Categories: HLSejarahTerbaru

Kisah Operasi 17 Agustus mendarat di Kota Padang, Lumpuhkan PRRI

Kolonel Achmad Yani kala mempersiapkan “Operasi 17 Agustus” (Foto: Wikipedia)

MNOL, Jakarta – Pada 17 April 1958, pemerintah Indonesia melalui Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Achmad Yani menumpas gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang, Sumatera Barat. Pemberontakan yang kemudian dikenal dengan sebutan PRRI/Permesta itu terjadi di Sumatera Barat dan Sulawesi Utara.

Pemberontakan yang diinisiasi oleh para elit politik pusat itu merupakan respons terhadap ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat. Sehingga para militer di dua daerah itu menyambut dengan membentuk dewan-dewan pimpinan yang memutus dengan pemerintahan pusat.

Pada 20 Desember 1956, Achmad Husein mengambil alih pemerintahan Sumatera Tengah yang berpusat di Padang. Hal itu pun dilanjutkan dengan pengumuman Panglima TT-I M Simbolon soal berdirinya Dewan Gajah di Medan, 22 Desember 1956. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kolonel Vantje Samuel di Manado yang membentuk Dewan Manguni.

Kendati kota Medan sempat diambil alih lagi oleh Letkol Jamin Ginting pada 27 Desember 1956, namun hubungan pusat – daerah di Sumatera tak urung membaik. Ditambah lagi tokoh elit politik pusat dari Partai Masyumi dan PSI belok mendukung gerakan ini.

Adanya Peristiwa Cikini 30 November 1957 semakin memperuncing keadaan. Achmad Husein menuntut pembubaran Kabinet Juanda dan mengusulkan Bung Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk kabinet nasional.

Tepat 15 Februari 1958, Achmad Husein memproklamirkan berdirinya PRRI yang didukung oleh pimpinan militer setempat. Tokoh-tokoh pusat seperti Burhanuddin Harahap, Sjafrudin Prawiranegara, M. Natsir dan Soemitro Djojohadikusumo pun ditunjuk sebagai menteri dalam pemerintahan ini.

Mendengar kejadian ini, Jakarta langsung geram. Bung Karno selaku Presiden langsung memberi ultimatum kepada gerakan ini untuk menyerahkan diri. Sang Proklamator menyebut gerakan ini sebagai gerakan Blandis, Reformis, Opurtunis, Kontra Revolusi yang didanai asing untuk menghancurkan NKRI.

Setelah taka da signal untuk penyerahan diri, Bung Karno langsung mengerahkan kekuatan milternya untuk membubarkan gerakan ini. Kolonel Achmad Yani yang baru pulang menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat ditunjuk sebagai komandan operasi.

Akhirnya setelah berembuk dengan pimpinan militer di Jakarta, operasi ini diberi nama ‘17 Agustus’ dengan niat untuk mempertahankan Negara Proklamasi (NKRI) sebagai negara berdaulat. Persiapan operasi pun dilakukan hanya memakan waktu kurang lebih 1 bulan.

Pasukan khusus dari Banteng Raiders dan KKO menjadi pasukan andalan yang dipersiapkan untuk menggempur pusat konsentrasi musuh dari darat dan laut. KRI Pati Unus pun dipersiapkan untuk membombardir Kota Padang sekaligus untuk mendaratkan pasukan dari laut.

Embrio Pasukan Katak

Meskipun Komando Pasukan Katak (Kopaska) belum resmi berdiri di tahun 1958, namun beberapa perwira Angkatan Laut dan RPKAD sudah disekolahkan selam di Amerika Serikat. Satuan pasukan tempur bawah air ini pun memiliki peran tinggi dalam menumpas PRRI di Padang.

Malam 17 April 1958, pasukan inilah yang melumpuhkan penjagaan pantai pasukan PRRI di Kota Padang. Sehingga satu batalyon yang dipimpin oleh Kolonel Achmad Yani melenggang masuk ke kota ini.

Dari peristiwa ini dan menjelang perebutan Irian Barat, akhirnya tercetuslah pendirian satu korps komando dengan spesialisasi pertempuran bawah air dan sabotase kekuatan musuh di air. Maka pada 31 Maret 1962 berdirilah Kopaska dibawah TNI AL.

Kepemimpinan Achmad Yani   

Menurut Suhardiman dalam Buku :Pengadilan Sejarah”, Achmad Yani yang merupakan jebolan Pembela Tanah Air (PETA) itu pun berhasil menduduki Padang dalam waktu 6 jam.

Setelah itu baru masuk ke Bukittinggi dan Payakumbuh, hingga akhirnya menguasai wilayah Suamtera bagian tengah sampai ke Riau dan Sumatera Utara. Operasi 17 Agustus

Bahkan karena karismatikanya dalam memimpin pasukan, banyak tentara PRRI yang akhirnya menjadi anak buah Achmad Yani. Kegemilangannya dalam menumpas PRRI di Padang ini menjadi awal prestasi puncak karirnya bagi pria asal Purworedjo ini dalam TNI AD.

Setahun kemudian setelah keberhasilan ini, Achmad Yani mendapat penghargaan dengan dinaikan pangkatnya menjadi Bintang Satu (Brigadir Jenderal) dan disebut-sebut sebagai anak kesayangan Bung Karno.

Hingga ajalnya pada malam 1 Oktober 1965, Achmad Yani yang saat itu menjabat pimpinan tertinggi TNI AD menunjukan sikap kepahlawanannya sebagai prajurit Sapta Marga yang setia terhadap Pancasila dan UUD 1945.

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Konsisten Jaga Kelestarian Lingkungan Laut

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…

9 hours ago

Kunjungan Sosial Kopkar TPK Koja Ke GMMI

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…

3 days ago

Pelindo Panjang: Optimalisasi dan Sinergi, Kunci Pertumbuhan Positif

Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…

4 days ago

IPC TPK Catat 850 Ribu TEUs di Triwulan I 2026

Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…

4 days ago

Masa Lebaran 2026, Arus Penumpang Pelindo Meningkat 14,14%

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…

5 days ago

Pelabuhan Kita Masih Berdiri di Atas Fondasi yang Rapuh

Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…

6 days ago