
MN, Banda Aceh – Pelabuhan Malahayati di Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar diharapkan dapat menjadi terminal petikemas ketiga yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia I (Pelindo 1) setelah TPK pelabuhan Belawan dan Perawang.
Potensi muatan dari dan ke Pelabuhan terbesar di Propinsi Aceh tersebut sedang beranjak tumbuh, sehingga membutuhkan fasilitas yang memadai dengan pengelolaan pelabuhan secara profesional.
Melihat posisi pelabuhan Malahayati, seharusnya menjadi pilihan utama pelaku usaha di Aceh dalam rangka menekan waktu kirim dan biaya logistik. Pengiriman Jakarta – Aceh bisa lebih murah dibanding melalui jalur darat.
Saat ini fasilitas pendukung pelabuhan adalah satu unit HMC (Harbour Mobile Crane), satu unit Reach Stacker (RS), container yard (CY) seluas 7 ribu meter, kolam 9,5 meter LWS dan panjang dermaga 384 meter persegi.
“Kami akan menambah fasilitas alat berupa satu unit RS dan memperluas kapasitas CY menjadi 14 ribu meter,” jelas Abdul Kadir, koordinator lapangan PT Pelindo 1 Cabang Malahayati kepada Maritimnews, baru-baru ini.
Adapun muatan dari Pelabuhan Tanjung Priok yang dibongkar di Malahayati adalah barang Bulog, produk Wing, semen bag, rokok, barang dagangan lainnnya seperti peralatan rumah tangga atau consumer goods.
Berdasarkan data operasional Pelindo 1 Cabang Malahayati, arus petikemas Semester I tahun 2018 sebanyak 3.745 boks, sedangkan throughput sepanjang tahun 2017 tercatat 6.729 boks. “Kami optimis arus petikemas sepanjang tahun 2018, meningkat dibanding tahun 2017,” pungkasnya.
(Bayu/MN)






