Maritimnews, Pontianak – Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Pontianak, (10/2/16) antara lain membahas mengenai evaluasi penanggulangan bencana asap akibat kebakaran hutan beberapa bulan lalu dan tindak pencegahannya. Rapat yang dihadiri oleh perwakilan K/L, TNI-Polri, dan Pemerintah Daerah itu dipimpin oleh Kepala BNPB Laksma (Purn) Willem Rampangilei.
Dalam sambutannya mengawali jalannya rapat, mantan Danlantamal VIII Manado itu berharap kepada semua pihak untuk bersatu padu dan bergotong royong dalam menghadapi berbagai bencana yang melanda tanah air kita belakangan ini. Terutama masalah kabut asap yang sempat menggegerkan negeri ini selama kurang lebih 3 bulan.
Hal tersebut dinilai sebagai bencana asap terburuk sepanjang sejarah terjadinya bencana itu dari era 1960-an.
Ke depan, Kepala BNPB tidak ingin kejadian serupa berulang lagi. Dia optimis, Indonesia akan dapat mengatasi segala bencana yang ada asalkan kita bersatu padu.
Sementara itu, Mabes TNI yang diwakili oleh Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim mengemukakan dalam mengatasi bencana kita tidak dapat lepas dari prinsip Geographichal Awareness kita yang merupakan corak negeri bahari.
Ha itu didasari dari luas lautan kita yang jumlahnya 2/3 ketimbang luas daratan. Selain itu, Indonesia merupakan negara Kepulauan terbesar dengan panjang garis pantai mencapai 99.000 km.
Lulusan AAL tahun 1995 itu dalam rapat tersebut juga mengutarakan pentingnya semangat bahari yang menjadi keunggulan dalam membangun kejayaan Negara Maritim yang maju, mandiri dan bermartabat. Sehingga dalam bencana apa pun memerlukan strategi budaya untuk menyiapkan generasi muda yang berkeyakinan diri, sanggup mengambil tanggung-jawab di masa depan, dan memiliki wawasan kebaharian yang mendalam, serta didukung oleh keterampilan bahari yang andal.
“Strategi budaya ini merupakan pemicu bagi transformasi jangka panjang menuju budaya Indonesia yang lebih berorientasi pada kebaharian terutama bagi generasi mudanya,” ujarnya saat dihubungi maritimnews.com.
Penulis buku ‘Kodrat Maritim Nusantara’ itu optimis pada saat rakyatnya memiliki karakter maritim yang kuat maka segala bencana akan dapat ditanggulangi. Tentunya dengan ditopang oleh karakter persatuan dan keterpaduan yang kuat dari setiap instansi.
“Ciri karakter bahari bagi Indonesia itu adanya persatuan dan gotong royong yang kuat,” tandasnya.
Pasalnya, saat ini banyak instansi yang ingin menjadi leading sector dalam pencegahan kebakaran hutan. Sehingga menurutnya, hal itu dinilai anomali dan kurang efektif.
Maka dari itu, mantan Komandan KRI Untung Suropati itu menegaskan perlunya pembenahan sikap sektoral dengan kepemimpinan maritim yang kuat dan cenderung ekstrovet bukan seperti pola fikir kontinental yang introvet.
Selanjutnya, Salim mengutip pernyataan sejarawan Ong Hok Ham. ”Apakah orang Indonesia hanya bisa hidup terpencil dikelilingi gunung berapi dan hidup dari usaha pertanian untuk kemudian dikolonisasi lagi oleh penguasa baru lautan Indonesia?”.

Dirinya pun mengartikan bahwa dulu selama tiga setengah abad kita berada di bawah kekuasaan VOC dan kemudian Hindia Belanda, maka di abad ke-21 ini sejarah bisa jadi berulang meski dengan aktor-aktor yang berbeda, karena bangsa ini sudah dalam posisi sulit untuk bisa keluar dari aneka jebakan paham neoliberal yang berwajah global.
“Dan, hanya pemimpin bangsa yang besarlah yang mampu mewujudkan mimpi menjadi kenyataan bagi rakyatnya, agar bisa terlepas dari dahsyatnya cengkeraman Imperialisme Modern yang akan menggerus alam Indonesia dan akhirnya mengakibatkan bencana,” ulasnya.
Pria asal Surabaya itu di akhir penjelasannya menyatakan setelah kita berikhtiar keras untuk menjaga alam ini maka Tuhan pun akan menjaga kita semua. Tentunya itu akan berkaitan pula dengan terminimalisirnya bencana, tetapi jika tidak maka yang terjadi ialah sebaliknya yaitu menjadi negeri yang rawan bencana.
“Ketika kita berkomitmen menjaga alam ini baik daratan, lautan maupun udaranya maka biarlah Invisible hand yang bekerja, yaitu tangan Tuhan,” pungkasnya






