Categories: HLPariwisataTerbaru

Pariwisata Bahari jadi Topik Hangat dalam Rembuk Nasional 2017

Rembuk Nasional Bidang kemaritiman dan Sumberdaya Kelautan 2017

MN, Jakarta – Event Rembuk Nasional Kemaritiman dan Kelautan 2017 yang dilaksanakan di Pusat Niaga JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin 23 Oktober 2017 mengulas soal perkembangan destinasi wisata bahari Indonesia. Pariwisata bahari merupakan bagian dari implementasi poros maritim dunia menjadi potensi yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam membahas soal itu, mantan Menko Maritim Indroyono Soesilo merekomendasikan deregulasi perpajakan dan impor peralatan wisata bahari. Pembangunan dan penyediaan infrastruktur destinasi wisata juga menjadi sorotan mantan Direktur FAO itu.

“Pemberdayaan masyarakat lokal sebagai tuan rumah destinasi wisata dan penguatan SDM penunjang wisata bahari perlu kita tingkatkan,” kata Indroyono yang bertindak sebagai pembicara dalam acara rembut tersebut.

Untuk mendatangkan kunjungan wisman 4 juta orang dan 6000 kapal yacht, Indroyono juga merekomendasikan pengintegrasian aplikasi vessel declaration dengan aplikasi yachter online, sehingga proses masuknya yacht lebih simpel, efisien, cepat sekaligus memudahkan pengawasan.

“Deregulasi kebijakan kunjungan wisata kapal layar (yacht) asing, terutama CIQP (custom, immigration, quarantine, port) satu atap. Pembangunan fasilitas marina, sehingga akan mengoptimalkan potensi Bahari Indonesia tidak hanya sebagai destinasi kunjungan tetapi lebih sebagai destinasi hub/home base kapal wisata yacht asing yang memberikan keuntungan dan dampak ekonomi lebih besar ke negara. Tahap awal marina biaya APBN,” tuturnya.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Destinasi & industri Pariwisata Dadang Rizki Ratman dalam rekomendasinya mengatakan kita membutuhkan restrukturisasi tarif handling di pelabuhan oleh Pelindo yang dinilai terlalu mahal.

Selain itu, sama dengan Indroyono, Dadang juga menyebut bahwa kita membutuhkan deregulasi kebijakan industri wisata cruise, sehingga Indonesia tidak hanya sebagai destinasi kunjungan tetapi lebih sebagai “destinasi hub/home base” kapal wisata cruise.

“Untuk mendatangkan 1.000 call cruise, juga perlu peningkatan kapasitas dan fasilitas pelabuhan laut yang telah ditetapkan sebagai pelabuhan embarkasi dan debarkasi seperti Pelabuhan Belawan-Medan, Tanjung Priok-Jakarta, Tanjung Perak-Surabaya, Makassar, Benoa- Bali dan destination port cruise potensial yaitu Tanjung Emas-Semarang, Sabang-Aceh, Celukan Bawang – Bali, Pelabuhan Balikpapan-Kaltim, dan Teluk Bayur–Padang,” papar Dadang.

Sedangkan untuk 19 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sudah terealisasi 14 KSPN Bahari. Rekomendasi yang diberikan meliputi mengembangkan model kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KBPU) pada KSPN terpilih.

“Pada KSPN inisiasi Pemerintah lebih dominan, Pemda mendukung,” cetusnya.

Dadang menambahkan, dari target 45 destinasi selam, saat ini sudah terealisasi 46 destinasi selam. Namun untuk mengembangkannya, dirinya merekomendasikan setiap destinasi selam ditetapkan carrying capacity, tingkat risiko, dan kualifikasi penyelam.

“Juga diperlukan kebijakan sertifikasi penyelam di bawah koordinasi Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI),” pungkasnya.

Sedangkan Ketua Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) Didin Djunaedi yang juga bertindak sebagai pembicara mengungkapkan apresiasinya yang mendalam terhadap pemerintahan Jokowi dengan visi Poros Maritim Dunia-nya. Karena visi itu, geliat industri pariwisata bahari juga tumbuh pesat.

“Kalau dulu di tahun 1980-an benar-benar tidak ada sama sekali yang sadar betapa pentingnya pariwisata bahari. Orang cuma Bali saja, tetapi sekarang kondisinya berubah. Daerah-daerah baru yang memiliki potensi pariwisata bahari bermunculan,” kata Didin.

Dalam acara yang dimoderatori oleh Prita Laura itu, Didin menceritakan pengalamannya dalam memperkenalkan daerah-daerah seperti Raja Ampat, Wakatobi dan daerah lainnya. Ia pun sangat senang ketika saat ini dirinya masih dilibatkan dalam event-event yang mempromosikan pariwisata bahari.

“Saya berterima kasih dengan Pak Dadang, Pak Indroyono dan Pak Sudirman Saad, karena dengan begini saya jadi awet muda. Saya bisa terus menyelam seperti dulu saya menyelam bareng Prita Laura,” selorohnya.

 

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Mengaplikasikan Visi Besar Prabowo Subianto Pada Ketahanan Pangan

Ditulis oleh: Arief Poyuono SE,MKom (Komisaris Pelindo) Pelabuhan dan terminal yang tersebar di seluruh dunia…

1 day ago

IPC TPK Dorong Efisiensi Logistik Nasional, Throughput Tembus 2,8 Juta TEUs

Jakarta (Maritimnews) – Penutupan Triwulan III tahun 2026, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil mencatatkan…

1 day ago

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

Makassar (Maritimnews) – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 menyalurkan bantuan berupa bahan material bangunan…

3 days ago

PINP dan Pelabuhan Kijing di Simpul Barat

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan konektivitas pelayaran dan efisiensi biaya logistik, PT Pelabuhan Indonesia…

4 days ago

DJBC Kalbagbar Dukung Optimalisasi Ekspor dan Impor di Pelabuhan Internasional Kijing

Pontianak (Maritimnews) - Jajaran Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Barat memberikan…

7 days ago

Petikemas Domestik Melonjak, Jakarta – Kijing Jadi Rute Primadona Baru

Pontianak (Maritimnews) - Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat sebagai pelabuhan hub internasional terbesar…

7 days ago