Categories: PelayaranTerbaru

PB HMI minta Selidiki Kasus Tabrakan Kapal Pembawa Ammonium Nitrate di Kepulauan Seribu

MT Elizabeth dan KM Bhaita Samudera yang tabrakan di perairan Kepulauan Seribu tadi malam

MNOL, Jakarta – Pada dini hari, jumat (7/4/2017) terjadi tabrakan kapal kargo yang melibatkan KM Bhaita Jaya Samudera dan MT Elizabeth di perairan Pulau Damar, Kepulauan Seribu yang mengakibatkan KM Bhaita Jaya Samudera tenggelam

MT Elizabeth bermuatan Crude Palm Oil (CPO), sedangkan KM Bhaita Jaya Samudera (tenggelam) bermuatan bahan peledak, yang salah satu rincian di antaranya adalah Ammonium Nitrate seberat 100 ribu kg

Tentunya hal itu menjadi sorotan para entitas maritim tentang bagaimana peranan instansi yang berwenang di laut seperti Bakamla, KPLP, Polair atau instansi lainnya. Ketua Bidang Agraria dan Kemaritiman Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Mahyuddin Rumata turut angkat bicara atas peristiwa tersebut.

Menurutnya, Ammonium Nitrat adalah sejenis bahan kimia yang sering digunakan sebagai bahan dasar pembuatan bom ikan, selain digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.

“100 ribu kg adalah kadar bahan kimia yang tidak sedikit jumlahnya dan jika ini melebur ke dalam laut sudah dipastikan dapat menyebabkan  ribuan bahkan jutaan ikan dan biota laut lainnya menjadi rusak dan punah,” ujar Yudi biasa akrab disapa.

Sehingga dalam kejadian itu, Yudi menanyakan siapa pihak yang bertanggung jawab. Pasalnya, kejadian ini bukan hal sepele karena dapat berakibat pada terancamnya kelestarian ekosistem laut.

“Ini sangat berbahaya untuk kehidupan biota laut, siapapun yang terlibat dalam kejadian dan kelalaian ini wajib bertanggung jawab dan segera ditetapkan sebagai tersangka,” tegas pria asal Maluku tersebut.

Selain kerusakan biota laut dan kepunahan ikan, jika menggunakan kalkulasi matematis, 100 ribu kg Ammonium Nitrate setara dengan Rp. 1.344.000.000 (336.000 per karung, satu karung setara dengan 25 kg), maka Yudi mengendus bahwa fenomena ini disengaja.

“Ini adalah bentuk kelalaian yang menurut kami disengaja, karena membawa muatan kimia sebanyak itu seharusnya diangkut pada siang hari untuk menghindari kecelakaan dan sabotase di tengah laut yang dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian di banyak hal,” pungkasnya.

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

PINP dan Pelabuhan Kijing di Simpul Barat

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan konektivitas pelayaran dan efisiensi biaya logistik, PT Pelabuhan Indonesia…

16 hours ago

DJBC Kalbagbar Dukung Optimalisasi Ekspor dan Impor di Pelabuhan Internasional Kijing

Pontianak (Maritimnews) - Jajaran Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Barat memberikan…

3 days ago

Petikemas Domestik Melonjak, Jakarta – Kijing Jadi Rute Primadona Baru

Pontianak (Maritimnews) - Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat sebagai pelabuhan hub internasional terbesar…

3 days ago

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI, Tiongkok, dan Thailand

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) secara resmi menyambut kehadiran layanan rute baru…

3 days ago

Memperkuat Stabilitas Fiskal Domestik dan Ketahanan Eksternal di tengah Dinamika Ekonomi Regional

Oleh: Arief Poyuono, SE, M.Kom (Komisaris Pelindo) Dinamika perekonomian global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan…

4 days ago

Budi Hartono Kembali jadi Ketum Kopkar TPK Koja Periode 2026 – 2029

Jakarta (Maritimnews) - Koperasi Karyawan (Kopkar) TPK Koja menggelar pemilihan Ketua Umum periode tahun 2026…

5 days ago