Published On: Tue, Feb 21st, 2017

Mengenal Sosok Mas Pardi, Bapak Ilmu Pelayaran

Laksamana Muda TNI Mas Pardi

MNOL, Jakarta – Mungkin tidak banyak yang mencatat namanya dalam deretan tokoh pejuang 45. Akan tetapi jasanya terhadap kemajuan bangsa dan negara dari pembangunan aspek kemaritiman sangat besar.

Selain tercatat sebagai pendiri BKR Laut (cikal bakal TNI AL) sekaligus Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) pertama, Laksamana Muda TNI (Purn) Mas Pardi juga dinobatkan sebagai Bapak Ilmu Pelayaran Indonesia. Pasalnya, Mas Pardi lah pencetus berdirinya Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) pada tahun 1957, yang kini bernama Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP).

Berdasarkan data yang dihimpun dari Subdisjarah Dispenal, Mas Pardi dilahirkan di Ambarawa, pada 1 Oktober 1901. Dia sudah aktif dalam dunia pelayaran sejak masa penjajahan Belanda. Masuknya Jepang pada tahun 1942 ke Indonesia, Mas Pardi yang termasuk sebagai Pelaut Senior di kalangan pribumi melanjutkan karirnya ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) yang dibentuk oleh Kaigun (Angkatan Laut Jepang).

Bersama dengan Sudomo, Ali Sadikin, dan RE Martadinata, yang merupakan murid-muridnya di SPT, Mas Pardi aktif menjadi instruktur untuk para pelaut muda. Menjelang kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Mas Pardi dan barisan pelaut atau bahariwan Indonesia turut mengawal pembacaan Teks Proklamasi di Jl Pegangsaan Timur No. 56 bersama Barisan Pelopor.

Memang kiprah para bahariwan di sekitar Proklamasi Indonesia itu tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah. Mungkin generasi saat ini hanya mengetahui Barisan Pelopor, Pemuda Menteng 31, Eks PETA dan sebagainya dalam sepak terjangnya mengawal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Padahal peran bahariwan juga tergolong besar dalam pra dan pasca kemerdekaan Indonesia. Pada 10 September 1945, Mas Pardi menggalang kembali bahariwan Indonesia yang tercecer dalam suatu wadah bernama BKR Laut. Badan ini yang kemudian bertransformasi menjadi TKR Laut dan turut serta dalam menggelar aksi pertempuran melawan Sekutu/Belanda baik di laut maupun darat di berbagai daerah Indonesia.

Pasukan BKR Laut

Setelah merampungkan keorganisasian TKR Laut, Mas Pardi yang termasuk kalangan sepuh (seusia dengan Bung Karno) digantikan oleh Mohammad Nazir sebagai pucuk pimpinan badan pertahanan matra laut. Selanjutnya, Mas Pardi aktif kembali dalam dunia pendidikan pelaut dan bekerja di jawatan pelayaran di Yogyakarta.

Pasca pengakuan kedaulatan, pemerintahan Indonesia tengah berbenah dalam memperbaiki struktur kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam tubuh Angkatan Laut. Seiring dengan dibangunnya IAL – Institut Angkatan Laut (sekarang AAL) pada tahun 1953, Bung Karno sudah mencanangkan Indonesia sebagai negara maritim yang besar.

Pidatonya yang terkenal saat peresmian IAL ialah sebagai berikut: Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya…, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekadar menjadi jongos-jongos di kapal, bukan! Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawati samudra. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.

Di tahun yang sama, atas usulan Mas Pardi, Badan Diklat Perhubungan Republik Indonesia mendirikan Akademi Ilmu Pelayaran yang menyelenggarakan Program Diploma III (setara dengan BSc) dengan 2 jurusan antara lain: Nautika dan Teknika (sertifikat kompetensi Klas III) dengan lama pendidikan 3-4 tahun.

Baru pada 27 Februari 1957, AIP diresmikan oleh Bung Karno. Saat itu juga menjadi Akademi Pelayaran Pertama di Indonesia dengan lokasi kampus yang berada di Jl. Gunung Sahari, Mangga Dua Ancol, Jakarta Utara.

Mas Pardi pun ditunjuk sebagai juga sebagai pengajar di AIP. Sementara kepala AIP pertama ialah HP Kalangi, seorang Indo Belanda yang aktif juga dalam dunia kepelautan. Tugas lembaga pendidikan ini hanya satu yaitu menyiapkan SDM Pelaut Indonesia yang andal dan terampil, sebagaimana isi pidato Bung Karno pada saat meresmikan IAL.

Berdasarkan pengalamannya di dunia pelayaran sejak zaman Belanda dan Jepang, hingga menjadi pimpinan BKR Laut, Mas Pardi meletakan sendi-sendi kepelautan Indonesia. Hal itu menjadi jembatan lintas zaman sejak masa Sriwijaya dan Majapahit hingga masa kemerdekaan yang bercita-cita menjadi negara maritim atau Mercusuar Dunia.

Taruna STIP

Mengingat SDM Pelaut merupakan pilar utama dalam pembangunan negara maritim, AIP hasil besutan Mas Pardi telah menjawab hal tersebut. Konon, atas dasar itulah Perdana Menteri Djuanda pada 13 Desember 1957 berani mengeluarkan keputusan bersejarah dalam dunia kemaritiman Indonesia yang disebut Deklarasi Djuanda.

Karena tidak mungkin seorang pimpinan membuat keputusan tanpa disertai dengan kesiapan SDM yang memadai. Lulusan AIP itu yang kelak akan menjadi tulang punggung negara maritim hingga saat ini.

Mas Pardi meninggal pada 13 Agustus 1968, disematkan sebagai Bapak Ilmu Pelayaran. Jasanya tetap terkenang hingga kini dalam guratan tinta sejarah pelaut Indonesia. Ada beberapa kalangan yang mengusulkan hari lahir Mas Pardi pada 1 Oktober 1901 menjadi Hari Pelaut Indonesia, yang saat ini belum ada. (An/MN)

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha