Di Tengah Ledakan Bom Beirut, Dansatgas Maritim TNI Konga Ingatkan Bahaya Disintegrasi Bangsa
Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan

MNOL, Beirut – Seminar dan Dialog Interaktif Wawasan Kebangsaan di KRI Bung Tomo 357 dengan tema “Memperkuat Semangat Nasionalisme dengan Mengenal Indonesia lebih Dekat” yang digelar oleh KBRI Lebanon, telah memupuk nasionalisme mahasiswa Indonesia di Lebanon di tengah gejolak yang melanda negara tersebut.

Bertindak sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Komandan KRI Bung Tomo-357 Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T. selaku Dansatgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL TA. 2015 dan Meugah Suriyan Sanggamara M.IP. selaku Kepala Fungsi Politik & Penerangan KBRI Beirut.

Dalam paparannya yang diikuti dengan penuh antusias karena menampilkan data dan fakta yang dihadapi saat ini. Yayan menyampaikan Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki berbagai keunggulan baik dari aspek seperti sumberdaya alam yang begitu melimpah, letak geografis yang sangat strategis, populasi penduduk yang besar serta tradisi dan budaya yang kaya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Menurutnya, hal tersebut akan memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia jika mampu mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik, daya tarik yang begitu besar tersebut justru akan menjadi malapetaka tercerai berainya NKRI atau berlangsungnya imperialisme modern.

“Jika rakyat Indonesia tidak memiliki ketahanan nasional yang tangguh, maka kita akan mudah terpengaruh dengan bahaya kolonialisme dan imperialisme yang berujung pada disintegrasi bangsa,” terang Yayan.

Lanjutnya, perjalanan sejarah telah memberikan gambaran pasang surut kehidupan bangsa Indonesia di mana nenek moyang kita pernah memiliki kerajaan yang sangat kuat dan besar pada masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Namun kita juga pernah mengalami penderitaan yang begitu panjang sebagai bangsa terjajah saat kekayaan kita dikeruk oleh penjajah yang populasi penduduk dan wilayah negaranya jauh lebih kecil dari bangsa kita.

“Hal tersebut harus menjadi refleksi perenungan kita semua apa kelemahan bangsa kita sehingga dengan mudahnya bangsa asing menguasai Indonesia hanya berbekal politik adu domba Devide Et Impera,” bebernya.

Masih kata lulusan AAL tahun 1993 itu, strategi Imperialisme saat ini ada sedikit perbedaan penerapan oleh negara-negara besar yang memerlukan sumber daya alam yang dimiliki negara lain. Globalisasi dijadikan sebagai celah/peluang menerapkan imperialisme modern dengan mencari kelemahan suatu bangsa untuk dikuasai.

“Saat ini berkembang strategi Proxy War untuk menguasai suatu negara tidak mutlak dengan menggunakan kekuatan militer, namun melalui penetrasi ideologi untuk melemahkan ideologi suatu bangsa, menghancurkan tatanan ekonomi nasional, menggerogoti moral rakyat dan menghancurkan tradisi dan budaya,” ulasnya.

Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan peluang globalisasi, imperialisme modern saat ini telah merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa kita menyadarinya. Maka mahasiswa sebagai kelompok intelektual akan dijadikan sebagai salah satu sasaran untuk direkrut menjadi agen-agen andal dengan intelektulitasnya justru menjadi alat pemecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Mengantisipasi hal tersebut, perlu adanya upaya-upaya untuk menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme guna meningkatkan Ketahanan Nasional dan daya saing bangsa Indonesia menyongsong era globalisasi.

“Generasi muda khususnya mahasiswa diharapkan sebagai dinamisator guna mencapai bangsa yang maju dan mandiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Meugah Suriyan Sanggamara M.IP. selaku pembicara kedua menyampaikan definisi “negara bangsa” dan arti penting  memahami Wawasan Kebangsaan guna menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri setiap warga bangsa tentang posisi dan peran individu.

Pada akhirnya, wawasan itu mampu menciptakan ketahanan nasional Indonesia. Secara konseptual, Geopolitik Indonesia dituangkan dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas-aktif.

“Geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan serta diikuti dengan diskusi tanya jawab dengan para peserta,” papar Meugah.

Para mahasiswa begitu antusias dan bersemangat dengan pelaksanaan seminar ini mengingat mereka sedang menimba ilmu jauh dari negeri tercinta. Sehingga seminar seperti ini sangatlah menggugah semangat para pelajar untuk berprestasi lebih baik lagi di masa yang akan datang demi masa depan bangsa dan negara.

Kegiatan ini kemudian diakhiri ibadah Sholat Maghrib berjamaah serta buka puasa bersama prajurit KRI Bung Tomo-357 beserta keluarga besar KBRI Beirut dan Persatuan Pelajar Indonesia di Lebanon. Tidak lama kemudian baru dikejutkan oleh kejadian peledakkan bom di kawasan Hamra yang berjarak hanya beberapa kilometer saja dari lokasi dimana KRI Bung Tomo 357 sandar di dermaga 3 Beirut Port. (Tan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *