Categories: OpiniTerbaru

Menilai Lingkungan, Menakar Ekonomi

Oleh :  Achmad Rizal, Ph.D

Staf Pengajar Ekonomi Sumberdaya FPIK – UNPAD

 

ilustrasi: ekosistem mangrove

Until the lastest tree had been cutten. Until the lastest fish had been cautch. Until the river and the sea had been poisoned. And we found that the money could not be eaten “ (The Indian prophets, Hirsch and warren, 1998)

Puisi di atas, disenandungkan oleh komunitas indian Amerika ketika pendatang menguasai tanah mereka. Hal yang sama boleh jadi dirasakan pula oleh masyarakat nelayan pesisir selatan Jawa Barat, hari ini. Walaupun sudah dipastikan terjadi pencemaran di perairan mereka akibat penambangan pasir besi, akan ditindak lanjuti oleh yang berwenang, namun hal itu tentunya tidak akan mengembalikan kesehatan perairan mereka yang menderita dan lingkungan sebagai dampak penambangan pasir besi yang terjadi. Hari ini dan hari-hari selanjutnya bagi nelayan pesisir selatan Jawa Barat, merupakan hari-hari panjang penderitaan. Bukan saja mereka tidak sepenuhnya “kecipratan” keuntungan dari operasi pertambangan pasir besi, tetapi lambatnya penanganan pemerintah terhadap nasib mereka, menambah beban hidup mereka untuk menghadapi hari-hari berikutnya.

Terlepas perusahaan penambang pasir besi sebagai penyebabnya atau bukan, ataupun ada tidaknya skenario politik di dalamnya. Kondisi yang berlarut-larut ini, menguatkan persepsi publik selama ini bahwa ada kesepakatan pemerintah (pusat dan daerah) dan investor (baik luar negeri ataupun dalam negeri), bahwa pembangunan ekonomi untuk meningkatkan pundi-pundi pendapatan nasional dan pendapatan asli daerah memang mesti mengambil korban lingkungan dan sebagian masyarakat yang ada di dalamnya. Seolah-olah inilah dampak logis yang mesti dipikul dari proses investasi asing dan pembangunan ekonomi selama ini. Hal ini mempertegas keyakinan bahwa pembangunan ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan dua kepentingan yang sulit dipertemukan.  Dan jika memang harus berhadapan, kenyataan yang hampir pasti adalah ekonomi merupakan pemenang bagi hampir semua keputusan yang menyangkut kehidupan manusia dan lingkungan.

 

Antara Ekonomi dan Lingkungan

Ilustrasi di atas, mengecilkan arti lingkungan dalam pembangunan ekonomi. Padahal, hasil studi terbaru ahli lingkungan keturunan China, Fulay Sheng (2015) menegaskan pemeliharaan dan keperdulian terhadap lingkungan merupakan pilihan utama (preferensi) yang positif bagi dukungan optimal terhadap keberlanjutan pembangunan ekonomi.  Dengan demikian, dalam perspektif Sheng, pembangunan ekonomi justru meningkatkan kesadaran yang lebih mendalam untuk meningkatkan kualitas lingkungan,  karena peningkatan kualitas lingkungan berdampak pula pada peningkatan ekonomi, karena dapat meningkatkan kesejahteraan sosial.

Namun begitu, antitesis dari pemikiran Sheng adalah pertanyaan mengenai aspek kesejahteraan.  Misalnya, kesejahteraan siapa yang kita bicarakan dalam konteks pesisir Selatan Jawa Barat dan Penambangan Pasir besi? Atau dalam pengertian lain, kesejahteraan siapa yang diutamakan, masyarakat lokal atau investor?. Banyak kasus menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kemakmuran satu pihak biasanya mengorbankan pihak lain, atau kalaupun pada saat ini ada masyarakat di pesisir selatan Jawa Barat yang termakmurkan (generasi masa kini) hal ini akan menjadi biaya (tanggungan) generasi masa depannya.  Apakah hal ini harus diperhitungkan, dan apabila ya, bagaimana?  Sejauhmana masa depan harus diperhitungkan, beberapa generasi, seratus tahun, atau mungkin seribu tahun?.

Masalah lainnya adalah bahwa tujuan kesejahteraan sosial yang didasarkan pada kebutuhan umat manusia masa kini, belum tentu konsisten dengan kesejahteraan jangka panjang atau lebih jauh lagi pada keberlanjutan umat manusia. Perspektif ini menjadi latar belakang pandangan yang menyatakan bahwa mekanisme sistem ekonomi harus menyatu (built in) dengan sistem lingkungan untuk keberlanjutannya sendiri dalam jangka panjang.

 

Lingkungan versus Logika Pasar

Logika ekonomi mengungkapkan, setiap manfaat (benefit) adalah setiap keuntungan pada kesejahteraan (welfare) atau kepuasan (utility).  Sementara, biaya adalah setiap kerugian pada kesejahteraan.  Jika di kombinasikan dengan lingkungan di dalamnya, memberikan pengertian bahwa penghitungan manfaat ekonomi berasal dari perbaikan lingkungan. Biaya yang dikeluarkan adalah pengurangan atas kualitas lingkungan.

Apabila kebersihan lingkungan diutamakan, harus ditetapkan nilai (value) untuk lingkungan.  Akan tetapi, mengingat lingkungan bersih tidak diperjualbelikan oleh pasar, maka uang tidak terlibat secara langsung. Padahal dalam mengestimasikan manfaat ekonomi, uang digunakan sebagai tonggak penghitungan. Nilai uang merupakan ukuran keuntungan dan kerugian masyarakat dari perubahan lingkungan, dengan kata lain uang dianggap sebagai tonggak ukuran yang paling sesuai.

Hanya saja mesti disadari bahwa terdapat hal dari keuntungan dan kerugian yang tidak dapat diukur dalam terminologi uang.  Sehingga, pengukuran terhadap keuntungan dan kerugian dalam terminologi uang tidak memiliki tujuan dan mendukung nilai lingkungan serta kebijakan lingkungan. Walaupun uang sudah sekian lama menjadi tonggak ukuran, tetap saja menimbulkan banyak pertanyaan.  Sebagai contoh, apa pentingnya menetapkan nilai uang pada manfaat beberapa sumberdaya alam dan lingkungan?. Karena sering kali disimpulkan bahwa hal seperti itu adalah “di luar jangkauan harga” atau “tanpa harga”. Terdapat dua interpretasi yang dapat ditempatkan pada gagasan bahwa sesuatu dianggap tanpa harga.

Interpretasi pertama adalah bahwa obyek yang tanpa harga adalah infinite (tidak penting) dalam nilai uang.  Apabila seniman berbicara tentang hasil seninya yang tanpa harga, tidak berarti mereka menganggap bahwa nilai seninya memiliki nilai yang tidak terhitung.  Maksudnya adalah nilai seninya unik dan tidak dapat dipertukarkan, yang dalam pelelangan seni dihargai sangat tinggi.  Refleksi sesaat akan mengindikasikan bahwa tidak seorangpun dapat atau ingin membayar harga yang tidak terhitung.

Demikian pula dengan sumberdaya alam dan lingkungan serta pelestariannya mempunyai nilai uang yang sangat besar, tetapi tidak seorangpun akan menilainya sebagai harga yang tidak berhingga.  Pernyataan tentang tidak mempunyai harga dengan nilai yang tidak berhingga sudah barang tentu menjadi tidak absah.

Interpretasi kedua lebih menarik, jika dipahami bahwa ada hal-hal di dalam kehidupan ini yang tidak dapat dihitung dengan nilai uang, adanya bagian dalam pemikiran kita yang menolak menetapkan dalam nilai uang, misalnya jiwa manusia.  Hal ini merupakan interpretasi yang lebih masuk akal dibandingkan dengan ungkapan seperti “diluar jangkauan harga”, keperdulian perlu diambil dalam aplikasinya.  Hal seperti jiwa manusia dapat dinilai misalnya melalui pengeluaran untuk menyelamatkan jiwa.  Dengan demikian, pada kasus-kasus lingkungan, walaupun masih terdapat keragu-raguan bahwa nilai uang tidak absah pada beberapa hal, realitasnya adalah pilihan harus diambil pada konteks kelangkaan sumberdaya.  Paling tidak, manfaat dari lingkungan bersih adalah manfaat ekonomi, yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Menjadi penting untuk menyadari bahwa ketidakhadiran pasar membuat proses penakaran (penilaian) ekonomi atas lingkungan menjadi lebih sulit, atau mungkin berarti tidak mungkin dilakukan. Hanya saja dalam konteks ini, ketidakhadiran pasar bukan berarti keuntungan ekonomi tidak terwujud.

Secara sederhana, apa yang ingin diketahui adalah berapa keinginan untuk membayar pelestarian atau perbaikan lingkungan. Hal ini secara langsung mengekspresikan kenyataan bahwa penilaian utama pembangunan ekonomi terletak pada sumberdaya alam dan lingkungan.

Penting diungkapkan bahwa perhitungan moneter dari keuntungan dan kerugian lingkungan dapat menjadi pendukung untuk pemihakan terhadap kualitas lingkungan.  Suatu jenis flora dan fauna menghadapi masalah kelangkaan akibat pembangunan, dinilai tinggi karena adanya ekspresi yang “vokal” terhadap hal ini.  Esensi hal ini adalah suatu ekspresi keinginan untuk membayar (willingness to pay) bagi pelestarian lingkungan, sehingga seseorang dapat memanfaatkannya dikemudian hari.

Pada kenyataannya, susah dipungkiri sistem ekonomi lebih mengutamakan telaahan jangka pendek dan mengabaikan aspek jangka panjang. Tapi perlu diingat bahwa rusaknya lingkungan, tidak hanya berdampak pada eksistensi dari lingkungan (makhluk di luar manusia) saja, tetapi jauh lebih besar pada kehidupan manusia itu sendiri,  mengutip ungkapan  Jidu Krishnamurti, filsuf India yang mendirikan banyak lembaga pendidikan kemanusiaan di India, Eropa dan USA,  If lose touch with nature you lose touch with humanity. Bila kita kehilangan kontak dengan alam, kita kehilangan kontak dengan kemanusiaan.  Lebih tegas diungkap oleh seorang aktivis lingkungan yang masyur, Kenneth Boulding (1990): “We need to make no apology. For thingking about world ecology. For mere economics. Is stuff for the comics. Unless we can live with biology How can we achieve the facility to encourage some sustainability when all that it means, when it come to our genes, is to over expand our virility “.

Trianda Surbakti

Share
Published by
Trianda Surbakti

Recent Posts

Kunjungan Sosial Kopkar TPK Koja Ke GMMI

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…

1 day ago

Pelindo Panjang: Optimalisasi dan Sinergi, Kunci Pertumbuhan Positif

Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…

2 days ago

IPC TPK Catat 850 Ribu TEUs di Triwulan I 2026

Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…

3 days ago

Masa Lebaran 2026, Arus Penumpang Pelindo Meningkat 14,14%

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…

4 days ago

Pelabuhan Kita Masih Berdiri di Atas Fondasi yang Rapuh

Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…

5 days ago

STATE CAPITALISM CHINA Pelajaran Penting bagi Transformasi BUMN Indonesia di Era Danantara

Ditulis oleh: Arief Poyuono Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang berada di kisaran 5 %…

7 days ago