Categories: HLOpiniTerbaru

Reklamasi, ‘Jangan sampai Lautan Merindukan Daratan’

Oleh: Ahmad Pratomo*

Gambar: Ilustrasi Reklamasi Teluk Jakarta (KIARA)

MN – Reklamasi itu pada dasarnya bukti kerusakan yang dilakukan manusia terhadap alam. Penulis ingat betul apa yang dikatakan budayawan Aceh kelahiran Simeulue, Ampuh Devayan beberapa waktu yang lalu. Katanya, “Bangunan yang dibangun permanen di bibir pantai adalah bentuk kejahatan pada laut. Jangan salahkan laut jika lautan merindukan daratan”.

Petikan kalimat itu bukan hanya sebagai ilustrasi semata tentang keseimbangan alam, tetapi ada daya kosmik yang kuat dari suatu habitat dan hubungan manusia dengan alamnya.

Pernyataan yang dilayangkan Ampuh Devayan itu, tentu mengingatkan penulis pada permasalahan reklamasi Teluk Jakarta yang nyatanya juga menimbulkan problematika. Baik itu pada ekologi, ekonomi, politik bahkan kultural relasi budaya masyarakat nelayan setempat.

Pertarungan Pilkada DKI menyeruakkan kembali isu reklamasi Teluk Jakarta yang sudah menjadi isu nasional ini. Tentunya pernyataan Abang Ampuh ini bisa menjadi justifikasi kultural bagi pasangan calon gubernur yang dengan tegas menolak reklamasi Teluk Jakarta. Begitu juga bagi pasangan calon yang mengusung reklamasi sebagai program utamanya.

Pertarungan paradigma hingga pertarungan keyakinan bertemu di dalam kancah Pilkada DKI yang terdapat hubungan tarik menarik antara yang pro dan kontra reklamasi.

Tidak dapat disangkal pula jika isu reklamasi menjadi sedemikian besar karena benefit reklamasi bagi para pemodal. Kasus ini juga menyeret sejumlah nama politikus dan orang pemodal besar lainnya ke dalam pusaran isu yang lebih besar.

Penulis memandang bagi yang mempertahankan reklamasi, alasannya hanya soal bagaimana modal dari investor yang sudah masuk itu dapat menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan kata lain sudah kepalang tanggung kendati aturannya belum memadai.

Jadi sudah jelas sekarang bahwa pertarungan pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada putaran kedua nanti akan berujung pada pertarungan pro kapitalis yang mengusung konsep kemaritiman Jakarta dengan pro kerakyatan yang juga mengusung konsep kemaritiman Jakarta (masyarakat nelayan-red). Namun nyatanya, isu reklamasi ini juga sebagai langkah besar untuk menjaga kedaulatan kita, bukan hanya sisi etnisitas nilai masyarakat adat Jakarta tapi juga pada batas-batas administrasi negara.

Kebijakan reklamasi Teluk Jakarta tak ubahnya kebijakan bercorak Gubernur Jenderal pada masa kolonial. Suasana kebatinan itu pula yang membawa kewaspadaan tingkat tinggi kala melihat pengalaman Singapura yang notabene merupakan daerah pemukiman orang-orang Melayu bernama Tumasik, yang kini sudah berganti wajah.

Kesadaran perlawanan dari arus bawah harus tetap terjaga karena bukan hanya pembelaan terhadap masyarakat nelayan saja, tetapi juga pembelaan kita terhadap kesatuan dan marwah bangsa Indonesia. Masih banyak jalan lain menuju modernisasi tanpa reklamasi. Dan masih banyak ribuan pulau yang belum terbangun, lalu kenapa harus membuat pulau buatan lagi?

Jakarta adalah bagian dari sejarah maritim Nusantara. Teluk Jakarta ada di dalam bingkai kesejarahan itu dan reklamasi jangan sampai menjadi sarana penghancuran terhadap nilai-nilai sejarah itu sendiri.

Di teluk inilah, Fatahillah, Sang Senopati Demak menghalau laju armada Portugis untuk misi ekspansi di Sunda Kelapa. Di teluk ini pula saksi bisu kedigdayaan Jayakarta menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara Selat Sunda dan Selat Malaka, serta antara Malaka dengan Maluku, yang menjadi rute Jalur Rempah Nusantara.

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk tidak menolak reklamasi. Cukup segarkan ingatan kita tentang apa yang diutarakan oleh seorang budayawan Aceh berikut ini, “Jangan Sampai Lautan Merindukan Daratan”.

*Penulis adalah Ketua Bidang Budaya dan Sejarah Maritim Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI)

 

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

INSA Jaya Gelar RAC Ke XVIII, Andi Patonangi Ketua Masa Bakti 2026 – 2031

Jakarta (Maritimnews) - Setelah menjabat pengurus antar waktu (PAW), Andi S Patonangi ditetapkan secara aklamasi…

23 hours ago

RUPST Pelindo 2025: Kontribusi ke Negara Rp7,81 Triliun

Jakarta (Maritimnews) – Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 PT Pelabuhan…

4 days ago

IPC TPK Jambi Dukung Ekspor 19,2 Ton Kopi Kerinci ke Mesir

Jambi (Maritimnews) - Dalam rangka mendukung kelancaran ekspor kopi robusta asal Kerinci ke negara Mesir…

4 days ago

Januari – Mei 2026, Arus Penumpang Pelindo Regional 4 Melesat 10,2% YoY

Makassar (Maritimnews) - PT Pelindo (Persero) Regional 4 mencatat trafik arus penumpang selama periode Januari–Mei…

6 days ago

Januari – Mei 2026, Throughput IPC TPK Capai 1,49 Juta TEUs

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat pertumbuhan arus petikemas sebesar 6,1 persen…

7 days ago

Direct Baru di IPC TPK, MV AS Carolina ke Tiongkok Selatan

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat konektivitas logistik internasional melalui pelayanan perdana…

1 week ago