Categories: EkonomiTerbaru

Pemerintah siapkan Rancangan Blue Economy dalam Pertemuan Tingkat Menteri IORA

konsep green port bagian dari blue economy

MNOL,  Bandung – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman serius kembangkan pendekatan ekonomi biru (blue economy) untuk tingkatkan perekonomian di berbagai sektor. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar konferensi tingkat menteri negara-negara anggota IORA (Indian Ocean Rim Association) untuk ekonomi biru  kedua pada tanggal 8-10 Mei mendatang.

Agar konferensi tersebut menghasilkan output yang nyata, maka Kemenko Kemaritiman melaksanakan sebuah Seminar Nasional IORA yang bertajuk “Financing Blue Economy” atau Pembiayaan Ekonomi Biru. Seminar tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Universitas Padjajaran Bandung.

Menurut Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim Kemenko Kemaritiman Ayodhia Kalake, seminar yang dilakukan di Bandung, Kamis (20/4) ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dari para civitas akademika, stakeholder, praktisi serta masyarakat umum.

“Kita ingin memperoleh gambaran permasalahan di lapangan terkait pengembangan konsep ekonomi biru ini, serta mendapatkan masukan dari mereka agar dalam konferensi nanti, pemerintah Indonesia dapat menawarkan konsep dan implementasi yang nyata dari negara kita,” ujarnya di sela-sela seminar.

Lebih lanjut, Ayodhia, mengatakan bahwa ada 13 narasumber yang terdiri dari perwakilan kedeputian II,III dan IV Kemenko Bidang Kemaritiman, akademisi, pakar serta praktisi dari perbankan, Pelindo, CTI-CFF (Prakarsa Segitiga Terumbu Karang) dan Badan Otorita Batam untuk empat isu.

Isu itu antara lain Kelautan dan Perikanan, Wisata Laut, Jaringan Pelabuhan dan Kepabeanan serta penanganan sampah plastik laut.

“Untuk mengembangkan ekonomi biru kita tidak hanya melihat dari sisi lingkungan saja namun juga dari sisi bisnisnya. Topik-topik tersebut sesuai dengan apa yang akan didiskusikan pada konferensi IORA tentang Ekonomi Biru pada bulan Mei mendatang,” tambahnya.
Ia mencontohkan, pada isu tentang pelabuhan dan kepabeanan, Kemenko Kemaritiman ingin membuka peluang kerja sama dengan negara-negara IORA. “Kita juga ingin mengetahui potensi pasar yang bisa dibuka dari dari topik itu,” tandas alumnus Universitas Padjajaran ini.

Pada kesempatan yang sama, Penasihat Kehormatan Menteri Pariwisata Indroyono Soesilo, mengaku ingin memanfaatkan momentum Konferensi tingkat menteri IORA untuk Ekonomi Biru sebagai sarana promosi destinasi wisata prioritas.

“Lombok Selatan adalah salah satu contoh wilayah yang sudah mengembangkan program ekonomi biru yang terintegrasi karena ada pengembangan wisata laut dan mina padi,” sebutnya.

Program tersebut, tambahnya, merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2013. “Kebetulan dis ana ada KEK Mandalika yang tengah dikembangkan oleh pemerintah sebagai obyek wisata prioritas,” ungkap mantan Menko Maritim tersebut.

Selain Indroyono Soesilo, Walikota Bandung Ridwan Kamil serta Dubes Edy Pratomo yang juga Utusan Khusus Presiden RI untuk Penentuan Batas Maritim , Ketua IKA Unpad Hikmat Kurnia serta Wakil Rektor III Universitas Padjajaran turut hadir dalam acara itu.

Dalam kesempatan itu, Walikota Bandung Ridwan Kamil dalam sambutannya berharap agar konsep ekonomi biru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memberikan nilai tambah kepada produk.

Seminar ini dibuka oleh Dubes Edy Pratomo mewakili Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno.

Konsep Blue Economy

Blue Economy adalah pendekatan sistemik yang bertujuan untuk meningkatkan kemajuan ekonomi berbasis kelautan dengan mengedepankan keterlibatan sosial dan ketahanan lingkungan. Tujuan pengembangan model ini adalah untuk mengatasi masalah kelangkaan sumberdaya alam sekaligus isu sampah dalam pengembangan kemakmuran ekonomi.

Konsep pendekatan ekonomi biru yang bakal dibahas dalam pertemuan konferensi tingkat menteri kedua negara-negara anggota IORA untuk ekonomi biru ini, sebelumnya telah disampaikan oleh Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim  Kemenko Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno dalam Side Event Sidang ITLOS di PBB bulan Maret tahun 2017 lalu.

Rencananya, dalam konferensi tersebut akan ada working session, senior official meeting, dan ministerial meeting. Ada 21 negara anggota IORA, dan 7 negara anggota partner dialog serta observer yang diundang.

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Perkuat Sinergitas Optimalisasi Terminal Kijing, Akses Jalan jadi Prioritas

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) memperkuat sinergitas optimalisasi Terminal Kijing Mempawah Kalimantan Barat…

8 hours ago

Maret 2026, IPC TPK Jambi Tumbuh 22,5%

Jambi (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Jambi mencatatkan pertumbuhan signifikan pada Maret…

10 hours ago

IPC TPK Gandeng Mitra Pelayaran Perkuat Konservasi Laut dan Ekosistem Pelabuhan Berkelanjutan

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat komitmen keberlanjutan dengan menggelar aksi…

12 hours ago

Tingkatkan Kapasitas SDM Kelautan dan Perikanan, KIOTEC Kunjungi Korsel

KIOTEC kembali mengadakan program kunjungan ke Korea Selatan. Kunjungan ini didedikasikan untuk memperkuat keahlian teknis…

1 day ago

IPC TPK Bangun Fasilitas Air Bersih di Muaro Jambi

Jambi (Maritimnews) - IPC TPK membangun sumur bor lengkap dengan instalasi pendukung sebagai sumber air…

1 day ago

IPC TPK Panjang Kedatangan 1.772 Empty Container

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang kedatangan container vessel MV MSC…

1 day ago