
MNOL, Jakarta – Direktur Operasi dan Sistem Informasi Pelindo II Prasetyadi mengakui, bahwa kereta barang ke Pelabuhan Tanjung Priok sepi peminat.
Pasalnya, jasa antar barang dengan kereta belum familiar di mata pelaku usaha. Sehingga dibutuhkan penawaran yang intens.
“Yang jelas orang-orang ini belum familiar menggunakan kereta api jadi mungkin perlu pendekatan marketing yang intens ke para pabrik-pabrik,” ujar Prasetyadi di Gedung DPR RI, Jakarta, baru-bau ini.
Prasetyadi juga menyebutkan, bahwa biaya angkut dengan kereta api jauh lebih murah dibandingkan dengan tarif truk.
Namun, KA barang Pelabuhan Tanjung Priok-Cikarang Dry Port hanya memiliki dua kali perjalanan dalam sehari. Sehingga volume barang yang diangkut masih sedikit.
Pada Februari lalu, Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli menghidupkan kembali jasa angkutan barang dengan kereta api. Kereta khusus pembawa kontainer ini telah dioperasikan oleh anak PT Kereta Api Indonesia (KAI), yaitu PT Kereta Api Logistik (Kalog).
Kereta pelabuhan akan beroperasi pada tahap awal sebanyak 2 kali perjalanan pulang pergi. Artinya, ada 4 perjalanan kereta menuju Cikarang Dry Port. Setiap 1 kali perjalanan, kereta barang bisa menarik 30 gerbong datar. Setiap 1 gerbong datar terdiri dari 2 kontainer berkapasitas 1 TEUs.
Artinya, lokomotif bisa membawa 60 kontainer dalam sekali perjalanan. Barang yang dibawa khususnya untuk kontainer ekspor dan impor. “Konsep ini akan mengurangi dwelling time di pelabuhan sebagaimana instruksi Presiden Jokowi beberapa bulan terakhir,” pungkasnya.(RM/MN)






