
MNOL – Bali, Indonesia dan Singapura merupakan negara yang memiliki hubungan bilateral yang sangat penting mengingat letak geografis kedua negara yang sangat berdekatan. Selain sama-sama menjadi pendiri ASEAN dan juga anggota organisasi Internasional lainnya, Indonesia dan Singapura memiliki kerjasama di berbagai bidang seperti ekonomi, kesehatan, pariwisata, pertahanan, lingkungan hidup dan tentunya transportasi.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan selaku regulator di bidang maritim di Indonesia memandang hubungan baik dengan pemerintah Singapura dalam hal ini Maritime and Port Authority (MPA) Singapore selaku otoritas maritim di Singapura harus terus dilakukan karena letak geografis kedua negara yang berdekatan dan dipisahkan oleh selat Malaka dan selat Singapura yang merupakan jalur pelayaran terpadat di dunia.
Selain itu, Indonesia dan Singapura juga merupakan anggota Dewan Council Kategori C di International Maritime Organization (IMO) serta menjadi negara pantai yang terlibat aktif dalam forum Tripartite Technical Experts Group (TTEG) bersama dengan Malaysia yang khusus membahas keselamatan dan keamanan pelayaran juga perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura.
Karenanya, peningkatan capacity building khususnya dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di bidang maritim mutlak diperlukan bagi kedua negara agar keselamatan dan keamanan serta perlindungan lingkungan maritim di wilayahnya masing-masing dapat terwujud dan mendukung terwujudnya safe, secure and efficient shipping on clean ocean yang menjadi fokus dari IMO.
Guna mendukung pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang maritim tersebut, sejak 23 September 2005 lalu, Direktorat Jenderal Perhubungan laut dan MPA Singapore telah melakukan kerjasama dalam bidang pengembangan sumber daya manusia bagi aparatur pemerintah di bidang maritim.
Kerjasama dituangkan dalam DGST-MPA Singapore Training Memorandum of Understanding (MoU) yang sebelumnya berlaku selama selama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang secara periodik 2 (dua) tahunan namun sejak adanya addendum MoU pada pertemuan The 9th Meeting of the DGST-MPA SingaporeTraining MoU pada tanggal 10 – 11 Desember 2015 di Singapura, Ditjen Hubla dan MPA Singapore telah menyepakati bahwa training MoU dimaksud berlaku untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun atau tepatnya akan berakhir pada tanggal 26 Juli 2018.
Dalam pelaksanaan training MoU dimaksud, berbagai bentuk training dan workshop dalam berbagai bidang yang diusulkan oleh Ditjen Hubla ke MPA Singapore dalam kerangka Capacity Building telah dilaksanakan dengan baik. Untuk itu, setiap tahunnya Ditjen Hubla dan MPA Singapore mengadakan pertemuan rutin tahunan yang digelar secara bergiliran untuk mengevaluasi training atau workshop yang telah selesai dilakukan dan menginventarisir kebutuhan training atau worksop untuk kebutuhan organisasi Ditjen Hubla kedepannya.
Sehubungan dengan hal itu, maka Ditjen Hubla dan MPA Singapore kembali melakukan pertemuan dalam The 10th Meeting of the DGST-MPA Singapore Training MoU pada tanggal 2 s.d 4 November 2016 di Hotel Grand Inna Kuta, Bali Indonesia. Pada pertemuan dimaksud, Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Rudiana, MM, sedangkan Delegasi Singapura dipimpin oleh Deputy Director (International) MPA Singapore, Benjamin Wong.
Pertemuan dimaksud mengevaluasi beberapa training dan workshop yang telah dilaksanakan seperti Workshop on Bunkering pada 29-30 Agustus 2016, VTS Operator Refresher Training pada tanggal 21-23 September 2016, dan lain-lain.
Pada kesempatan tersebut, Ditjen Hubla kembali mengusulkan sejumlah training atau workshop yang memang diperlukan bagi pengembangan kapasitas pegawai Ditjen Hubla dalam menjalankan tugasnya seperti Workshop on Mandatory IMO Audit Scheme Implementation, Marine Environment Protection Course for MARPOL Annex I to Annex VI, dan sebagainya.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Ir. A. Tonny Budiono, MM di Jakarta menyampaikan dukungannya terhadap kerjasama di bidang capacity building ini antara Ditjen Hubla dan MPA Singapore. “Kerjasama dengan MPA Singapore di bidang peningkatan kapasitas SDM telah terjalin lama dan berlangsung sangat baik. Saya percaya kedua belah pihak mendapatkan manfaat dari MoU tersebut,” ujar Tonny.
Capt. Rudiana, MM selaku Head of Delegation Indonesia menyatakan bahwa kerjasama ini memberikan banyak manfaat untuk Ditjen Hubla dan MPA Singapore. “Hingga saat ini, sudah hampir 60 kegiatan workshop dan berbagai program pelatihan telah dilaksanakan untuk kurang lebih 900 orang pegawai Ditjen Hubla yang bertugas di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim di bawah kerangka Training MoU tersebut,” kata Capt. Rudiana.
Senada dengan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Deputy Director (International) MPA Singapore, Benjamin Wong juga menyampaikan hal yang sama. “MPA Singapore dan Ditjen Hubla sangat menikmati hubungan baik di berbagai bidang yang telah terjalin selama ini. Terlebih lagi, untuk pertama kalinya MPA Singapore menyelenggarakan The DGST-MPA Singapore Officers Dialogue yang dilaksanakan sebagai rangkaian dari The 10th Meeting of the DGST-MPA Singapore Training MoU untuk meningkatkan hubungan baik antara pegawai muda di MPA Singapore dan Ditjen Hubla,” kata Benjamin Wong.
Sebagai informasi, rangkaian pertemuan The 10th Meeting of DGST-MPA Singapore Training MoU dimaksud diawali dengan penyelenggaraan program DGST-MPA Singapore Officers Dialogue pada tanggal 2 November 2016. Program tersebut merupakan salah satu kegiatan yang telah diusulkan dan disepakati yang bertujuan untuk menukar pengalaman dan pengetahuan dalam bidang keselamatan matirim dan perlindungan lingkungan laut serta menjalin kerjasama yang kuat dalam bidang operasional khususnya bagi para pegawai muda di kedua institusi tersebut.(Bayu/MN)
|
|






