Letkol Laut (P )Salim (kiri), Purbaya Bagus (tengah) dan Rusli Rahim (kanan). (Foto: APS/MN)
MNOL, Jakarta – Ikatan Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (IMTSI) menggelar seminar bertajuk ‘Perwujudan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia’, di Gedung Pusdiklat Keminfo, Meruya, Jakarta (26/3/16). Seminar tersebut dihadiri oleh para pembicara antara lain Staf Asops Panglima TNI, Letkol Laut (P) Salim dan Asisten Deputi Infrastuktur Konektivitas dan Sistem Logistik Deputi Bidang Koordinasi Infrastuktur Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Ir. Rusli Rahim, MS.
Seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 250 mahasiswa Teknik Sipil se-Jakarta itu mengulas tentang bagaimana perjalanan poros maritim dunia dalam sudut pandang pertahanan/keamanan dan pembangunan infrastruktur yang dibawakan oleh masing-masing pembicara.
Dalam pemaparannya, Letkol Laut (P) Salim menjelaskan potensi kekuatan maritim Indonesia yang didasari dari perjalanan sejarah maritim Nusantara. Lulusan AAL tahun 1995 itu menyatakan bahwa bangsa Indonesia berdasarkan kodratnya merupakan bangsa bahari.
“Kodrat itu sengaja dirubah oleh Belanda agar mereka mudah menguasainya. Karena menjajah selama 350 tahun, tentu dampaknya kita rasakan sampai sekarang di mana tidak mudah menumbuh kembangkan semangat bahari di tengah rakyat kita,” terang Salim.
Menurutnya, poros maritim merupakan konsep yang muncul berdasarkan kodrat bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari dengan memanfaatkan sumber daya alam serta peningkatan dan pemberdayaan element-elemen maritimnya yang harus didukung oleh karakter bangsa yang bervisi maritim.
Penulis buku ‘Dzikir Daud: Meruwat Kepemimpinan Bangsa’ dan ‘Kodrat Maritim Nusantara’ itu juga menjelaskan soal implementasi poros maritim dunia yang sejalan dengan peran universal TNI AL dalam membangun Sea Power Indonesia.
“Peranan TNI AL berdasarkan undang-undang adalah Military, Diplomacy dan Constabulary. Semua itu mengarah pada pembangunan Sea Power Indonesia. Itu pun harus ditopang oleh adanya kebijakan nasional baik kebijakan pertahanan maupun maritimnya,” tandasnya.
Inti dari ulasan Pamen TNI AL berpangkat Melati Dua itu adalah dalam membangun visi besar presiden ini harus melibatkan semua pihak, baik sipil maupun militer dan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya.
“Jiwanya poros maritim dunia itu tetap ada di Pancasila dan UUD 1945 asli, yang menuntut kita untuk memegang teguh prinsip Ketuhanan dan gotong royong antar sesama manusia,” pungkasnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Infrastruktur Konektivitas dan Sistem Logistik Deputi Bidang Koordinasi Infrastuktur Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Ir. Rusli Rahim menerangkan secara detail mengenai fungsi Kemenko Maritim dan SD, yang merupakan Kementerian Koordinator baru seiring dengan adanya visi presiden poros maritim dunia.
“Kemenko Maritim saat ini memiliki 4 Deputi yaitu kedaulatan maritim, sumber daya alam, infrastruktur dan budaya/SDM maritim,” jelasnya.
Sedangkan ruang lingkup Deputi Infrastrutur Kemenko Maritim dan SD, yang merupakan deputinya memiliki fungsi merancang infrastruktur konektivitas, sistem logistik, dan tata ruang, infrastruktur pertambangan dan energi, infrastruktur pelayaran, perikanan, dan pariwisata dan industri penunjang infrastrukturnya.
Hal itu, menurutnya juga dijelaskans secara mendalam pada lima pilar pembangunan maritime Indonesia, yakni membangun kembali Budaya Maritim; membangun Kedaulatan Pangan Laut; Pengembangan Infrastruktur dan Konektivitas Maritim; Kerja sama di bidang Kemaritiman dan diplomasi; serta membangun Pertahanan Maritim
Lebih lanjut, Rusli menambahkan PDB Indonesia dari sektor maritim masih jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Perkembangannya juga dianggap masih belum signifikan dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini.
“Kontribusi maritim terhadap PDB pada tahun 2010 ialah 11,14% dengan 3 komponen terbesarnya yakni transportasi laut (dan sungai), hotel dan restoran di sekitar pantai, serta industri pengolahan,” bebernya.
Pihaknya berharap, proyeksi optimistik pada 2025 dapat mencapai 27% dari PDB, dengan 3 komponen terbesarnya yaitu: industri pengolahan, transportasi laut dan industri pendukung, serta budidaya laut. “Kebutuhan investasi per komponen akan kita tunjang dengan pembangun infrastruktur yang memadai,” tutupnya.
Bertindak sebagai moderator dalam seminar ini adalah Purbaya Bagus P, yang merupakan salah satu mahasiswa jurusan Teknik Sipil dari salah satu universitas di Jakarta. Setelah kedua pembicara melakukan pemaparan, dilakukan sesi tanya jawab yang dibagi menjadi dua sesi. Sesi tanya jawab sendiri berlangsung hangat dengan antusias yang tinggi dari para peserta, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. (TAN)
Medan (Maritimnews) - Sebagai bentuk dukungan terhadap misi kemanusiaan, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya…
Kasus pagar laut di pesisir Kabupaten Tangerang merupakan pengingat bahwa persoalan lingkungan hidup tidak pernah…
Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mendorong transformasi layanan kepelabuhanan, termasuk menghadirkan fasilitas…
Bandar Lampung (Maritimnews) - Transformasi layanan dan penguatan daya saing terminal berdampak pada peningkatan arus…
Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) menilai penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang…
Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memantapkan arah strategis perusahaan tahun 2026 melalui…