Categories: KKPNelayanTerbaru

KNTI mencium ada Penggunaan Dana Fiktif terkait Pengadaan Kapal Nelayan

Ilustrasi: pengadaan kapal ikan fiberglas

MNOL, Jakarta, 28 Mei 2017. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia melihat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali mengulang permasalahan  proyek pengadaan 1000 Kapal “Inka Mina” yang dilakukan pemerintahan sebelumnya. Untuk itu, KNTI mendesak untuk kepada Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK) segera melaksanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT).

Tindakan ini untuk mengusut tuntas dugaan adanya penyimpangan penggunaan fiktif atas dana yang digunakan dalam pelaksanaan proyek pengadaan kapal nelayan oleh KKP,” ujar ketua Departemen Penelitian Hukum DPP KNTI, Deny Giovano, di Jakarta (29/5).

Menurutnya, hal ini berdasarkan atas predikat “Tidak Memberikan Pendapat” atau “Disclaimer” yang diberikan BPK RI kepada KKP atas laporan keuangannya tahun ini.

BPK RI menjelaskan bahwa salah satu penyebab lahirnya predikat tersebut adalah hasil dari pemeriksaan atas pengadaan 750 kapal untuk para nelayan, yang mana jika didasarkan pada aturan yang ada, pengadaan itu seharusnya selesai sesuai tahun buku yaitu pada 31 Desember 2016.

“Namun, selama proses berjalan ternyata hanya mampu merampungkan 48 kapal dan bahkan pengadaannya diperpanjang hingga bulan Maret 2017 yang lalu, sedangkan anggaran senilai Rp209 milyar untuk pengadaan barang tersebut sudah keluar,” beber Deny

Diketahui juga bahwa syarat-syarat untuk melaksanakan perpanjangan adalah harus adanya Berita Acara Serah Terima (BAST), sedangkan proses administrasi itu belum selesai yang mana hal tersebut menandakan adanya masalah pada BAST tersebut.

“Berdasarkan alasan yang diberikan oleh BPK RI tersebut sebenarnya dapat kita simpulkan bahwa para auditor BPK RI yang melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan dari KKP telah menemukan adanya ketidaksesuaian dalam pertanggungjawaban pengadaan kapal-kapal nelayan tersebut,” terangnya.

Hal ini sejatinya melahirkan sebuah indikasi kuat bahwa telah terjadi penggunaan fiktif atas dana yang dikeluarkan untuk pengadaan kapal-kapal nelayan tersebut.

Permasalahan dugaan kecurangan dalam pengadaan kapal untuk nelayan ini sejatinya merupakan permasalahan yang cukup vital karena berkaitan langsung dengan hajat hidup para nelayan.

“Tindak lanjut harus segera dilakukan mengingat kesimpang siuran informasi yang sudah terlanjur tersebar di masyarakat mengenai dugaan penggunaan fiktif atas dana tersebut dan sudah menjadi tanggung jawab dari BPK RI untuk membuatnya menjadi terang benderang,” pungkasnya.

Sungguh ironis target pembangunan 3.540 kapal dengan ukuran antara 5 – 30 GT, ternyata seperlimanya pun tidak memenuhi. Di lain sisi, kebutuhan nelayan semakin mendesak ketika adanya beberapa kebijakan yang diterapkan oleh KKP.

 

(Sutisna/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

IPCC Gelar Public Expose 2026

Jakarta (Maritimnews) – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC), anak perusahaan PT Pelindo Multi Terminal…

2 days ago

Pelindo Gelar Coffee Morning, Sosialisasikan peralihan Nota Layanan Jasa Barang Non Petikemas

Jakarta (Maririmnews) - Dalam rangka meningkatkan sinergitas hubungan kerja sama yang telah terjaga dengan baik,…

3 days ago

TPS Gelar Safety Drill Hadapi Cuaca Ekstrem

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar Safety Drill Angin Kencang di area…

1 week ago

TPK Koja Gelar Pelindo Mengajar 2026 di SMAN 8 Yogyakarta

Yogyakarta (Maritimnews) - KSO Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) menggelar Program Pelindo Mengajar sebagai bagian…

1 week ago

Hari Sumpah Pemuda, Pelindo Regional 3 Gelar Donor Darah

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan sosial…

1 week ago

Satu Dekade NPCT 1, Kapasitas Hampir Penuh

Jakarta (Maritimnews) - New Priok Container Terminal One (NPCT1) baru saja merayakan satu dekade operasional…

1 week ago