Published On: Mon, Jul 17th, 2017

Laut jadi Surga peredaran Narkoba, Pengamat: Perlu peran Intelijen Maritim yang terintegrasi

Ilustrasi: Peran Intelijen Maritim. (Foto: Pinterest)

MN, Jakarta – Terkait penggerebekan 1 ton sabu di di Anyer, Banten, Rabu (12/7) lalu yang merupakan penangkapan terbesar dalam sejarah penindakan narkoba telah menjadi PR (Pekerjaan Rumah-red) besar pemerintah, bahwa laut masih jadi zona nyaman bagi peradaran narkoba. Hal itu tentu menjadi sorotan pengamat intelijen dan militer Dr Susaningtyas NH Kertopati.

Menurutnya peran intelijen maritim dari setiap institusi yang berwenang di laut harus terintegrasi. Karena hingga saat ini isu ego sektoral masih marak di antara lembaga yang memiliki kewenangan di laut.

“Pentingnya Network Centric Warfare (NCW) sebagai sistem komando dan pengendalian yang fokus pada penggunaan teknologi informasi mutakhir dan berbasis komputer  pada kapal, pesawat,  pangkalan, dan satuan lainnya yang terintegrasi dalam satu sistem komputer atau digital,” ujar Nuning biasa disapa di Jakarta (17/7).

Konsep NCW  dikenal juga sebagai technical intelligence, yakni metode pengumpulan informasi melalui penggunaan teknologi untuk menghasilkan current intelligence/real-time intelligence dalam model keamanan maritim.

Dimensi informasi telah dimasukkan sebagai dimensi penting dalam strategi pertahanan dan keamanan negara, selain dimensi darat, laut, dan udara. Jika dimensi itu berjalan baik di sistem keamanan kita, tidak mungkin kapal yang mengangkut 1 ton sabu itu bisa masuk dan menurunkan barangnya di Anyer.

Lanjut Nuning, optimalisasi peran TNI AL dan Bakamla cukup tinggi dalam memberantas peredaran ini. Seharusnya kapal pengangkut narkoba sudah bisa dideteksi oleh TNI AL sejak masih ZEEI dan Landas Kontinen.

“Pihak TNI AL pun bisa diberi kewenangan menangkap kapal yang membawa narkoba. BNN sendiri semestinya memasukan unsur TNI dalam lembaganya,” tambah mantan Anggota Komisi I DPR RI tesebut.

Salah satu parameter yang menentukan kekuatan dalam keamanan maritim tersebut adalah kemampuan pendeteksian serta memberikan reaksi terhadap ancaman secara efektif dan efisien

‘Di sini fungsi Intelijen Maritim sebagai first line of defense and security,” ulasnya.

Oleh karena itu, NCW sebagai perwujudan Single Agency Multi Task yang terintegrasi, efisien dan terpadu untuk memudahkan koordinasi dalam pengumpulan data (data gathering) dan respon terhadap ancaman menjadi penting dalam konteks penguatan intelijen maritim.

“Sudah pasti kita harus menghindari adanya ego sektoral. Kemudian transformasi Intelijen AL (Naval Intelligence-red) yang terbatas pd dimensi pengamanan dan sektoral menjadi Intelijen Maritim yang mampu menyediakan informasi menyeluruh kepada pemangku kepentingan maritim nasional di lintas sektoral, termasuk BNN,” papar Nuning.

Jadi perangkat itu seharusnya sudah ada saat ini tinggal dioptimalkan dan diintegrasikan. Sehingga tidak perlu keluhan Kepala BNN yang menyatakan pihaknya perlu fasilitas lagi untuk menanggulangi peredaran narkoba lewat laut.

 

(Adit/MN)

 

 

 

 

 

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Silahkan isi kode captcha

alterntif text
alterntif text
alterntif text
Connect with us on social networks
Recommend on Google
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com