Sudah Mulai Memunggungi Laut, ISLA-UNHAS Ingatkan Jokowi Pernah Berjanji di Atas Kapal Pinisi

Ketua Umum ISLA-UNHAS Darwis Ismail.

MNOL, Jakarta – Ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang tak lama lagi akan digelar, menjadikan setiap pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) beserta tim pemenangannya terus bergerilya mencari dukungan ke seluruh lapisan masyarakat. Berbagai program, pernyataan, hingga janji politik digulirkan untuk meyakinkan rakyat negeri ini agar memilih calon yang diusungnya.

Seperti halnya Pilpres tahun 2014 yang lalu, Pilpres 2019 mendatang kembali mempertemukan dua kandidat calon presiden yang sama persis dan masih berasal dari partai pengusung utama yang sama seperti empat tahun yang lalu. Joko Widodo masih menjadi kader dan diusung menjadi menjadi Capres oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) serta Prabowo Subianto yang juga masih menjadi salah satu petinggi Gerindra yang kembali mengusungnya menjadi Capres untuk tahun 2019 nanti.

Namun ada satu perbedaan signifikan yang justru tidak terlalu banyak dibahas oleh publik (baca media), yaitu terkait hilangnya kata maritim dari visi dan misi pasangan Capres dan Cawapres untuk bertarung di 2019 nanti, utamanya pada Calon Presiden nomor urut satu Joko Widodo

Pada 2014 yang lalu, saat Jokowi masih menjadi Capres, ia dan tim suksesnya memasukan kemaritiman sebagai salah satu unsur utama dalam visi dan misinya. Hal ini terus diperlihatkan hingga saat pidato kemenangannya yang dilakukan di atas Kapal Pinisi di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ironisnya, melihat perkembangan akhir-akhir ini, jauh setelah ia dilantik sebagai orang nomor satu di negeri ini, di mana fokus pemerintahan terhadap sektor kemaritiman terkesan sunyi dan senyap, banyak pihak yang semakin meragukan komitmennya untuk membawa kembali kejayaan maritim di Nusantara.

Hal ini tidak terlepas dari berbagai persoalan kemaritiman yang belum sepenuhnya berjalan baik hingga saat ini. Tumpang tindih aturan dan kewenangan pengamanan wilayah laut kita, masalah kesejahteraan pelaut yang tak kunjung membaik, hingga permasalahan kedaulatan wilayah laut yang belum sepenuhnya jelas menjadi tiga dari banyak permasalahan kemaritiman yang hingga saat ini belum juga terlihat perkembangannya.

Permasalahan inilah yang coba dikaji oleh Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin (ISLA-UNHAS) dalam Dialog Akhir Tahun di Bangi Kopi Pasar Minggu, Sabtu (15/12). Berdiri dalam posisi mewakili masyarakat kemaritiman Indonesia, ISLA-UNHAS pun merasakan aura yang sama dengan apa yang masyarakat rasakan selama ini.

Foto bersama narasumber Dialog Akhir Tahun ISLA-UNHAS.

Hal ini diamini oleh Ketua Umum ISLA-UNHAS, Darwis Ismail, yang sejatinya turut merasa prihatin dengan apa yang terjadi saat ini, di mana pembangunan berbagai hal di sektor maritim seakan terabaikan, ditambah dengan hilangnya kemaritiman dari visi dan misi di ranah Pilpres 2019.

Dalam kondisi seperti ini, ia tetap berharap kemaritiman tetap menjadi prioritas pemerintahan mendatang, yang mana dalam kondisi ada di dalam visi dan misi saja, masih jauh dari harapan, apalagi bila tidak masuk ke dalamnya.

“Harapan kami, maritim tetap prioritas nasional pemerintahan ke depan, siapapun yang terpilih menjadi presiden nanti, yang sejatinya cukup mengkhawatirkan kami karena tak ada satu pun pasangan calon yang menyertakannya ke dalam visi dan misi yang ditawarkan kepada rakyat,” ungkapnya.

Lebih dari itu, ISLA-UNHAS juga tak habis pikir bagaimana unsur kemaritiman yang merupakan nilai lebih Presiden saat ini, Joko Widodo, saat bertarung di Pilpres 2014 yang lalu, bisa hilang dari visi dan misinya untuk bertarung kembali di Pilpres 2019 mendatang.

Bila di 2014, ia pernah menggugah kesadaran bangsa ini untuk kembali mengenali takdirnya sebagai bangsa maritim dengan kalimat “Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk”, maka sudah selayaknya menjelang 2019 ini, kita yang harus menyadarkan pemimpin kita ini yang mungkin tak sadar sudah terlihat membalik punggungnya ke hadapan laut.

Sehingga, dengan kondisi apapun, di tahun politik ini, isu maritim ini harus terus digelorakan. Agar bangsa ini tidak kembali memunggungi laut, seperti yang pernah disampaikan oleh Presiden.

“ Kekayaan laut kita sangat besar, jika dimanfaatkan dan dikelola dengan prioritas penuh, akan sangat membantu perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, Isu Maritim ini harus tetap digelorakan sampai kapanpun , apalagi ini tahun politik. Siapapun yang nantinya terpilih jadi Presiden, harus menjadikan maritim sebagai prioritas nasional,” pungkas tokoh yang juga merupakan lulusan Magister Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

 

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Tingkatkan Daya Saing, IPC TPK Panjang Punya QCC Post Panamax

Bandar Lampung (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan daya saing sekaligus penguatan infrastruktur bongkar muat, IPC…

1 day ago

Pengembangan Pelabuhan Korido Dapat Dukungan Penuh Pemprov Papua

Korido (Maritimnews) - Dalam rangka memperkuat konektivitas wilayah Terdepan, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan (3TP) dan…

3 days ago

Forum Kehumasan Pelindo 2026 Dihadiri Achmad Muchtasyar di Makassar

Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) terus memperkuat kapasitas komunikasi korporasi di tengah tantangan…

4 days ago

Koperasi KS TKBM Pelabuhan Priok Gelar RAT 2026 Tema Akselerasi Digitalisasi

Jakarta (Maritimnews) - Akselerasi digitalisasi untuk mewujudkan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Koperasi Karya Sejahtera…

5 days ago

Kolaborasi SPTP dan Pemkot Surabaya Jelang Idul Adha 1447 H

Surabaya (Maritimnews) - PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)…

5 days ago

IPC TPK Panjang Moncer, Tingkatkan Efisiensi Ekspor

Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang semakin moncer setelah kehadiran Quay…

6 days ago