
Maritimnews – Ketika Meng Ki, utusan Kubilai Khan dipecundangi oleh Raja Singasari Kertanegara, Sang Kaisar Kubilai Khan pun geram dan langsung mengirim armada tempurnya ke Jawa. Sebelumnya, maksud kedatangan Meng Ki dan dua orang pengawalnya ke Singasari adalah untuk meminta kepada Kertanegara agar mengakui kekuasaan Mongol.
Selain itu, Dinasti Mongol yang didirikan oleh Gengis Khan juga terganggu oleh Ekspedisi Melayu yang dilancarkan Kertanegara dalam menguasai perdagangan di Laut China Selatan hingga Selat Malaka.
Mendengar instruksi itu, Kertanegara langsung merobek surat permohonan itu dan langsung menyiksa Meng Ki tanpa ampun. Dengan penuh luka, Meng Ki kembali ke Mongol dan langsung melaporkan kejadian itu kepada Kaisar, sontak armada terkuat yan pernah menguasai sepertiga dunia itu pun langsung berbondong-bondong ke Jawa untuk menghukum Kertanegara.
Namun selama perjalanan tempuh dari China ke Jawa, konstelasi politik di Jawa telah berubah. Singasari dengan kejayaannya yang menjulang hingga ke Semananjung Melayu harus runtuh ketika diserang oleh Jayakatwang dari Kediri. Akan teteapi menantu Kertanegara, Raden Wijaya beserta para pengikutnya meloloskan diri ke Madura dan meminta perlindungan kepada Adipati Sumenep, Arya Wiraraja.
Padahal dibalik keruntuhan Singasari, Arya Wiraraja pun terlibat dengan membantu Jayakatwang untuk meyerang Singasari. Berhubung ada hubungan ayah dan anak dengan salah satu pengikut Raden Wijaya, Arya Wiraraja pun akhirnya bersedia membantu untuk membuat Desa Tarik di sekitar Trowulan, Mojokerto. Yang kemudian desa itu diberi nama Majapahit oleh Raden Wijaya.
Setibanya Armada Mongol di Pelabuhan Tuban ternyata tidak disia-siakan oleh Raden Wijaya yang ingin membalas dendam atas kekalahan Singasari dari Kediri. Dengan tipu muslihatnya, Armada Mongol pun langsung menyerang Kediri hingga Jayakatwang tewas dalam pertempuran itu.
Pasukan Mongol yang larut dalam kemenangan akhirnya justru diserang balik oleh pasukan Raden Wijaya. Sehingga mereka mundur ke pusat pertahanannya di pesisir Jawa Timur seperti Tuban, Gresik, dan Tumapel.
Sebagian kekuatan Majapahit pun telah meyerang dulu tempat-tempat berlabuhnya ratusan Armada Mongol di Tuban dan Tumapel. Puluhan kapal berhasil dibakar oleh pasukan Majapahit sehingga mereka bingung kehabisan logistik dan tidak bisa kembali ke negerinya. Pertempuran sengit di Tumapel terjadi sehingga banyak dari pasukan Mongol ditawan oleh Majapahit. Sementara sisanya berhasil kembali ke Mongol.
Tumapel akhirnya berganti nama menjadi Surabaya, karena kemenangan pasukan Majapahit tersebut. Raden Wijaya pun kemudian naik tahta menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Di masyarakat Jawa, kisah ini sangat melegenda sehingga pernah disiarkan dalam sandiwara radio pada tahun 80-an dan Film Layar Lebar dengan nama Tutur Tinular, dengan tokoh utamanya Arya Kamandanu dan Mei Shin, seorang putri dari Tiongkok.
Kekalahan itu membuat Kubilai Khan sebagai raja tersohor di dunia terpukul. Berkali-kali Mongol menyerang Majapahit namun karena ketangguhan pertahanan maritim Majapahit membuat mereka mundur sampai akhirnya Dinasti Mongol sendiri pun runtuh ketika mendapat serangan dari Dinasti Ming.
Alhasil pertahanan maritim Majapahit pun menjadi semakin kuat dan tangguh, terlebih ketika mereka dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada dan Laksamana Nala yang akhirnya mampu mempersatukan Nusantara hingga Filipina dan Kamboja.
Majapahit dan Islam
Data dari beberapa sumber menyebutkan bahwa pasukan Kubilai Khan saat itu pun sudah banyak yang memeluk Islam. Sehingga mereka yang ditawan dan tidak bisa kembali ke negerinya akhirnya justru menyebarkan agama Islam di sekitar pesisir utara Jawa Timur. Dan akhirnya banyak pula para petinggi-petinggi Majapahit yang memeluk Islam jauh sebelum kedatangan Wali Songo dan Laksamana Cheng Ho.
Beberapa penemuan tentang Koin Majapahit yang ber-lafadz-kan tulisan islam ‘Syahadat’ menjadi bukti bahwa Islam telah berkembang menjadi agama yang kuat di masa itu. Data lain yang menyebutkan bahwa Sumpah Palapa Gajah Mada pun berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘Faalafa’, artinya mempersatukan. Serta adanya panji merah putih yang merupakan simbol Majapahit dalam mempersatukan Nusantara, pun diambil dari panji-panji Rasulullah saat perang Badar. (Suryanegara, 2008:53).
Cerita banyaknya pasukan Mongol yang memeluk Islam sebenarnya sejak serangan mereka ke Baghdad sebagai pusat Dinasti Abbasiyah pada tahun 1275. Baghdad yang merupakan pusat pemerintahan dan penyebaran Islam memiliki perpustakaan literatur pemikiran Islam terbesar saat itu. Ketika Gengis Khan dan pasukannya menyerang tempat ini kemudian membakar perpustakaan itu, buku-buku ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya telah diselamatkan dulu oleh para pasukan Mongol.
Ternyata banyak dari mereka yang justru membaca isinya kemudian memeluk Islam. Salah satu keturunan Dinasti Mongol yang terbesar adalah Dinasti Mogul Khan di India yang berubah menjadi Kesultanan Islam terbesar di Asia Selatan. (DIT)
(Dari catatan berbagai sumber)






