu sangat kompleks, wilayahnya harus bisa memenuhi semua aspek termasuk dermaga, pangkalan dan sarana perbaikan kapal,” bebernya.
Saat ini Sorong yang tadinya sebuah Pangkalan TNI AL (Lanal) naik status menjadi Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal). Hal itu untuk mendorong percepatan terbentuknya armada baru di wilayah timur Indonesia.
Tentunya, pembangunan armada yang ideal akan dikerjakan secara bertahap pada tahun 2017 ini. Proyeksi ini juga mengikuti kebijakan pemerintah dan anggaran.
Lebih lanjut, mantan Kasum TNI ini menjelaskan bahwa proyeksi armada ketiga di Sorong sudah dikaji sejak tahun 2004. Kajian itu didasarkan dari pengamanan 3 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), di mana wilayah timur terdapat ALKI III A, B dan C.
“Nantinya di lokasi-lokasi pos komando harus di-setting dengan pertimbangan dukungan logistik. Paling tidak setiap tahun ada durasi operasinya makannya itu harus kita siapakan banyak kapal perang,” tandas Ade.
Sambungnya, pendirian suatu armada itu juga tidak hanya dari infrastruktur dan alutsistanya saja melainkan dari kesiapan SDM-nya juga harus diperhatikan. Maka dari itu, dalam rangka penyiapan SDM yang berkwalitas, Mabes TNI AL juga kerap membuat pelatihan-pelatihan baik dengan matra lain maupun luar negeri.
“Jadi kita bertahap baik pembinaan personel maupun alutsistanya, Di negara lain juga sama. Ada satuan kapal yang kita pelihara di lokasi yang mmungkinkan pemeliharaannya bisa maksimal misalnya seperti kapal selam.Antara Sorong dan Manokwari kerena berdekatan juga telah memenuhi kriteria itu,” jelasnya.
Sorong yang saat ini menjadi Lantamal XIV juga sudah memenuhi beberapa aspek termasuk pembinaan SDM-nya. Hal ini memang sudah dipersiapkan secara matang oleh Mabes TNI AL dalam rangka memenuhi standar sebagai World Class Navy.
“Penyiapan pangkalan itu sebtulnya kita sudah bangun itu di Sorong.yang berawal dari Lantamal dulu. Ada beberapa orang yang sudah kita sediakan di Sorong yang kelak menjadi Armada Timur,” pungkasnya. (Tan/MN)






