Categories: EkonomiHLTerbaru

Menhub Terkesan Melegalisasi Pungli dengan Mengaktifkan Jembatan Timbang

Kapal Roll-on/Roll-off (Ro-Ro)

MNOL, Surabaya – Setelah komplain Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono karena kondisi jalan di Pantai Utara (Pantura) yang rusak parah akibat pelanggaran tonase truk, ditindaklanjuti oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dengan rencana mengaktifkan kembali fungsi jembatan timbang di beberapa titik.

Menurut pengusaha pelayaran Lukman Ladjoni, aktivasi kembali jembatan timbang di Pantura tidak efektif dan terkesan melegalisasi pungutan liar (pungli). Selama ini keberadaan jembatan timbang kerap menjadi rahasia umum sebagai ajang pungli. “Melakukan pengawasan kelebihan bobot truk pada jembatan timbang selama 24 jam dengan ribuan truk yang melintas setiap harinya akan tidak efektif,” ujarnya di Surabaya kepada Maritimnews, Selasa (28/2).

Lukman mengkritisi Menteri Perhubungan sekaligus memberi solusi, bahwa keunggulan menggunakan moda angkutan laut kapal Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) dibanding jembatan timbang adalah efisinsi waktu dan biaya. “Seharusnya Menteri Perhubungan menerbitkan peraturan atau keputusan Dirjen Hubdar yang mengharuskan truk berbobot 10 ton keatas menggunakan kapal Ro-Ro. Gagasan saya di tahun 2010 yang populer disebut tol laut mengharapkan truk-truk trailer menggunakan kapal Ro-Ro untuk lintasan Jakarta – Surabaya – Jakarta,” paparnya.

Intinya, dengan mengoperasikan kapal Ro-Ro lintasan Jakarta – Semarang – Surabaya untuk mengangkut truk-truk trailer/bobot 10 ton keatas dapat mengurangi beban jalan di jalur Pantura agar tidak cepat rusak, serta dari sisi keselamatan lebih terjamin. “Kedepan Pemerintah tak perlu lagi frustasi karena cost jalan pantura sangat besar,” imbuh Lukman.

Selain itu, tambah Lukman Ladjoni, perlu tidaknya penerapan subsidi bagi angkutan kapal Ro-Ro sepenuhnya menjadi kebijaksanaan Pemerintah. “Subsidinya bisa saja dari pihak Pelindo selaku BUMN dalam hal ini pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak dengan membebaskan biaya kepelabuhanan. Apabila mengacu pada visi dan misi BUMN sebagai stabilisator harga dan service oriented, sepatutnya ikut meringankan beban masyarakat, bukan semata provit oriented,” pungkasnya. (Bayu/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

DANANTARA dan Tugas Sejarah Transformasi Ekonomi Nasional Bagi Keadilan Sosial Rakyat

Oleh: Arief Poyuono, SE, M.Kom Indonesia sedang memasuki sebuah fase penting dalam perjalanan ekonomi nasional.…

1 day ago

Uji Emisi di Tanjung Priok, Pelindo Ajak Ekosistem Pelabuhan Jaga Lingkungan

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mendorong kolaborasi pengendalian emisi kendaraan di…

1 week ago

Sosialisasi Perkuat Ekosistem Vendor Pelindo Regional 4

Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memperkuat ekosistem vendor di wilayah Regional…

1 week ago

Semester I 2026, Arus Barang PMT Tumbuh 10,85 persen

Medan (Maritimnews) – PT Pelindo Multi Terminal (PMT), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang…

1 week ago

FSP BUMN Bersatu Dukung RUU Ketenagakerjaan, Adaptif Dengan Perubahan Ekosistem Berusaha

Jakarta (Maritimnews) – Dalam rangka pemenuhan keputusan MK soal pembentukan RUU Ketenagakerjaan, para Pimpinan DPR…

1 week ago

Aksi Damai Aliansi Pekerja Tanjung Perak di depan Pengadilan Tipikor Surabaya

Surabaya (Maritimnews) - Aliansi Serikat Pekerja Tanjung Perak menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan terhadap…

1 week ago