Berikut Telaah KIARA terhadap RUU Minerba Menyangkut Kehidupan Masyarakat Pesisir

Tambang pasir

MNOL, Jakarta – Dirancangnya RUU Mineral dan Batu bara (Minerba) oleh pemerintah dan DPR saat ini mengundang reaksi tajam dari beberapa kalangan. Salah satunya dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA). Melalui Deputi Pengelolaan Pengetahuan-nya, KIARA selaku NGO yang terlibat aktif dalam permasalahan advokasi nelayan dan konservasi lingkungan itu mengeluarkan telaah kritisnya terhadap rancangan undang-undang tersebut.

“Permasalahannya RUU ini, jika aturan-aturan baru yang dirumuskan sarat dengan kepentingan politik dan kepentingan ekonomi, maka yang akan terjadi kehancuran kehidupan masyarakat,” ujar Ketua Deputi Pengelolaan Pengetahuan KIARA, Parid Ridwanuddin di sela-sela Fokus Grup Diskusi (FGD) yang digelar IK2MI di Hotel Patra Jasa, Jakarta, (23/3/16).

Menurutnya, RUU ini penuh dengan muatan politik dan ekonomi dari segelintir orang bahkan kepentingan asing. Selebihnya, dia mengurai kaitan RUU ini dengan aturan-aturan sebelumnya seperti UU No. 37 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan yang berisi 31 Pasal dan UU No. 11 Tahun 1967 Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan yang berisi 37 Pasal.

Kemudian UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara berisi 175 pasal, sedangkan revisi UU Minerba berisi 132 pasal. Ulasnya, paradigma hukum itu bersifat evolusi. Artinya aturan baru yang datang kemudian, menghapus dan mengganti aturan sebelumnya yang dianggap belum mengatur sejumlah permasalahan yang berkembang.

“Banyaknya gugatan ke MK atau Judicial Review terhadap UU menunjukkan bahwa peraturan perundangan-undangan dirumuskan bukan untuk kepentingan bersama, tetapi untuk segelintir orang. Dengan demikian, ada pihak yang dirugikan dan ada pihak yang diuntungkan,” tegas Parid.

Pasalnya, UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba itu banyak yang merugikan masyarakat. Dalam catatan KIARA, mulai dari 4 orang nelayan  dipanggil pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur atas laporan PT. Gora Gahana, perusahaan penambang pasir laut berbasis di Jakarta yang menuduh nelayan telah merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara.

Setelah itu ada dikriminalisasinya 12 nelayan dan perempuan nelayan di Jepara, Jawa Tengah dan kriminalisasi nelayan di Surabaya. Selain itu, Parid menambahkan pemberian izin penambangan pasir besi berdampak terhadap perubahan tekstur pesisir disebabkan oleh aktivitas tambang ekstraktif, sehingga hilangnya wilayah tangkap nelayan.

Setidaknya ada 15 wilayah pesisir di Indonesia yang rusak karena pertambangan pasir.  Maka dari itu, praktik pertambangan yang selama ini ada di wilayah pesisir di Indonesia, lebih banyak memberikan kemudaratan dari pada kemaslahatan bagi masyarakat dan alam (wilayah pesisir).

Di akhir penjelasannya, Parid mengemukakan jika hukum merupakan alat untuk mendatangkan manfaat atau kebahagian yang setinggi-tingginya bagi individu, maka yang akan terjadi adalah “persaingan bebas” yang tidak menguntungkan bagi semua orang.

“Persaingan bebas ala Darwinian ini menyebabkan mereka-mereka yang belum beruntung jangan berharap akan dapat memperbaiki nasibnya. Lalu dengan aturan seperti ini masih mungkinkah kebahagian umum akan tercipta,” pungkasnya. (TAN)

 

 

 

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

OBITUARI | David Sirait, Sang Pekerja Pelabuhan yang Percaya pada Kekuatan Tim: DO YOUR BEST, LET GOD DO THE REST

oleh: Karnali Faisal (Penasehat FORWAMI) Ada orang yang meninggalkan jejak melalui jabatan yang pernah didudukinya.…

5 hours ago

IPCC Perkuat Strategi Integrated Auto Solutions

Jakarta (Maritimnews) - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX: IPCC), anak usaha PT Pelindo Multi…

2 days ago

Kemenko Infra Kunjungi TPS, Tinjau Konektivitas Maritim dan Multimoda di Tanjung Perak

Surabaya (Maritimnews) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menerima kunjungan kerja Balkis Kusumawati, Asisten Deputi…

2 days ago

IPC TPK Bersama Mitra Operasional Deklarasikan Komitmen Bersama

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Terminal Tanjung Priok memperkuat komitmen dalam mewujudkan…

2 days ago

IMO dan Delegasi Jepang Tinjau IPC TPK Integrated Planning & Control Pelabuhan Tanjung Priok

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mengukuhkan posisi sebagai pusat benchmarking global melalui…

2 days ago

Pelindo Mengaplikasikan Visi Besar Prabowo Subianto Pada Ketahanan Pangan

Ditulis oleh: Arief Poyuono SE,MKom (Komisaris Pelindo) Pelabuhan dan terminal yang tersebar di seluruh dunia…

5 days ago