Categories: HLPelayaranTerbaru

Menanti Realisasi PSSA di Selat Lombok

Aktifitas kapal di Selat Lombok (foto: captwapri.id)

Jakarta (Maritimnews) – Particularly Sensitive Sea Area (PSSA) adalah wilayah laut yang sangat sensitif sehingga butuh perlindungan khusus melalui regulasi atau tindakan dari IMO karena memiliki keadaaan ekologi, sosial-ekonomi, ataupun alasan saintifik yang dapat dengan mudah mengalami kerusakan oleh aktivitas pelayaran internasional.

Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub, Capt Antoni Arif Pribadi menyatakan, sejak tahun 2016 upaya pengusulan Selat Lombok sebagai PSSA dimulai dengan proposal yang diajukan Pemerintah Indonesia pada the Third Regional Meeting of IMO-NORAD Project on Prevention of pollution from ships through the adoption of PSSAs di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Upaya realisasi PPSA Selat Lombok oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan diperkuat dengan pengajuan Information Paper dalam Sidang IMO-Marine Environmental Protection Committee (MEPC) ke-71 pada tahun 2017.

Indonesia sebagai negara anggota IMO (International Maritime Organization) sekaligus Anggota Dewan IMO periode 2024-2025, memiliki tanggung jawab penuh untuk berperan aktif dalam perlindungan lingkungan maritim. Salah satu upaya yang wajib dilakukan oleh Pemerintah Indonesia adalah memastikan pelestarian lingkungan lautnya.

Siswanto Rusdi. Direktur The National Maritime Institute (Namarin) menerangkan kepada Maritimnews di Jakarta, Selasa 21/05), bahwa Republik Indonesia bisa kita sebut sebagai negara Maritim (wilayahnya 70% lautan dan 30% daratan), yang dinilai sangat penting menerapkan PSSA’s di perairan Indonesia.

Menurut Siswanto, Indonesia adalah negara pantai (coastal state) mempunyai hak mengatur olah gerak kapal internasional yang melintasi perairannya. Hanya saja penuangan kebijakan harus mendapat persetujuan dari pihak pengguna perairan, termasuk selat yang akan menjadi PSSA’s.

“Kenapa PSSA Selat Lombok yang diajukan Ditjen Hubla belum juga mendapat respon IMO? Ini bisa mengindikasikan bahwa kalangan internasional enggan dengan pembatasan. Apalagi, bila pembatasan diberlakukan oleh Indonesia disertai pungutan karena ada investasi dikeluarkan terkait untuk meng-enforce pembatasan atau pelarangan, atau IMO punya alasan lain?” ungkapnya.

Siswanto menegaskan, PSSA memang bisa dipersepsi sebagai upaya “memblokade” laut oleh Indonesia setelah sekian lama selalu dianggap remeh. Dengan kebijakan itu, kalau nantinya disetujui oleh organisasi IMO, Indonesia dapat sedikit menunjukkan tajinya kepada dunia.

“Momentum PSSA dibunyikan lagi, di saat Presiden Indonesia terpilih memiliki latar belakang militer dan dikenal tough, nampaknya Ditjen Hubla sedang menarik perhatian sang Presiden terhadap upaya mereka yang sudah cukup lama diperjuangkan. Diharapkan dengan toughness juga rasa patriotisme yang dimiliki Prabowo Subianto, PSSA Selat Lombok akan terealisasi. Semoga saja,” pungkasnya.

(Bayu Jagadsea/MN)

Yudha Prima Putra

Share
Published by
Yudha Prima Putra

Recent Posts

PINP dan Pelabuhan Kijing di Simpul Barat

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan konektivitas pelayaran dan efisiensi biaya logistik, PT Pelabuhan Indonesia…

2 hours ago

DJBC Kalbagbar Dukung Optimalisasi Ekspor dan Impor di Pelabuhan Internasional Kijing

Pontianak (Maritimnews) - Jajaran Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Barat memberikan…

3 days ago

Petikemas Domestik Melonjak, Jakarta – Kijing Jadi Rute Primadona Baru

Pontianak (Maritimnews) - Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat sebagai pelabuhan hub internasional terbesar…

3 days ago

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI, Tiongkok, dan Thailand

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) secara resmi menyambut kehadiran layanan rute baru…

3 days ago

Memperkuat Stabilitas Fiskal Domestik dan Ketahanan Eksternal di tengah Dinamika Ekonomi Regional

Oleh: Arief Poyuono, SE, M.Kom (Komisaris Pelindo) Dinamika perekonomian global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan…

4 days ago

Budi Hartono Kembali jadi Ketum Kopkar TPK Koja Periode 2026 – 2029

Jakarta (Maritimnews) - Koperasi Karyawan (Kopkar) TPK Koja menggelar pemilihan Ketua Umum periode tahun 2026…

5 days ago