Published On: Thu, Mar 17th, 2016

Tabuik Pariaman, Festival dan Ritual Unik Pesisir Barat Sumatera

Keramaian Saat Tabuik

Keramaian Saat Tabuik

Maritimnews – Jakarta, Indonesia memang dianugerahi kekayaan budaya yang amat besar. Tiap provinsi memiliki keunikan tersendiri. Suku bangsa yang beragam merupakan anugrah Tuhan yang tak ternilai harganya. Dari tiap – tiap suku bangsa tersebut pun ternyata masih menyimpan keragaman yang bila diperhatikan terdapat keunikan yang sangat memesona.

Salah satu suku bangsa terbesar di tanah air adalah suku Minang atau Minangkabau dari Sumatera Barat. Suku bangsa yang terkenal sebagai perantau dan ahli berniaga ini ternyata juga memiliki keanekaragaman buadaya yang khas pada tiap – tiap bagian daerah. Seperti salah satu ritual yang yang berasal dari daerah Pariaman berikut, Tabuik, yang tidak terdapat di ranah Minang lainnya. Meskipun ada ritual serupa di daerah Bengkulu bernama Tabot.

Tabuik bisa diartikan peti, berbentuk patung seekor burak, yaitu kuda berkepala manusia perempuan yang memiliki dua sayap dan ekor yang lebar dan di punggungnya terdapat peti dengan hiasan-hiasan yang cantik dengan sebuah payung kertas di puncaknya. Keseluruhan bahan dasar patung ini terbuat dari rangka bambu, rotan, dan kayu, yang kemudian diberi hiasan kain dan kertas warna-warni.

Festival Tabuik diadakan setiap tanggal 10 Muharam dalam penanggalan Hijriah. Setiap tahun ada dua tabuik setinggi 12 meter yang dikeluarkan ke tengah kota dan akan disaksikan oleh ribuan pengunjung. Kemudian kedua tabuik tersebut digotong dengan diiringi irama Gendang Tasa ke Pantai Gandoriah.

Pembuatan Tabuik sendiri tidak bisa sembarangan, ada setidaknya tujuh prosesi ritual yang yang harus dilalui dalam pembuatannya di tanggal 1 s.d 10 Muharam. Karena memang pada dasarnya Tabuik bukan merupakan sekedar hiasan, ada makna ritual di dalamnya. Tangan – tangan terampil pembuat Tabuik adalah para lelaki yang secara turun temurun mengerjakan pembuatannya di dua Rumah Tabuik yaitu Rumah Tabuik Subarang dan Rumah Tabuik dan Rumah Tabuik Tasa. Rumah Tabuik adalah rumah keluarga pewaris budaya tabuik yang dibawa oleh bekas tentara Inggris Raya asal Sepoy, India, setelah dibubarkan ketika Inggris hengkang dari Bengkulu pada 1824.

Acara Tabuik adalah peringatan Hari Assyura atau hari berkabung atas kematian Imam Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW yang tewas di Padang Karbala pada 10 Muharam 61 Hijriah atau 680 Masehi. Agak sedikit unik memang, karena ritual ini sedikit berbau Syiah dan Pariaman sendiri bisa dikatakan tidak ada penganut Syiah, dan bilapun ada mungkin hanya dalam jumlah kecil dan tidak membentuk satu komunitas tersendiri.

Tabuik dianggap perwujudan sesosok Burak yang membawa peti di punggungnya untuk mengangkut jenazah Imam Hussain bin Ali. Dikisahkan, Burak datang setelah kematian Hussein beserta pasukannya oleh pasukan Khalifah Yazid dalam pertempuran di Karbala. Lalu, Burak tersebut terbang ke angkasa membawa jenazah tersebut. Seperti itulah makna Tabuik diarak lalu selanjutnya dibuang ke laut. Itu adalah puncak dari proses ritual yang telah dimulai sejak 1 Muharam hingga 10 Muharam, yang dimulai dengan mengambil tanah di muara sungai, mengarak jari-jari dan sorban lalu pada 10 Muharam diterbangkan ke Samudera Hindia.

Melarung Tabuik ke laut merupakan acara rutin tahunan setiap 10 Muharam di Pariaman sejak 1831. Tidak begitu jelas bagaimana ritual yang ritual Perayaan Asyura bagi pemeluk Islam aliran Syiah ini bisa sampai ke Pariaman dan menjadi agenda rutin tiap tahunnya. Namun diperkirakan ritual ini dibawa ke Pariaman oleh para pendatang asal Sepoy, India, yang memang menganut Syiah. Pada waktu itu Pariaman merupakan kota pelabuhan terkemuka di pantai barat Sumatera. Berbagai macam suku bangsa tinggal di sana, termasuk Aceh dan Arab yang juga beragama Islam dan para pendatang asal Sepoy ini sebelumnya merupakan para prajurit Kerajaan Inggris asal India yang dibawa oleh Thomas Stamford Raffles yang pada awalanya bermarkas di Bengkulu. Hal ini pula yang memungkinkan terdapatnya ritual serupa di Bengkulu.

Setelah Traktat London antara Inggris dan Belanda pada 17 Maret 1829, wilayah pesisir barat Sumatra yang pada awalnya dikuasai oleh Inggris, diserahkan kepada Belanda dan sebagian prajurit Sepoy memilih tetap tinggal di Pariaman. Mereka itulah yang kemudian menganjurkan diadakannya perayaan Asyura dengan membuat Tabuik untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad SAW tersebut.

Seperti disebutkan sebelumnya, penduduk Pariaman sendiri bukanlah penganut Syiah. Mereka adalah penganut Mazhab Syafii yang dibawa Syekh Burhanuddin, ulama penyebar Islam pertama di Sumatera Barat. Metode penyebaran agama yang dilakukannya sangat persuasif, serta toleran terhadap adat yang tidak bertentangan dengan nilai – nilai Islam, selain itu dilakukan juga melalui pendekatan kultural . Besar kemungkinan apa yang dilakukan oleh Beliau memiliki peran dalam diterimanya perayaan Tabuik di Pariaman.

About the Author

- Redaktur

Tulis Tanggapan Anda

Komentar menjadi tanggung jawab pembaca. Redaksi Maritimnews berhak melakukan moderasi terhadap komentar yang diberikan sesuai dengan etika jurnalistik.

XHTML:You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha