CFS Center di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara
MN, Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia II atau IPC hingga kini dinilai tidak mampu mengoperasikan sendiri fasilitas container freight station (CFS) Center di pelabuhan Tanjung Priok, sehingga aset negara itu menjadi mubazir.
Hal tersebut dikatakan oleh Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Widijanto, sebab sejak tahun 2017 hingga September 2019, aset negara itu masih terlihat kosong tanpa kegiatan.
“Menjaring pasar barang impor LCL untuk dipindahkan ke CFS Center di pelabuhan Priok pekerjaan tidak mudah, serahkan saja ke swasta yang memang punya pasar,” terang Widijanto kepada Maritimnews di Jakarta, Rabu (11/9).
Saat ini perusahaan konsolidasi lebih banyak menggunakan CFS di luar pelabuhan. Apalagi, kehadiran PLB (Pusat Logistik Berikat) bisa membuat CFS dan depo peti kemas di area pelabuhan gulung tikar.
“Fasilitas PLB yang lokasinya berdekatan dengan kawasan industri, dinilai lebih mudah dan cepat bagi kegiatan petikemas impor. Dipastikan keberadaannya akan lebih efisien,” pungkasnya.
Seperti diketahui, Direktur Utama PT Pelindo II/IPC, Elvyn G Massassya pernah menuturkan bahwa CFS Center yang dibuka pada 20 November 2017, ditargetkan untuk transparansi biaya petikemas impor berstatus LCL (Less Than Container Load) yang masih dalam pengawasan Kepabeanan.
(Bayu/MN)
Oleh : Dr. Dayan Hakim NS* Perusahaan pelayaran saat ini tengah menghadapi kewajiban untuk menyusun…
Jakarta (Maritimnews) - Kunjungan Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia (UI) ke…
Pontianak (Maritimnews) - Dukungan perusahaan IPC Terminal Petikemas terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia…
Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Teluk Bayur bersama PT Pelabuhan Tanjung…
Jambi (Maritimnews) - Indonesia adalah produsen dan eksportir utama kayu manis global, menguasai sekitar 41%…
Dwelling time yang masih jauh di atas standar internasional bukan sekadar masalah teknis kepelabuhanan —…