Published On: Sat, Sep 23rd, 2017

Sang Nakhoda Agung Negara Maritim itu Bernama Soekarno

Bung Karno, Sang Nakhoda Agung Negara Maritim Indonesia

MN, Jakarta – Sepak terjang pembangunan Indonesia tidak lepas dari peran Sang Proklamator Indonesia Ir, Soekarno. Kendati tidak memiliki background pendidikan maritim di zamannya, murid HOS Tjokroaminoto itu dikenal sebagai pemimpin yang terpatri ocean leadership dalam jiwanya.

Setelah menginisiasi Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 dan dilanjutkan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, pria yang akrab disapa Bung Karno itu menitik beratkan kemaritiman dalam pola pembangunannya.

Pada 23 September 1963, Bung Karno selaku Pemimpin Besar Revolusi menggelar Musyawarah Nasional Maritim pertama di sekitar Tugu Tani, Jakarta. Seluruh stakeholder maritim nasional hadir dalam acara tersebut untuk memberikan kontribusinya dalam arah pembangunan maritim.

Di event itu pula, Bung Karno disematkan menjadi Nakhoda Agung NKRI yang bercita-cita menjadi negara maritim yang besar guna meneruskan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

Nakhoda yang berarti pemimpin kapal, agung artinya besar dan mulia, jadi Presiden Soekarno adalah pemimpin besar bangsa ini, Nakhoda Agung bagi bangsa yang memiliki laut yang lebih luas dari daratannya atau istilah lainnya merupakan negara kepulauan yang bercorak bahari.

Hari itu pula oleh Bung Karno diperingati sebagai Hari Maritim Nasional melalui Keppres Nomor 249/1964. Peringatan itu terus diperingati setiap tahun oleh pemimpin-pemimpin berikutnya. Namun hari ini, peristiwa sejarah itu bak tertelan bumi seiring berubahnya mindset pembangunan bangsa Indonesia.

Dalam kepemimpinannya, Bung Karno ingin menjadikan Indonesia sebagai Mercusuar Dunia dengan menjadikan sektor maritim dalam orientasi pembangunannya. Hal itu ditandai dengan membangun Kompartemen Maritim yang dipimpin oleh Letjen KKO Ali Sadikin dan beberapa industri maritim.

TNI AL di masa Bung Karno dalam rangka merebut Irian Barat melalui operasi Trikora juga terbilang dahsyat. KRI Irian dan 12 kapal selam kelas Whiskey yang didatangkan dari Uni Soviet menjadi kekuatan ampuh armada tempur kita yang ditakuti di kawasan saat itu.

Untuk mengingatkan kembali peristiwa itu, sekaligus sebagai sarana pembangunan karakter maritim untuk usia dini, Deputi IV Kemenko Maritim bekerja sama dengan RRI pernah mengangkat kisah itu dalam sebuah sandiwara radio.

Di-launching pertama kali pada 27 Februari 2017, dengan episode pertama berjudul ‘Nakhoda Agung’. Program yang diberi nama Drama Dapunta itu diambil dari nama raja pertama Kerajaan Sriwijaya, yang merupakan kerajaan maritim pertama di Nusantara.

Dalam menuju Poros Maritim Dunia saat ini, kisah Bung Karno sebagai Nakhoda Agung NKRI perlu dijadikan suri tauladan yang baik. Dengan semangat gotong royong dan musyawarah mufakat sebagai intisari dari Pancasila, Bung Karno menggerakan pembangunan maritim hingga akhir kepemimpinannya.

Hal yang sangat berbeda hari ini, di mana karakter ego sektoral dan individualistik mendominasi pola pembangunan maritim sekarang. Sehingga raport merah masih banyak dialami oleh pemerintah sekarang dalam membangun kemaritiman nasional.

Diharapkan tongkat estafet kepemimpinan dalam membangun negara maritim yang dilandaskan Pancasila dan UUD 1945 terus berlanjut di pemimpin saat ini dan yang akan datang. Sehingga kejayaan maritim Indonesia sebagai bangsa yang besar menjadi suatu keniscayaan.

(Adit/MN)

About the Author

-

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha