Laksda TNI A. Taufiq. R
MNOL, Jakarta – Kendati tingkat kejahatan di Selat Malaka kurun waktu satu terakhir ini menurun drastis bahkan tidak ada sama sekali, namun Doktrin Komandan US Pacific Command Thomas B Fargo pada tahun 2004 silam belum dicabut hingga kini. Doktrin yang menyatakan bila negara pantai tidak mampu mengamankan Selat Malaka, maka US Navy dalam hal ini US Pacom akan bertindak mengamankan selat teramai tersebut.
“Sampai dengan saat ini Doktrin Fargo itu belum dicabut, artinya bisa saja sewaktu-waktu kalau terjadi kejadian di Selat Malaka dan kita tidak mampu atasi maka mereka akan masuk. Itu sangat berbahaya dan harga diri kita sebagai negara berdaulat terkoyak,” ungkap Pangarmabar Laksda TNI A.Taufiq.R di ruang kerjanya, Koarmabar, Jakarta (13/7).
Menurutnya, meskipun saat ini sejak kepemimpinannya di Kotama TNI AL yang bermotto Ghora Wira Madya Jala’ itu Selat Malaka relatif aman namun tetap menjadi sorotan dunia. Pasalnya, 70 persen pelayaran dunia bergantung pada selat yang memisahkan Pulau Sumatera (Indonesia) dengan Semenanjung Malaya (Malaysia) tersebut.
Data di International Maritime Organization (IMO) terus meng–up date setiap saat perkembangan keamanan di selat yang masuk wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI I) tersebut. Maka dari itu, lulusan AAL tahun 1985 itu sejak dilantik menjadi Pangarmabar awal 2015 lalu fokus mengamankan selat itu.
“Kalau saya dulu ketika menjadi Komandan KRI Karel Satsuit Tubun-356 secara taktis berhasil membebaskan sandera di Selat Malaka yang dibajak oleh gerombolan Separatis Aceh, kini saya ketikan menjadi Pangarmabar menyusun desain operasi yang tepat untuk mengamankan selat ini,” paparnya.
Alhasil, dirinya menginisiasi pembentukan Tim Western Fleet Quick Respons (WFQR) dengan mengandalkan kecepatan dan ketepatan saat menindak pembuat pelanggaran di Selat Malaka. Tim tersebut ditempatkan di setiap Lantamal yang ada di bawah jajaran Koarmabar.
Untuk Lantamal yang mencakup daerah rawan seperti Selat Malaka, seperti Lantamal I Belawan dan Lantamal IV Tanjungpinag, maka Tim WFQR diperbanyak.
“Kalau sebelumnya kita patroli menggunakan KRI di Selat Malaka otomatis mudah ketahuan dan lama dalam pengejaran. Sedangkan saat ini lewat Tim WFQR kita lebih menggunakan KAL, Reader Boat, Searader, pasukan Denjaka, dan Kopaska,” bebernya.
TNI AL sebagai matra dalam TNI yang berwenang untuk melakukan penegakan hukum di laut diberi keleluasaan untuk menindak para pelaku kejahatan di laut hingga ke darat. Tentunya dengan berkoordinasi terlebih dahulu dengan instansi-instansi terkait seperti Kejaksaan, Kepolisian, Bea Cukai dan lainnya.
“Sejauh ini nggak pernah saya dengar terjadi masalah dengan instansi lainnya di lapangan, karena kita sudah melakukan sesuai prosedur,” tandasnya.
Lebih lanjut, pria asal Sukabumi itu menilai pemberitaan media baik nasional maupun internasional yang kerap memberitakan kerawanan Selat Malaka membuat para pelaut yang melintasi selat itu dihinggapi rasa ketakutan. “Sehingga ada kejadian kecil pun mereka langsung melapor ke IMB (International Maritime Beureu-red),” keluhnya.
Hal itu yang menyebabkan Selat Malaka terus menjadi sorotan dunia, terutama negara-negara yang berkepentingan dengan jalur perekonomiannya seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Maka dari itu US Navy telah mewanti-wanti dengan kondisi itu, yang tentunya juga terselubung misi politik di kawasan Asia Tenggara.
Taufiq yang saat ini resmi menjadi Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal berpesan kepada penggantinya agar tetap fokus mengamankan selat tersebut. Karena Doktrin Fargo yang belum dicabut hingga saat ini bisa menjadi momok bagi kedaulatan NKRI di Selat Malaka.
Pada tahun 2004, langkah untuk mengantisipasi Doktrin Fargo itu TNI AL yang dipimpin oleh Laksamana TNI Bernard Kent Shondakh saat itu telah melakukan Trilateral Coordinated Patrol (TCP) bersama Malaysia dan Singapura. Langkah itu boleh dibilang berhasil guna meng-counter kepentingan negara adi daya di Selat Malaka.
Kegemilangan Laksda Taufik di selat itu kala membebaskan pembajakan kapal tanker turut meningkatkan kepercayaan dunia kepada Indonesia khususnya TNI AL. Wajar jika di masa itu, Kasal Laksamana Bernard Kent Shondakh menjadikannya sebagai golden boy.
“Saya mengabdi bukan karena untuk mengejar pangkat dan jabatan apalagi pujian. Yang saya kejar hanya pengabdian dan prestasi, itulah kebanggan buat saya,” pungkas Taufiq merendah.(Tan)
Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…
Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…
Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…
Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…
Ditulis oleh: Arief Poyuono Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang berada di kisaran 5 %…