Categories: HankamTerbaru

Diskusi IK2MI, Kikis Ego Sektoral dalam Keamanan Maritim

Para pembicara dalam diskusi IK2MI di hotel Grand Cempaka

MNOL, Jakarta – Institut Keamanan dan  keselamatan Maritim Indonesia (IK2MI) menggelar diskusi kebijakan keamanan maritim. Diskusi dengan format Round Table Discusion (RTD) itu bertajuk “Konstruksi Penegakan Hukum dan  Keamanan di Laut, Siapa yang Bertanggung  Jawab untuk Kedaulatan NKRI?” dan digelar di Hotel Grand Cempaka, Jakarta (4/10/16).

Dalam sambutannya, Ketua IK2MI  Laksdya TNI (Purn) Y Didik Heru Purnomo menjelaskan bahwa laut merupakan medium pertahanan bangsa. Selain itu laut juga menjadi sumber kekayaan bangsa untuk pembangunan ekonomi sebagaimana menjadi amanah Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 yang didengungkan oleh Perdana Menteri Ir Djuanda Kertawidjaja saat itu.

“Oleh sebab itu penting bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas dan keamanan maritim dalam rangka mewujudkan visi poros maritim dunia,” tandas Didik.

Namun  pada kenyataannya, dalam hal keamanan laut terdapat 13 instansi yang terlibat. Seperti, Kementerian Koordinator Bidang Maritim, Kemhan, TNI AL, Polri, Bakamla, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Keuangan, Kejaksaan Agung dan lain sebagainya.

“Koordinasi dan sinergitas sangat diperlukan agar tercapai keberhasilan dalam penegakan hukum dan kedaulatan di wilayah NKRI,” tutur Didik.

Sementara itu, mantan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana (Purn) Marsetio menyebutkan, dibutuhkan konsepsi yang berasal dari jati diri Indonesia sendiri. “Karena Indonesia ini unik makanya tidak bisa mencontoh negara lain,” jelasnya.

Penulis Buku Sea Power Indonesia yang kini menjadi staf ahli di Kementerian Perhubungan itu selanjutnya mengungkapkan tingginya ego sektoral dari lembaga-lembaga yang berwenang dalam pengelolaan keamanan laut masih menjadi penghambat dari pembangunan Indonesia di tengah berjalannya visi poros maritim.

“Sudah saatnya ego sektoral kita kikis habis untuk membangun maritime power kita terlebih dalam hal penegakan hukum dan keamanan maritim,” pungkasnya.

Dalam jalannya diskusi beberapa peserta menyebutkan, adanya tumpang tindih kewenangan dalam penegak hukum. “Kami sudah ditangani oleh Bakamla, ehh tahu-tahu kami juga diurus oleh Polair,” tutur salah satu peserta yang merupakan pengguna laut yang pernah dikecewakan oleh rumitnya sistem birokrasi di laut. (RM/MN)

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Koperasi KS TKBM Pelabuhan Priok Gelar RAT 2026 Tema Akselerasi Digitalisasi

Jakarta (Maritimnews) - Akselerasi digitalisasi untuk mewujudkan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Koperasi Karya Sejahtera…

2 hours ago

Kolaborasi SPTP dan Pemkot Surabaya Jelang Idul Adha 1447 H

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)…

9 hours ago

IPC TPK Panjang Moncer, Tingkatkan Efisiensi Ekspor

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang semakin moncer setelah kehadiran Quay…

21 hours ago

IPC TPK Tercatat Tumbuh Di Awal Triwulan II 2026

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) akan terus fokus menjaga stabilitas operasional dan…

1 day ago

Kewajiban Perusahaan Pelayaran dalam Pelaporan ESG 2025

Oleh : Dr. Dayan Hakim NS* Perusahaan pelayaran saat ini tengah menghadapi kewajiban untuk menyusun…

5 days ago

Program Jejak Pelabuhan, Mahasiswa/i UI Kunjungi IPC TPK

Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…

1 week ago